Pria Simpanan Suamiku 18+

5
(2)

“Shandy! Seger banget lo pagi-pagi! Pasti udah dikasih servis terbaik dari suami lo ya!” ucap Tia, sahabatku di kantor.

Aku tersipu malu mendengar candaannya. Karena candaannya… Nyatanya memang seperti itu.

“Ah apaan sih Tia, pagi-pagi tuh emang harus semangat, biar semangatnya nular ke yang ketemu gue hahaha!” jawabku.

Rangga, suamiku, memang terkenal memiliki wajah yang tampan, badan yang kekar dan tenaga yang…

Ya, sangat kuat. Sebelum memutuskan untuk menjadi seorang pengusaha, dulunya Rangga berprofesi sebagai atlet tinju. Tak heran, banyak sekali teman dekatku yang sering bercanda soal hubungan kami. Terlebih, mereka tahu, aku sangat menyukai pria yang bertubuh kekar. Jadi, bisa menikah dengan Rangga, adalah salah satu anugrah dan juga pencapaian atas segala imajinasiku selama ini.

Seperti hari-hari yang lain, Rangga selalu datang menjemputku di sore hari.

“Silakan masuk tuan putri,” ucap Rangga sambil membukakan pintu mobil untukku.

Aku malu bukan main. Bagaimana tidak, semua orang di lobby melihat ke arah kami berdua. Tidak sedikit orang yang menahan tawa, melihat keromantisan yang bagiku terlihat sangat konyol ini.

Rangga mengemudikan mobilnya, dan berkata, “Hai sayangku, gimana hari ini?”

“Lumayan capek, tapi aku tetep enjoy kok Mas, Mas sendiri gimana?” tanyaku.

“Hariku masih seperti biasa. Cafe lumayan rame hari ini. Kalau kamu capek terus, lebih baik udahlah resign aja sayang. Kan keuangan di rumah, dari aku aja udah cukup banget.” Rangga tetap fokus ke depan tanpa menoleh ke arahku.

https://www.freepik.com/free-photo/wife-found-her-husband-bed-with-another-guy-he-s-gay_3398351.htm#page=1&query=gay cheating&position=2

“Ih bahas resign lagi. Kita kan kalo berjarak gini, jadi bisa ngerasain kangen sayang. Jadi, tetep izinin aku kerja ya?” tanyaku lagi.

“Iya iya,” Rangga mengemudikan mobilnya sambil sesekali melihat ke arahku, “oh iya, ibuku minta dianter kamu buat check up sore ini. Katanya, pengen berdua aja sama kamu, kamu mau gak?”

Sebenarnya, hari ini aku merasa sangat lelah. Namun, tak enak juga menolah permintaan ibu mertua yang sudah begitu baik memperlakukanku seperti anak kandungnya sendiri. Lagipula, jarak rumah ibu mertua tidak begitu jauh dari rumah kami, hanya sekitar 3km saja.

“Okay Mas, lalu kamu mau kemana pas aku sama ibu?” tanyaku.

“Aku tunggu di cafe, ibu maunya berdua sama kamu katanya. Gak apa-apa kan?” tanya Rangga.

Sebenarnya ini agak aneh, tetapi aku tetap mengiyakannya saja.

Sesampainya di rumah ibu mertuaku, Rangga langsung pergi lagi setelah berpamitan dari ibunya.

Setelah Rangga pergi, ibu menarik lenganku masuk ke kamarnya.

“Sini Neng, masuk ke kamar ibu sebentar,” ucap ibu sambil menarik lenganku.

“Ada apa Bu?”

Ibu tak menggubris pertanyaanku, ia langsung menarikku ke dalam kamarnya.

Ibu terlihat begitu bingung seolah sedang menyembunyikan sesuatu.

“Kenapa Bu? Bilang aja sama Shandy.” Aku memegang tangan ibu yang begitu dingin.

“Ibu mau ngomong sesuatu, tapi kamu jangan marah.” Ibu terus menunduk.

“Iya Bu, janji aku gak akan marah, coba Ibu kasih tau aku pelan-pelan.

“Itu loh, ibu liat berita di tv, ada penggerebekan gay di tempat gym. Badannya gede-gede, ibu mah jadi khawatir sama si Rangga,” ucap ibu.

Aku tak bisa menahan tawaku, Rangga yang begitu ‘laki’ mana mungkin penyuka sesama jenis.

Aku masih terdiam, sampai ibu berkata kembali dengan suara yang pelan, “Buktinya kalian udah nikah 4 tahun, tapi belum punya momongan juga. Dia tuh, suka gak sama kamu?”

Aku tak bisa lagi menahan tawa, “Hahaha Ibu! Rangga mah laki banget atuh, belum punya momongan karena emang kita belum pengen cepet-cepet, pengen membangun pondasi ekonomi yang kuat dulu.”

***

Hari pun berganti, aku tak begitu memikirkan perkataan ibu mertuaku lagi. Apa yang dia katakan benar-benar tak berdasar, karena aku sangat mengenali Rangga. Terus terang saja, dalam urusan ranjang, Rangga benar-benar terasa begitu jantan, tidak ada sedikit pun keraguan yang terbesit di dalam benakku mengenai Rangga. Bahkan, sebenarnya Rangga memiliki phobia dengan banci. Jadi, aku yang awalnya sempat terpikirkan mengenai hal ini, begitu mengingat Rangga begitu jantan bahkan takut saat dihampiri banci, aku pun langsung tenang.

Mau bagaimanapun, di kehidupan yang begitu modern ini, semua bisa saja terjadi. Manusia semakin bebas untuk memenuhi hasratnya, walaupun hasrat yang keliru.

Namun, aku tidak memikirkan hal ini lagi. Daripada ujungnya malah menjadi penyakit hati, lebih baik kembali fokus pada kebahagiaan yang sedang dirasakan pada saat ini.

Seminggu berlalu, sejak terakhir bertemu dengan ibu mertuaku. Maklum, aku sangat sibuk di kantor, jadi walaupun jaraknya begitu dekat, tetapi aku cukup jarang mengunjunginya.

Hari ini, ada pemeliharaan gedung yang rutin dilakukan sebulan sekali. Setiap pemeliharaan sedang dilakukan, maka jam operasional kerja pun otomatis berhenti lebih awal juga. Aku yang biasanya pulang pukul 5 sore, lain dengan hari ini, hari ini aku sudah bisa pulang pada pukul 1 siang, tepatnya setelah istirahat makan siang.

Aku sengaja tak meminta Rangga untuk menjemputku, aku ingin memberikan kejutan untuknya, langsung menemuinya ke cafe rintisannya.

“Adisti, Pak Rangga di mana ya?” tanyaku pada salah satu karyawan Rangga.

“Tadi ke sini pas open aja Bu, kayak biasa setelah itu langsung pulang lagi, paling nanti malem sebelum tutup ke sini lagi.”

Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi entah kenapa, baru mendengarnya saja hatiku langsung terasa sakit. Rangga selalu berkata padaku, ia selalu tinggal di cafenya setiap hari penuh, untuk memastikan semuanya lancar. Tapi kenapa, jawaban karyawannya berbalik dengan apa yang dia katakan.

Aku segera pulang ke rumah. Padahal aku tidak mengetahui apa yang terjadi, tapi perasaanku langsung campur aduk.

Sesampainya di rumah, aku jalan pelan-pelan memasuki rumah yang tidak dikunci, lalu perlahan masuk ke kamar utama.

Tidak ada siapa-siapa.

Setelah itu, aku memutuskan untuk pergi ke kamar tamu di lantai dua.

Keringat dingin langsung membasahi seluruh tubuhku.

Mungkin insting seorang perempuan memang sangat kuat. Apa yang ibu mertuaku rasakan ternyata benar adanya. Pantas saja perasaanku sangat kacau walaupun aku belum mengetahui apa yang terjadi tadi.

Aku melihat, suamiku, Rangga, pria yang begitu jantan ini sedang berpelukan dengan seseorang yang terlihat lebih maskulin daripada dirinya.

Hatiku, hancur.

Rate cerita ini yuk Kak!

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *