Perpisahan dan Kesendirian Ini Membawa Banyak Pelajaran

0
(0)
Cerpen by Nabil

Hai perkenalkan gue Flo umur gue 26 tahun kebetulan gue belum punya pekerjaan dan terlebih lagi belum lama ini gue abis ditinggalkan orang yang gue sayang. Kesibukan gue sehari-hari duduk depan laptop atau handphone gue untuk mantengin aplikasi pencari kerja. Dalam sehari gue luangin waktu 30 sampai 1 jam, atau setidaknya sehari paling sedikit gue harus apply 2 sampai 5 lowongan pekerjaan. Gue lakukan itu semata – mata untuk mendapatkan pekerjaan secepat mungkin supaya keuangan gue kembali normal. Gue ga akan bercerita panjang soal bagaimana gua survive untuk mendapatkan pekerjaan, tapi disini gue akan bercerita soal Bagaimana perpisahan dan kesendirian membawa banyak pelajaran berharga di hidup gue. 

Kebetulan belum lama ini gue baru aja di putusin pacar gue, kebayangkan rasanya gimana? Campur aduk tapi campurannya sama rasa sakit dan sedih bukan rasa senang apalagi bahagia. Kalian pernah ngerasain kan naik motor pada saat hujan deras sementara helm kalian ga ada penutup mukanya? Kalian bisa bayangin hujan deras itu kaya rasa sakit yang kalian dapet dari putus cinta. Sementara muka kalian adalah diri kalian saat kalian menerima kabar kalau hubungan kalian harus di akhiri karna satu dan lain hal. Kebayangkan sakitnya saat air itu jatuh mengenai bagian muka dan pedihnya saat air itu jatuh turun menusuk mata yang mau gamau kita harus tetep fokus ke jalan untuk menghindari kecelakaan. Tapi belum seberapa sih rasa sakit yang ditimbulkan, itu hanya gambaran kecil aja. Gue amat sangat percaya sama pepatah yang bilang “setiap pertemuan pasti ada perpisahan”. Terkadang manusia hanya mempersiapkan dengan baik bagaimana pertemuan itu terjadi tanpa mereka sadari kalau mereka juga harus mempersiapkan dengan baik bagaimana perpisahan. Karna saat perpisahan itu terjadi, dan mereka tidak siap dalam menghadapi perpisahan maka di waktu yang bersamaan mereka harus kuat untuk menahan rasa sakit dan kecewa yang teramat dalam. Ya walaupun dengan kita mempersiapkan perpisahan tidak bisa menjamin kita tidak merasakan hal yang serupa. Kita memang akan merasakan hal yang serupa tetapi ketika hal itu tiba dan kita sudah siap, tanpa kita sadari kita sudah membentengi diri kita dari hal-hal yang menyakitkan. Karna pada saat perpisahan itu terjadi yang tersisa hanyalah kesakitan dan kesedihan tidak lagi kebahagiaan, karna kebahagiaan sudah terkubur dalam dengan penyesalan dan perpisahan. Setidaknya kita masih punya pikiran yang waras untuk menjalani hidup tanpa seseorang yang kita sayang. Karna saat hal itu terjadi akan banyak rasa yang buruk berkecamuk di pikiran dan hati kita. Pada saat hal buruk berkecamuk di pikiran dan hati kita, maka pada saat itu juga pikiran dan hati ini akan menjadi tidak waras. Jangankan mengambil keputusan yang tepat atau bahkan sekedar melanjutkan perjalanan yang baru saja terhenti sebentar saja rasanya sangat sulit.

Yap gue termasuk di dalam manusia yang tidak mempersiapkan perpisahan terjadi di kehidupan gue. Terlalu banyak angan serta ambisi gue untuk melanjutkan hidup sampai tua. Gue terlalu terlena sama suasana nyaman, dan gue terlalu banyak menaruh harapan pada saat itu. Tanpa sedikitpun gue sadari kalo gue punya banyak sekali kekurangan dan gue juga banyak melakukan kesalahan yang menjadi pemicu perpisahan itu terjadi. Sulit sekali rasanya menerima gue yang banyak kekurangan dan sering melakukan kesalahan. Menerima saja sulit apalagi bertahan untuk waktu yang lama? Rasanya mustahil. Karna saat dia mau bertahan untuk waktu yang lama akan banyak sekali yang dikorbankan. Akan ada hati yang terluka dan timbul juga ke khawatiran yang menyelimuti relung hatinya setiap saat. Dan akan menimbulkan pertanyaan “Apa iya dia bisa bikin gue bahagia? Setelah semua pengorbanan gue?”. “Dan apa iya gue bener-bener bahagia sama dia yang seperti itu?”. Gue yakin dia ga akan pernah mau merasakan ketakutan dan ketidakpastian dalam hidup, jadi saat dia memilih untuk pergi yang bisa gue lakukan hanya meyakinkan diri gue dan memberanikan diri gue untuk menerima dan mengikhlaskan apa yang menjadi keputusannya. Dia berhak mendapatkan sesuatu yang lebih dari apa yang dia dapat sekarang. Dia berhak bahagia dengan jalannya bukan dengan jalan yang gue mau. Akan menjadi berat dan sulit pastinya tapi itu jauh lebih baik dibandingkan kita memaksa untuk tetap terus bersama. Akan  banyak sekali luka dan kesedihan yang menunggu untuk dijemput.

Hari-hari gue setelah berpisah dengannya dipenuhi dengan kesedihan, kesakitan, kecemasan dan ketakutan. Hati dan pikiran ini rasanya kalut, rasanya tidak ada semenit pun gua bisa mengalihkan pikiran gue untuk  memikirkan sesuatu hal yang positif. Yang ada di otak gue cuma rasa takut dan cemas, “takut apa iya gue bisa melanjutkan hidup gue sendiri?”. Kalau ada dukun sakti yang bisa membuat orang melupakan kekacuan dan kesedihan di dalam pikirannya dalam waktu yang singkat, gue bakal cari dukun itu sampe ketemu. Sekalipun si dukun sembunyi di lubang semut pun pasti akan gue cari sampe ketemu. Mungkin terlihat dan terdengar berlebihan tapi percayalah saat kita tidak mempersiapkan perpisahan rasa itu yang mengerikan itu akan muncul menghantui kita setiap saat. 

Lalu bagaimana gua bisa melewati itu semua? 

Jujur aja sampai saat ini pun gue belum bisa sepenuhnya mengkontrol emosi serta pikiran agar terlihat baik-baik saja. Tapi di dalam hati terdalam gue, gue  punya keinginan yang amat kuat dan besar untuk melepas jauh-jauh segala rasa buruk yang berkecamuk dalam hati dan pikiran ini. Karna kalo gue simpen kuat-kuat rasa sakit ini, bukan cuma hati dan pikiran gue aja yang rusak tapi badan gue bisa hancur juga dibuatnya. 

Gue cuma bisa berdoa sama Tuhan untuk bisa dibantu dan berharap Tuhan selalu menenangkan hati dan pikiran gue. Dan hal lain yang gue lakukan adalah meminta tolong dengan seseorang yang gue anggep dan yakini dia bisa bantu gue dan menemani gue yang lagi terpuruk ini. Tapi ternyata temen yang gue kira bisa bantu dan nemenin gue malah berbalik melakukan hal yang ga pernah gue bayangin sebelumnya. Dia terlihat cuek dan sibuk dengan dunianya. Gapernah sekalipun dia tanya “eh gimana sekarang keadaan lo?” malah saat gue chat dia untuk tanya keberadaannya dimana dan apakah gue boleh mampir kerumahnya aja jawaban dia amat sangat mengecewakan.

Tapi gue ga putus asa sampe disitu, saat satu pintu tertutup akan ada banyak pintu yang masih terbuka untuk mempersilahkan gue masuk dan mengulurkan tangannya untuk membantu gue dengan tulus. Orang ini sama sekali gapernah gue sangka dan kira sebelumnya bakal bisa bantu gue disaat susah dan terpuruk ini. Dan tentu aja dia orang yang memberikan ketenangan, semangat dan keyakinan kalo gue mampu melewati ini semua dengan baik. Disaat kita terpuruk akan jadi semakin mudah melihat dan memilah mana teman yang baik dan patut untuk diperjuangkan nantinya dan mana yang tidak.

Dari perpisahan dan kesendirian ini gue banyak belajar. Jangan pernah sekalipun memaksakan keadaan menjadi maunya kita. Apa yang menurut kita baik belum tentu baik juga buat orang lain, begitu juga sebaliknya. Hargailah setiap usaha dan pertemuan karena saat semuanya sudah hilang yang tersisa cuma penyesalan dan kesedihan, karena hal itu ga akan pernah terulang atau bahkan terjadi lagi saat perpisahaan sudah menjadi keputusan. Jangan pernah takut berhadapan dengan sesuatu yang buruk sekalipun, yakin kalo kita bisa dan mampu untuk menjalaninya. Asalkan kita punya kemauan dan niat untuk bangkit. Dan juga jangan pernah merasa putus asa sekalipun karna putus asa cuma bisa menghancurkan lu sehancur hancurnya. Jangan pernah merasa sendirian dan jangan malu untuk meminta pertolongan. Karna saat lu meminta pertolongan masih ada tangan yang mau ngebantu lu untuk keluar dari lubang kesedihan. Oiya buat kalian jangan pernah takut menghadapi perpisahan dan kesendirian, karena akan banyak hal yang tak terduga terjadi yang sebelumnya sama sekali gapernah terpikirkan oleh kita sekalipun.

END

Rate cerita ini yuk Kak!

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *