Eps 9 : Iblis Berjubah Malaikat

0
(0)

Sebelum baca, ayo like halaman facebook dan subscribe youtube kami agar tidak ketinggalan info update!! ((PLEASE KLIK SALAH SATU IKLANNYA YA KAKAK, SEBAGAI PENGGANTI KOIN, AGAR AWNOVEL BISA TERUS BERKEMBANG, LAFYUU :*))

“Sialan! Bangsat!” Teriak Aldi sambil mengambil sebuah foto yang tergeletak di sebuah meja.

Aldi mencoba menenangkan dirinya. Lalu, mulai melihat beberapa foto lainnya.

“Astagfirullah, ya Allah, kuatkan hambamu ini ya Allah.” Aldi tak kuasa menahan air matanya saat melihat beberapa lembar foto yang berisikan foto Putri dan Pak Tarno.

Aldi mulai melantunkan doa-doa sambil membakar sesajen-sesajen di ruangan itu.

DUARR!

Guci yang berisikan air bunga pecah, meledak sampai membuat Aldi sangat terkejut.

Aldi semakin mengencangkan suaranya, tetapi, gangguan-gangguan halus mulai menghantuinya.

“Hahahahaha hahahahaha.”

Suara asing dan samar terdengar. Tak lama kemudian, Aldi mulai merasakan goncangan gempa.

“Ya Allah, maha pemilik segalanya, Ya Allah, Tuhan yang masa besar, tidak dengan kalian! Makhluk hina! Saya tidak takut sama sekali!” Aldi berteriak sambil terus berdzikir.

Aneh tapi nyata, api yang membakar meja yang berisikan sesajen itu seolah membentuk tubuh manusia. Dan, tubuh manusia itu … Berbentuk bapak Aldi.

“Manusia bodoh! Bodoh dasar! Harusnya kau ikut saja denganku, hidupmu pasti makmur! Hina!” Terdengar suara dari sumber api itu.

Pada detik ini juga, dua orang laki-laki masuk melalui pintu rahasia tadi.

“Nak Aldi, kemari!” Ucap salah satu laki-laki itu.

Api semakin membesar, asap semakin membuat pandangannya berkurang, Aldi sama-sama melihat laki-laki yang memanggilnya itu. Tanpa banyak berpikir, Aldi segera menghampiri kedua laki-laki itu. Setelah itu, Aldi ditarik ke lantai atas dan pintu itu pun ditutup. Api tak lagi membesar saat sumber udaranya terhalang.

Setelah memulihkan dirinya, Aldi melihat kedua laki-laki yang menariknya dari ruangan rahasia itu.

“Bapak ini? Umh,” Aldi mencoba mengingat-ingat, “Ustadz Hendra?”

“Iya, kamu gak apa-apa? Ini minum dulu.” Ucap Ustadz Hendra sambil memberikan botol minuman kepada Aldi.

“Makasih Tadz, Ustadz kenapa bisa ke sini? Umh, maaf, ini siapa ya?” Tanya Aldi menunjuk laki-laki yang datang bersama Ustadz Hendra.

“Saya Ridho, dokter yang menangani Putri tempo hari. Saya pernah liat kamu di rumah sakit, masih ingat?” Tanya Pak Ridho.

Aldi mencoba mengingat-ingatnya, lalu akhirnya ingat juga, “Iya Pak, saya ingat. Makasih ya sudah selamatkan saya.”

“Sama-sama. Pak Ridho ini sahabat saya saat mondok di pesantren dulu. Kebetulan malam ini, beliau lagi berkunjung ke rumah saya. Lalu, Putri menelepon saya menceritakan semuanya. Sebelumnya, mohon maaf ya saya lancang langsung masuk ke rumah Nak Aldi. Saya enggak akan masuk begitu saja, kalau aura …” Ustadz Hendra terdiam sejenak.

“Kalau apa Pak?” Tanya Aldi.

“Kalau aura rumah ini tidak panas. Bukannya saya suudzon, tapi,” ustadz Hendra kembali meragu.

“Saya ngerti Pak. Saya udah sering denger cerita-cerita tentang bapak saya. Saya juga baru tau sekarang kalau bapak ternyata gini.” Aldi tertunduk, tak kuasa menahan rasa sedih dan malunya.

Pak Ridho pun akhirnya memecah keheningan yang terjadi di ruangan itu.

“Baik, sepertinya api di dalam sana sudah reda. Kalau barang seperti itu, gak bisa dibakar sembarangan. Harus ada doa-doa pengantar, biar terbakar secara fisik dan wujud kasat matanya,” Pak Ridho menepuk pundak Aldi, “Nak Aldi siap? Proses yang mau kita lakuin membutuhkan mental yang kuat. Jangan sampai melamun, jangan sampai gak fokus. Selagi ada waktu, kita ruqyah semuanya.”

Pak Ridho menatap mata Aldi, dan Aldi pun berteriak, “Arrghh panas tangan Bapak!”

Aldi mencoba melepaskan tangan Pak Ridho dari pundaknya, “Lepas Pak, panas Pak!”

Pak Ridho tak melepaskan tangannya sama sekali, ia terus menatap Aldi sambil membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Dua menit kemudian, Aldi tersungkur lemas, tak bisa lagi duduk tegak.

“Alhamdulillah Tadz, badan nak Aldi udah bersih sekarang.” Ucap Pak Ridho pada Ustadz Hendra.

“Alhamdulillah, sekarang, minum lagi airnya ya. Kalau sudah kuat, ayo kita mulai ruqyahnya.” Ucap Ustadz Hendra.

Aldi memejamkan matanya sejenak. Ia merasa heran, tubuhnya terasa sangat lemas namun sangat tenang. Tenang, yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Aldi segera membuka matanya, setelah meminum air untuk kedua kalinya, ia berdiri dan berkata, “Mari Pak, saya sudah siap.”

Aldi memimpin mereka masuk kembali ke ruangan bawah tanah itu.

Ruangan yang berukuran kurang lebih 2×3 meter ini hanya berisikan bantal untuk tempat duduk dan meja yang terdapat sesajen dan foto-foto di atasnya. Mereka bertiga berdiri mengelilingi meja itu, lalu mulai membacakan doa-doa. Aldi ikut membaca doa khusus yang diberikan oleh Ustadz Hendra padanya. Lagi-lagi, hal aneh kembali terjadi, kertas yang berisikan doa-doa yang dipegang Aldi terbakar secara tiba-tiba. Namun, Ustadz Hendra memberi isyarat untuk menghiraukannya, lalu memberikan salinan kertas yang baru.

Selama proses pembersihan ini, tak jarang mereka mendapatkan gangguan. Sampai pada akhirnya, satu gangguan yang paling berat menghampiri Aldi. Ia mendengar bisikan, “Baca doa lagi, Putri mati sekarang juga.”

Bersambung…

Terima kasih sudah membaca novel kami. Untuk menyemangati author agar terus update, jangan lupa share, komen dan klik salah satu iklan di web kami(Hehehe lumayan bisa beli cemilan untuk menemani author nulis XD) 

Eps 8 Eps 10

Rate cerita ini yuk Kak!

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

2 thoughts on “Eps 9 : Iblis Berjubah Malaikat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *