Kanaya – Bab 5 Pencarian

0
(0)

Sebelum baca, ayo like halaman facebook dan subscribe youtube kami agar tidak ketinggalan info update!! ((PLEASE KLIK SALAH SATU IKLANNYA YA KAKAK, SEBAGAI PENGGANTI KOIN, AGAR AWNOVEL BISA TERUS BERKEMBANG, LAFYUU :*))

Aku mengikuti Kanaya dalam diam. Langkahku begitu berhati-hati agar ia tidak menyadari jika aku mengikutinya. Sejauh ini berhasil. Justru langkah Kanaya yang terlihat tergesa-gesa saat itu. Ia bergegas masuk ke area pemakaman tanpa menunggu Ibunya datang.

Tanpa basa-basi, akupun menyusulnya masuk. Kulihat dia berjalan ke arah makam kedua Orang Tuaku. Aku masih terus mengikutinya dan bertemu Pak Edwin di tengah jalan.

“Nak Dyan, kamu kembali lagi,” sapa Pak Edwin ramah.

“Stt, jangan keras-keras Pak,” ucapku sambil menempelkan jari telunjuk di depan bibir. Pak Edwin mengangguk mengerti.

“Nak Dyan ada apa kemari?” bisik Pak Edwin kali ini. “Saya lihat sudah empat hari ini Nak Dyan begitu rajin berkunjung sendirian,”

“Sebenarnya saya ingin bertemu dengan mereka yang sudah berziarah ke makam Orang tua saya,” Dyan mengutarakan maksudnya. “Kebetulan hari ini mereka datang,”

“Oh iya benar. Mereka baru datang berkunjung lagi,” Pak Edwin membenarkan. “Kalau begitu, temuilah mereka. Sebelum mereka keburu pulang,”

“Terimakasih Pak,”

Kini aku bergegas menyusul ke makam Orang Tuaku. Kupikir aku berhasil menemui mereka. Namun rupanya aku salah. Tante Ratmi dan Kanaya begitu licin bagaikan seekor belut. Keberadaannya begitu cepat menghilang. Begitu aku sampai ke makam, tidak kutemui keberadaan mereka. Yang ada hanyalah makam basah yang bertaburan bunga.

Kini aku mencoba memutar arah, berusaha menyusul mereka ke luar gerbang. Namun yang kulihat adalah mobil berwarna putih yang sudah berjalan menjauh dengan cepat.

“Sial,” gerutuku sambil menghentakan kaki beberapa kali ke tanah.

Sebetulnya itu adalah pertanda agar aku menyerah. Mungkin Tuhan ingin berkata jika lebih baik aku melupakan rencana gilaku dan fokus dengan kehidupanku saja. Tapi hatiku terus berkata jangan. Aku harus tetap mencarinya dan menemukan fakta yang masih tersembunyi.

Pada akhinya di keesokan harinya aku berniat untuk kembali ke makam. Kali ini aku tidak sesemangat biasanya. Aku berusaha menegarkan hatiku jikalau hari ini aku kembali gagal menemuinya. Aku duduk dengan lunglai di Busway itu. Seperti kemarin, suasana di dalam Busway cukup hiruk pikuk dipenuhi oleh penumpang. Bahkan beberapa penumpang sampai harus berdiri berpegangan pada penyangga tangan.

Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba. Saat itu Kanaya masuk ke dalam bus. Ia terlihat begitu bingung karena kondisi di dalam bus yang ramai oleh penumpang. Ia melihat ke sana kemari namun tidak ada kursi yang kosong. Hingga dengan terpaksa, ia pun memilih untuk berdiri sambil berpegangan di penyangga tangan.

Aku teramat kasihan melihatnya. Aku ingin bertukar posisi dengan dia. Biar aku saja yang berdiri dan dia yang duduk di kursiku. Namun itu tidak mungkin bisa kulakukan mengingat penuhnya Busway saat itu. Akhirnya aku mencoba mengamati dia. Sesekali menoleh ke belakang untuk mengamatinya.

Kanaya saat itu terlihat tidak nyaman. Aku terus mencoba mengamatinya berkali-kali. Kupikir ada hal yang tidak beres karena makin lama Kanaya terlihat semakin tidak nyaman dan ketakutan. Tubuhnya menggigil dan air mata mulai membanjiri wajahnya. Tiba-tiba ia berusaha merangsek keluar kerumunan. Ia mencoba turun dari Busway yang sedang melaju. Aku yang panik berusaha mengikutinya. Aku merasa bingung karena dia turun sebelum tujuan.

Kondektur pada akhirnya menurunkan mereka. Kanaya langsung berlari menjauh. Refleks aku langsung mengejarnya. Kutangkap tangannya. Ia meronta-ronta berusaha melepaskan dirinya.

“Lepasin! Jangan sentuh!” teriak Kanaya keras dengan suaranya yang bergetar.

“Kanaya, tenang dulu!” seruku berusaha menenangkannya.

“Kamu siapa? Lepasin!” teriaknya makin menjadi.

“Ini Dyan. Kanaya, aku Dyan!” aku mencoba menjelaskan siapa diriku kepadanya.

Kanaya terdiam sejenak. Matanya masih sembab dan berkaca-kaca. Tak lama kemudian, ia menghambur ke arahku dan memelukku erat. Ia menangis terisak-isak.

“Dyan … Aku kangen banget sama kamu,” ucapnya lirih di sela tangisannya.

Aku kini merasa bertambah tidak karuan. Jantungku berdegup kencang tanpa henti. Ada rasa yang hilang hadir kembali ke permukaan. Menghamburkan batas antara rasa sakit dan bahagia. Aku bahagia karena Kanaya ada di hadapanku. Namun di waktu yang sama akupun merasakan rasa sakit.

Aku membiarkan Kanaya menumpahkan segala tangisnya. Setelah ia merasa cukup tenang, kamipun mencari tempat untuk menepi sejenak. Untungnya tak jauh dari sana ada sebuah bangku kosong di tepian jalan. Aku mencoba mengajaknya bicara.

“Apa yang terjadi di Busway?” tanyaku perlahan.

“Ada yang menyentuh tubuhku. Aku takut,” jawab Kanaya dengan tubuh yang menggigil. Aku yakin hal itu membuatnya takut sekarang. Karena mengingatkannya mengenai kejadian di masa lalu.

“Jangan takut, sekarang sudah tidak apa-apa,” aku berusaha menenangkannya.

“Iya,” Kanaya mengangguk cepat. “Aku lega bisa bertemu Dyan lagi. Sudah lama sekali. Aku rindu,”

Rasanya jantungku bagai dihantam sembilu. Semudah itu Kanaya mengatakan rindu. Setelah sebelumnya ia mati-matian menjauhiku. Kini ia datang kembali dan menguar luka lama.

Terima kasih sudah membaca novel kami. Untuk menyemangati author agar terus update, jangan lupa share, komen dan klik salah satu iklan di web kami(Hehehe lumayan bisa beli cemilan untuk menemani author nulis XD)   

Eps 4Eps 6

Rate cerita ini yuk Kak!

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 thought on “Kanaya – Bab 5 Pencarian”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *