Psychopath Idol (21+) : Eps 3 (END)

5
(3)

Setelah entah sekian lama, aku mulai terbangun dengan keadaan seluruh tubuhku terasa sakit. Aku berada di sebuah kamar hotel yang cukup mewah, dengan lampu meja sebagai satu-satunya sumber cahaya di ruangan ini.

Aku mencoba memulihkan ingatanku, apa yang sebenarnya terjadi?

Kesadaranku mulai pulih seutuhnya.

“Ya Tuhan, tolong aku!? Kenapa aku bisa di sini? Tolong!!!!”

Aku tak tahu apa yang sudah terjadi, aku melihat seluruh tubuhku memar, dan dalam keadaan telanjang.

Aku mendengar suara seseorang sedang berenang di private pool hotel vila ini. Seorang pria dengan perawakan yang tinggi dan berotot keluar dari kolam renang itu lalu segera mengeringkan tubuhnya dengan handuk.

“Siapa kamu?” teriakku.

Pada saat ini, aku tahu, aku sudah diperkosa. Kemaluanku terasa sangat linu, hancur sudah masa depanku.

Pria misterius itu masih tak menjawabku. Dari cahaya remang-remang di kamar ini, pria itu hanya menatapku dengan tatapan puas.

Tak lama kemudian, pria itu menghampiriku, ia mengecup keningku sambil berkata, “Hei, suruh siapa kamu datang ke kandang macan?”

Aku tak bisa menahan tangisku, tidak, aku tidak mau mati muda! Masa depanku masih panjang.

“Hei kenapa nangis?” ucap pria itu sambil mencengkram daguku.

“Kamu siapa? Kenapa tega ngelakuin ini ke saya? Salah saya apa?” tanyaku.

Aku mencoba kabur, pokoknya aku harus lari dan melaporkan kejadian ini kepada polisi.

Aku segera pergi ke arah pintu, pria itu sama sekali tidak mengejarku.

Dengan senyuman yang penuh kengerian, pria itu berkata, “Hei, kuncinya di sini.”

Aku ingin tahu siapa orang itu, aku pun segera menyalakan lampu kamar ini.

“Ya Tuhan, Ke- Kevin?” ucapku terbata-bata.

Ya, orang yang menyekapku ini adalah idolaku. Aku memang mengaguminya, tapi aku tetap tidak bisa diperlakukan dengan seenaknya seperti ini.

“Ya, kagetkan? Ini kehidupan saya, gelap! Semua orang sama aja! Sialan kalian semua!”

Kevin langsung menendang pintu toilet, ia memojokanku ke arah pintu keluar.

“Ini kehidupan saya! Kenapa? Kenapa hah?” Kevin menarikku ke atas kasur, “saya capek,”

Kevin mulai menciumi leherku, dan aku tidak bisa melakukan apapun selain menangisi kemalanganku ini.

Dua hari pun berlalu dengan sangat menyedihkan. Sudah dua hari ini pula aku tak bisa berkata-kata. Karena setiap kali aku berbicara, hanya akan membuat Kevin semakin berbuat kasar. Namun, lain dengan malam ini. Setelah selesai makan malam, aku pergi ke dapur untuk membuatkan teh untuk Kevin.

“Kevin, aku gak tahu masalah apa yang sedang kamu hadapi, tapi semoga teh ini bisa membuat suasana hati kamu lebih baik,” ucapku, berusaha untuk membuat hatinya melunak untuk melepaskanku.

Kevin menatapku lebih dalam, “Udah kepikiran buat minta sesuatu yah? Hahahaha udah ketebak.”

“Enggak, aku bisa mendapatkan apapun yang aku mau dengan usahaku sendiri. Aku cuma pengen pergi dari sini, aku gak akan angkat bicara soal ini. Aku cuma pengen liburan.” Aku langsung menyimpan teh itu ke hadapannya.

“Besok kita ke pantai ya, jangan sampai berani kabur.”

Benar saja, keesokan paginya aku dibawa ke sebuah pantai di daerah Canggu. Namun, dari semalam Kevin tetap memperlalukanku dengan kasar. Aku tidak tahu kenapa.

Tak lama, kami hanya singgah beberapa jam saja di pantai ini. Setelah sarapan pagi, kami langsung kembali ke hotel.

“Nama kamu Gaby?” tanya Kevin.

Aku menjawabnya, “Iya.”

“Aku sakit Gaby, kamu dalam bahaya, kamu tahu ‘kan?” tanyanya.

Hari ini, perlakuan Kevin sudah mulai lebih terkendali. Kevin sudah mulai berhenti memukulku.

Hari ke tujuh.

Kevin kembali mengajakku ke pantai, akan tetapi kali ini aku sudah memikirkan cara untuk kabur.

Saat Kevin lengah, aku langsung pergi melarikan diri, berlari sekencang mungkin. Aku berlari menuju seorang pria paruh baya yang sedang duduk di atas motornya.

“Pak, Pak, bawa saya pergi dari sini!” Aku langsung naik ke motornya.

“Kemana Mbak? Mbak?” tanyanya.

“Pergi dulu aja Pak!” jawabku.

Bapak ini langsung pergi membawaku pergi. Tapi yang aneh adalah, Kevin sama sekali tak mengejarku, aku melihat ke arahnya, ia hanya tersenyum.

Kevin benar-benar sakit.

Dengan uang yang aku bawa di sakuku, aku masih bisa memesan sebuah hostel yang cukup murah untuk dua malam.

Malam pun tiba, dalam kesunyian, aku membayangkan kembali beberapa waktu lalu ini. Sangat, sangat, menyeramkan.

Aneh, entah kenapa, rasanya jiwaku ikut sakit.

Aku melangkahkan kakiku, keluar dari kamar ini, menuju sebuah taksi yang tak jauh dari gerbang hostel ini.

Aku pergi ke tempat di mana penyiksaan itu terjadi.

Tok tok tok

Pintu terbuka, dan aku berkata, “Hi, I want more.”

END

Rate cerita ini yuk Kak!

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Psychopath Idol

Psychopath Idol

Status: Completed Author: Artist:
Banyak orang bilang mengagumi sesuatu itu cukup sewajarnya saja. akan tetapi entah kenapa, seumur hidup aku tak pernah seperti ini. Teman-teman ku bilang, tingkahku ini sangat tidak rasional. Bagaimana tidak, di usiaku yang sudah hampir menginjak 25 tahun, tapi aku masih sangat tergila-gila akan sosok seorang Idol. Belakangan ini, sedang terkenal seorang penyanyi pendatang baru yang bernama Kevin.Sebenarnya apa yang aku lakukan ini tidak begitu berlebihan, aku mengagumi sosok Kevin sebagai seorang penyanyi yang handal dan tampan. Akan sangat wajar bagi seorang fansnya untuk membeli album-albumnya, lalu pergi ke konsernya nya, lalu pergi ke jumpa fans-nya. Namun tetap saja teman-temanku melihatku sangat berlebihan. Tapi aku tidak ambil pusing, karena aku tahu siapa orang memiliki caranya masing-masing untuk menghibur dirinya, menghibur diri dari penatnya pekerjaan, sekolah dan rutinitas lainnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plugin Kapsule Corp

Options

not work with dark mode
Reset
Part of PT. King Alin Jaya