Asih

0
(0)

Oh Asih, naas betul nasibmu.

“Kamu harus mau dinikahin sama bos Ayah! Kamu tau Asih, anak durhaka itu tempatnya di neraka!” Ayah Asih terus memukuli Asih.

Sambil menyeka air mata dan darah yang terus keluar dari hidungnya, Asih memohon, “Yah, minimal, minimal banget aku mau beresin sekolah dulu sampai UN, Ayah ampun!”

“Kamu ini, kita tuh orang miskin, kamu percuma sekolah juga. Punya ijazah SD aja udah cukup! Jangan kebanyakan mimpi, Asih!” teriak ayah Asih.

Pak kades dengan tamunya dari Jakarta, kebetula melihat adegan Asih yang sedang dipukuli oleh ayahnya di sebelah pos ronda.

“Ada apa ini, sabar Pak, sabar.” Pak kades menahan ayah Asih, lalu tamunya, yang bernama Kevin membantu Asih untuk berdiri.

“Kalian jangan ikut campur urusan keluarga saya!” ucap ayah Asih.

“Tapi ini udah termasuk kekerasan, saya sebagai aparat yang bertugas di desa ini, tidak bisa membiarkan kejadian seperti ini. Anak Bapak bisa meninggal kalau terus dipukuli seperti itu!” ucap Pak kades.

Hujan yang deras mengalirkan air mata dan darah Asih, tanpa sadar, Kevin pun ikut menangis melihat keadaan Asih. Sebelumnya, pak Kades sudah menceritakan keadaan di desa ini. Desa yang terletak cukup jauh dari perkotaan, di mana kehidupan masih belum tersentuh peradaban masa kini. Masih ada banyak anak-anak di bawah umur yang terpaksa menikah muda karena tuntutan keluarga. Di desa ini hanya terdapat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama saja. Sangat jarang ada anak yang melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi, karena SMA terdekat saja berjarak 10km.

“Nak Kevin, biar saya yang urus ini kamu tolong antar Asih ke rumahnya, rumahnya sekitar 100 meter dari sini, di sebelah kiri, cat rumahnya berwarna hijau tua.”

Setelah dibawa ke kantor kepala desa, lalu disidang oleh beberapa polisi dan beberapa aparat desa, ayah Asih setuju untuk menunda pernikahan Asih dengan bosnya, yang ternyata adalah seorang rentenir yang meminjamkan uang yang cukup besar untuk ayah Asih. Ayah Asih ini memiliki kebiasaan yang buruk, tidak suka bekerja, tapi malah suka berjudi sabung ayam. Ayah Asih terpaksa menukar Asih dengan utang-utangnya, hingga membuat Asih kabur dari rumah, dan menjadi penyebab Asih dipukuli oleh ayahnya juga.

Keesokan harinya, walaupun tubuh Asih masih terasa sangat sakit, akan tetapi Asih tetap bersemangat untuk pergi ke sekolah. Tiga bulan lagi akan memasuki masa-masa ujian nasional, Asih tidak ingin ketinggalan pelajaran.

“Selamat pagi, anak-anak. Mulai hari ini, kelas kalian akan kedatangan guru baru dari Jakarta.” Bu Tia, wali kelas kelas tiga ini mempersilakan seseorang masuk ke dalam ruang kelas.

Semua murid langsung menyambut riang guru baru mereka, yang sebenarnya adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang melaksanakan pengabdiannya di desa ini.

Asih terkejut bukan main saat melihat Kevin masuk ke dalam ruangan kelasnya. Dia merasa sangat malu dan tidak enak, karena seingatnya, tadi malam ayahnya ikut memaki Kevin juga.

Setelah kelas selesai, Kevin menghampiri Asih yang duduk di bangku paling belakang, “Asih, kenapa kamu diem aja pas saya ngajar tadi? Materi yang saya ajarkan, kamu udah ngerti semuanya?”

“Udah Pak, terima kasih,” ucap Asih.

“Baiklah kalau begitu,” jawab Kevin.

Seminggu berlalu, dan Asih masih saja tetap diam, tak banyak bicara. Sebenarnya, Kevin tahu kalau Asih sebenarnya anak yang aktif dan pintar. Akan tetapi, entah kenapa pada saat ia mengajar, Asih selalu diam saja.

Sesaat sebelum pulang sekolah, bu Tia berbicara kepada Asih, “Asih, mau ada penelitian yang membutuhkan narasumber dari murid, jam dua nanti kamu bisa datang ke kantor guru?”

Asih menyetujui permintaan bu Tia, lalu pergi ke kantor guru untuk memenuhi permintaan bu Tia. Asih terkejut saat melihat orang yang akan mewawancarainya adalah Kevin. Namun, kecanggungan Asih segera berlalu, ia tak lagi canggung saat berhadapan dengan Kevin. Mungkin karena pembawaan Kevin yang santai juga, jadi Asih bisa lebih nyaman untuk berkomunikasi dengannya.

Kevin semakin sadar, Asih sebenarnya sangat pintar, anak sepintar Asih sangat disayangkan kalau harus menikah muda lalu mengubur cita-citanya begitu saja.

Sejak saat itu, Asih sering bertemu dengan Kevin di mess yang disediakan untuk Kevin. Asih sering diam-diam datang hanya untuk membaca buku-buku milik Kevin.

“Pak, suatu saat nanti aku mau jadi guru, tapi.” Asih terdiam.

Kevin yang sedang membaca buku juga ikut terdiam, lalu menatap Asih, “Tapi kenapa, Asih?”

“Tapi, aku cuma bercanda, hehehe,” ucap Asih dengan canggung.

Kevin mengerti apa yang dirasakan oleh Asih, dengan suara yang lembut, Kevin berkata, “Asih, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, kamu pasti bisa. Dan kamu, enggak akan dihadapkan dengan pernikahan yang tidak kamu inginkan. Bapak yakin.”

Asih tak begitu menghiraukan ucapan Kevin. Karena bagi dirinya, ucapan orang lain tidak akan bisa menyelamatkan dirinya dari nasib yang buruk ini. Semua orang, hanya bisa menenangkannya, tanpa bisa menolongnya.

Tak terasa, tiga bulan pun berlalu. Ujian nasional sudah usai, dan masa bakti Kevin pun selesai. Sejak Kevin dekat dengan Asih, Asih merasa dirinya begitu aman. Tak akan ada yang bisa menyakitinya, termasuk ayahnya.

Saat ini, Asih sudah menginjak usia 17 tahun. Tidak usah terkejut, di desa dengan akses informasi yang begitu rendah, anak-anak di desa ini biasanya sangat telat sekali masuk sekolah. Jadi, tidak heran kalau anak SMP bisa seumuran dengan anak SMA di kota-kota sana.

Suatu hari, Asih ingin membawakan makan malam terakhir untuk Kevin dan juga sebuah surat sebagai kenang-kenangan. Namun, bukan Kevin saja yang ia dapati di mess Kevin, melainkan ada perempuan lain yang tidak lain adalah teman kelasnya, Reni. Asih melihat Reni sedang mencium bibir Kevin. Entah perasaan apa yang berkecamuk di hati Asih. Asih paham sekali akan status dirinya dengan Kevin yang hanya sebagai murid dan guru saja. Akan tetapi, rasanya sakit melihat mereka berdua seperti itu.

Kevin menyadari keberadaan Asih, oleh karena itu ia langsung mendorong Reni lalu pergi mengejar Asih. Namun sayang sekali, Kevin tak berhasil mengejar Asih.

Asih menghabiskan malam ini dengan air mata yang terus mengalir dari mata indahnya. Keesokan paginya, Asih terbangun dengan tatapan kosong. Hari ini, adalah hari terakhir bagi Kevin di desa ini. Asih yang tadinya bersemangat untuk mengantarkan kepulangannya, sekarang tidak begitu bersemangat lagi. Asih mulai bisa menerima takdir ini. Seperti janjinya dulu kepada ayahnya, setelah ujian selesai, Asih rela untuk dinikahkan dengan pria paruh baya itu.

Kevin pun pergi tanpa sepatah kata…

Satu bulan berlalu sejak kepergian Kevin, dan hari ini adalah hari pernikahan Asih dengan pria paruh baya si rentenir itu.

Asih sudah tak bisa menangis lagi, terlalu sakit, terlalu sedih.

“Asih, maafin ibu gak bisa bikin kamu bahagia. Maaf Nak, ternyata ibu gak bisa bantu kamu.” Ibu Asih menangis sambil merias wajah Asih.

“Bu, sekarang hanya Tuhan yang bisa bantu kita. Aku sedih, dari kecil sering liat Ibu banting tulang, gak jarang disiksa ayah, dan sekarang aku akan menghadapi takdir seperti itu lagi. Bu, Tuhan sayang kan sama kita? Pasti ada hari yang cerah untuk kita kan suatu hari nanti?” tanya Asih.

Ibu Asih tak bisa berkata-kata lagi, ia hanya bisa menangis saat mendengar ucapan putri semata wayangnya ini.

Tepat saat Asih akan keluar dari kamar ini, terdengar ketukan dari jendela kamar itu.

Asih segera membuka jendela kamarnya yang langsung menghadap ke jalan, ia melihat Kevin dengan mobilnya!

“Asih, sama Ibu, cepet keluar, ikut saya ke Jakarta!”

Tanpa banyak berpikir, Asih segera mengajak ibunya untuk ikut kabur bersama Kevin, ke kota. Tanpa tahu apa yang akan terjadi berikutnya, Asih bertekad untuk mengubah hidupnya. Setidaknya, ia sudah meninggalkan neraka di rumah itu …

Tamat

Rate cerita ini yuk Kak!

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *