Kanaya – Bab 6 Trauma

0
(0)

Sebelum baca, ayo like halaman facebook dan subscribe youtube kami agar tidak ketinggalan info update!! ((PLEASE KLIK SALAH SATU IKLANNYA YA KAKAK, SEBAGAI PENGGANTI KOIN, AGAR AWNOVEL BISA TERUS BERKEMBANG, LAFYUU :*))

Aku hanya bisa terdiam sambil menahan gejolak aneh di dadaku. Aku sama sekali tidak dapat merespon setiap apa yang dikatakan oleh Kanaya. Yang jelas sekarang Kanaya sedang meracau mengatakan betapa ia sangat bersyukur bertemu denganku lagi dan ia bahagia bisa bertemu lagi.

Aku bahagia. Tapi … Entahlah. Rasanya perasaan ini semu, seperti perasaan yang kurasakan kepadanya. Aku tidak tahu harus bagaimana menyikapi ini semua. Hatiku ternyata belum siap sepenuhnya.

Tiba-tiba handphone milik Kanaya berdering kencang. Kanaya segera meraih handphonenya dan menerima telepon yang masuk.

“Mama,” ucapnya. “Kanaya berhenti di jalan dulu. Jadi Kanaya akan lama sampai di makam,”

 Aku terdiam mendengarkan percakapan Ibu dan anak yang terjadi searah itu. Hingga akhirnya Kanaya menutup teleponnya. Kanaya tampak malu-malu ketika menyadari aku yang sedari tadi memperhatikannya.

“Maaf Dyan. Mama seperti biasa begitu khawatir kepadaku. Padahal aku sudah dewasa iya, kan? Tapi Mama tidak percaya kepadaku. Dan aku harus memberikan akses lokasi saat ini ke Mama,” Kanaya tertawa canggung kepadaku. Namun aku tidak membalas tawanya.

“Apa kabarmu?” tanyaku kemudian.

“Oh, kabar Kanaya baik. Dan sekarang jauh lebih baik karena bertemu dengan Dyan,” jawab Kanaya dengan senyum manisnya.

Entah mengapa yang aku lihat saat itu malah sebaliknya. Kilasan masa lalu menghantuiku. Tergambar saat Kanaya terlihat begitu kacau. Ia menangis, meronta, bahkan mengusirku dengan kasar. Aku berusaha mengenyahkan pikiran itu. Namun pikiran tersebut terus menerus berkelebatan sampai membuatku panas dingin.

“Dyan, ada apa?” tanya Kanaya bingung. Ia menyentuh tanganku, namun segera kutepis kasar hingga Kanaya terlonjak.

“Maaf. Aku hanya tidak siap,” ucapku gusar. Kulihat mata Kanaya sudah berkaca-kaca lagi. Aku menghela napas berat. Berusaha mengatur emosiku.

“Dyan … Masih membenci aku?” tanya Kanaya perlahan.

Aku tersenyum kecut. Rasanya terbalik jika disebut aku yang membenci dia. Padahal dulu dia yang membenciku.

“Aku cuma mau tanya. Apa yang Kanaya pikirkan ketika bertemu denganku? Bukankah sebelumnya Kanaya membenciku? Bukankah ketika duduk bersebelahan denganku, kamu tidak menyadari keberadaanku?” tanyaku dengan cepat.

Kanaya terdiam dengan wajah yang syok. Ia terlihat gugup untuk menjawab. Tubuhnya kembali bergetar hebat. Aku merasa di atas angin. Rasanya mulut ini tidak bisa berhenti untuk menyudutkannya.

“Kemana Kanaya selama dua tahun ini? Kanaya yang sudah aku lupakan sekuat tenaga, ” lanjutku dengan senyum sinis. “Kenapa sekarang dengan sengaja muncul lagi di hadapanku?”

“Aku … ” Kanaya terlihat begitu gugup. Ia menautkan kedua tangannya berkali-kali.

“Kanaya yang aku tahu sudah lama pergi. Aku tidak kenal dengan kamu!” lanjutku. “Kamu siapa? Alien yang mengaku-ngaku sebagai Kanaya?”

“Aku Kanaya!” seru gadis itu cepat.

“Tidak. Aku tidak percaya. Kanaya sudah tidak ada! Kanaya sudah mati!” teriakku keras.

“Tidak!” teriak Kanaya cepat. Kini seluruh tubuhnya memucat. Air mata membanjiri wajahnya. Tubuhnya bergetar hebat. Kini ia terlihat seperti Kanaya yang aku kenal terakhir kalinya.

“Apa? Memang benar kan dia sudah mati?” tantangku.

Kanaya terlihat tidak berdaya. Ia menggelepar di tempatnya. Ia terus memegangi pergelangan tangannya. Wajahnya terlihat kesakitan. Ia juga seolah sulit bernapas. Aku yang awalnya begitu puas membuatnya bersalah kini mulai balik merasa bersalah. Aku langsung menghampirinya, lalu berusaha menenangkannya.

“Kanaya tidak apa-apa! Tenanglah,” ucapku panik.

Namun Kanaya terus menggelepar tidak karuan. Ia terlihat benar-benar merasa sesak. Kemudian terdengar beberapa kata diucapkannya dengan pelan.

“Takut … Banyak darah … Aku mati … ” ucap Kanaya lagi.

“Tidak. Tidak ada darah!  Kamu tidak akan mati! Kamu baik-baik saja!” seruku yang semakin panik dan takut. Apalagi Kanaya terlihat kian memburuk.

Beberapa orang yang lewat mulai menjadikan kami sebagai tontonan gratis. Semua itu membuatku frustasi.

“Kanaya!” kini aku berusaha mengguncang-guncang tubuhnya, namun sia-sia saja. Tidak berhasil mengembalikan kesadarannya.

Di tengah segala kepanikan itu, tiba-tiba seorang Ibu menghampiri kami. Aku mengenali dia dengan jelas. Dia adalah Tante Ratmi, Ibu dari Kanaya.

“Kanaya! Bangun, Nak!” seru Tante Ratmi dengan panik. Ia lalu berusaha membantu Kanaya berdiri sekuat tenaga.

“Biar Dyan saja Tante,” aku menawarkan diri.

“Baiklah, tolong Tante,” Tante Ratmi setuju aku membantunya.

Aku berusaha membopong Kanaya. Untung saja tubuhnya tidak berat sehingga memudahkan aku untuk menggendongnya. Tante Ratmi membukakan pintu mobil untukku. Aku membaringkan Kanaya di kursi belakang. Sementara Tante Ratmi beralih ke arah kemudi.

“Dyan, masuklah,” ucap Tante Ratmi dengan tiba-tiba.

“Dyan ikut?” tanyaku bingung.

“Iya. Ikut dengan Tante,” pintanya membuatku benar-benar terkejut.

Akhirnya akupun memutuskan untuk ikut dengan Tante Ratmi. Aku duduk di kursi depan sebelah Tante Ratmi. Dengan cepat, Tante mengemudikan mobilnya menuju ke suatu tempat. Aku tidak banyak bicara saat itu. Sejujurnya aku masih dilanda kepanikan yang luar biasa. Semua ini terjadi begitu mendadak.

Terima kasih sudah membaca novel kami. Untuk menyemangati author agar terus update, jangan lupa share, komen dan klik salah satu iklan di web kami(Hehehe lumayan bisa beli cemilan untuk menemani author nulis XD)   

Eps 5Eps 7 

Rate cerita ini yuk Kak!

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 thought on “Kanaya – Bab 6 Trauma”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *