Sekretaris Pujaan Hati – Eps 6

0
(0)

Sebelum baca, ayo like halaman facebook dan subscribe youtube kami agar tidak ketinggalan info update!! ((PLEASE KLIK SALAH SATU IKLANNYA YA KAKAK, SEBAGAI PENGGANTI KOIN, AGAR AWNOVEL BISA TERUS BERKEMBANG, LAFYUU :*))

Mendengar suara itu, Tian segera mengikuti jejak langkah kaki Joseph. Setelah sedikit bersusah payah untuk sampai di balkon lantai atas rumah itu, Tian masuk melalui jendela yang terbuka, lalu mendapati Listya sedang menangis sambil duduk di lantai.

“Apa-apaan ini!” Tian langsung mendorong laki-laki yang masih tersungkur di lantai setelah dipukul oleh Joseph.

Tian segera menghampiri Listya dan memeluknya, “Kamu enggak apa-apa kan?”

Ferdi berdiri, dan berkata, “Ini kalian berdua siapa? Kenapa dateng-dateng ikut campur urusan orang lain? Saya bisa perkarain kalian ke polisi!”

Joseph menarik kerah Ferdi, “Liat! Liat cewek itu! Kurus banget, ada luka lebam! Tiga hari situ sekap, jadi kayak gini, menurut situ, ini bisa diperkarain nggak ke polisi?”

Baik Joseph atau pun Tian sama sekali tak takut dengan ancaman Ferdi.

“KALIAN ENGGAK TAU APA-APA!” Ferdi mencoba memukul Joseph.

Saat Joseph dan Ferdi sedang berdebat, Listya berbisik pada Tian, “Pak, bawa saya pergi, saya takut.”

Setelah selesai berdebat, Joseph memberi isyarat pada Tian, “Bawa pergi sekarang,” lalu menoleh pada Ferdi sambil menunjuk pulpen yang tercapit di saku dadanya, “Liat, ada kamera kecil di pulpen saya. Semua yang terjadi hari ini udah terekam. Sekali lagi macem-macem, jangan harap masih bisa kerja! Listya udah jadi milik bos saya, jauh-jauh ya!”

Ferdi emosi, ia berteriak, “Sialan kalian semua, liat aja! Kalian pasti nyesel! Sialaannn!”

Joseph pun pergi meninggalkan Ferdi sendirian di kamar itu.

Tian membawa Listya ke dalam mobilnya. Sebelum pergi, Joseph mengetuk pintu jedelanya, “Bos, masih hati-hati di jalan ya.”

“Thankyou ya. Bonusnya, cuti gih seminggu, liburan kemana kek, semua tagihan hotel dan tiket pesawat, kirim email saya aja.” Ucap Tian.

Joseph tersenyum cerah, “Nah, pas banget buat relaks-in otot-otot saya hehehe. See you Bos.”

Tian segera mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Suasana hening di dalam mobil itu, terpecahkan setelah Listya bertanya, “Pak, mau bawa saya kemana? Tolong, jangan …”

Tian memotong ucapannya, “Sstt, kamu aman sama saya. Sekarang, kita makan dulu ya, abis itu kita ke rumah sakit buat periksa tubuh kamu.”

Tian memarkirkan mobilnya di sebuah restoran hotpot. Setelah memesan makanan, Tian melihat Listya makan begitu lahap.

“Jangan bilang, orang itu gak kasih kamu makan selama tiga hari?” Tanya Tian.

Listya mengangguk pelan, lalu secara perlahan berkata, “Dia kasih saya minum aja.”

Sebenarnya, Tian ingin bertanya-tanya soal laki-laki itu kepada Listya. Namun, ia merasa, saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah ini.

Setelah selesai makan, Tian mengajak Listya ke rumah sakit.

“Pak, saya cuma lebam aja. Gak perlu ke rumah sakit.” Ucap Listya pelan.

Tian tersenyum, “Saya tahu, ikut dulu aja ya sama saya.”

“Saya gak mau Pak, mau sendiri aja istirahat di rumah. Tolong Pak, turunin saya aja di sini.” Ucap Listya dengan nada bicara yang tak biasa lagi.

Tian mencoba untuk menenangkan Listya, “Listya, percaya sama saya okay? Saya enggak akan sakitin kamu.”

“Tapi Pak,” Listya menyanggah Tian.

“Kamu aman sama saya, saya enggak akan nyakitin hati kamu, okay? Manusia itu makhluk sosial, selalu butuh orang lain. Saya tau kamu kuat, tapi ingat Listya, sekuat-kuatnya batu karang, pasti bisa terkikis juga oleh deburan ombak.” Ucap Tian meyakinkan Listya.

Listya hanya mengangguk, tak banyak berbicara lagi.

Sesampainya di rumah sakit, Tian menelepon seseorang. Tak lama kemudian, seorang wanita yang berusia kurang lebih 30 tahun, datang menghampiri mereka berdua.

“Hallo, saya Ajeng.” Ucap wanita itu.

Listya masih terlihat sangat linglung, ia menatap Tian, “Pak, ada apa ya Pak?”

“Listya, ini kakak sepupu saya. Kita ngobrol dulu yuk di kantornya.” Ucap Tian.

Mereka bertiga pun pergi menuju ruang kantor Ajeng. Sesampainya di ruangan itu, Tian berkata kepada Listya, “Listya, saya tunggu di luar ya. Kalian berdua ngobrol aja dulu.”

Terlihat jelas, ketakutan yang mendalam dari tatapan mata Listya, ia menatap Tian dengan penuh asa, “Pak, jangan tinggalin saya.”

Tian hanya tersenyum, lalu pergi meninggalkan ruangan itu.

Bersammbung…

Terima kasih sudah membaca novel kami. Untuk menyemangati author agar terus update, jangan lupa share, komen dan klik salah satu iklan di web kami(Hehehe lumayan bisa beli cemilan untuk menemani author nulis XD) 

Episode 5 — Episode 7 (Coming soon)

Rate cerita ini yuk Kak!

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *