Kisah Klasik Dilema Cinta Manusia

0
(0)

Suara dentuman musik semakin menggelegar di salah satu diskotik di ibu kota. Andre yang sudah setengah mabuk, melihat seorang wanita yang duduk sendirian di salah satu kursi bar di ujung sana. 

Wanita itu terlihat sedih dari raut wajahnya. Ditambah ada beberapa pria yang terus menggodanya. Andre pun langsung pamitan pada dua temannya yang datang bersamanya, Opik dan Ben. 

“Pik, Ben, gue balik duluan ya.”

“Lah kemana bro? Masih jam 1, anak mami lu dasar.” Ucap Ben.

“Besok ada meeting sama klien, jagain si Opik ya. Sorry ya Bro, bye.” Ucap Andre sambil melambaikan tangannya kepada kedua temannya.

Andre langsung bergegas menghampiri wanita itu. Kebetulan pada saat ini, ada dua orang pria yang mulai menggerayami tubuh wanita itu. Wanita itu terlihat sangat tidak nyaman, namun tak bisa banyak memberontak karena pengaruh alkohol yang diminum olehnya.

“Maaf Mas, ini pacar saya. Ada apa inI?” Tegas Andre.

Sosok Andre yang bertubuh tinggi, berbadan tegap dan atletis ini membuat setiap orang yang berhadapan dengannya langsung segan. 

Kedua orang itu langsung ketakutan, “Ma.. Maaf Bos, efek minum, saya kelepasan.” Ucap salah satu orang itu.

“Gantinya, saya bayar semua billnya ya. Mohon maaf Bos, saya gak mau cari masalah. Saya sudah bayar ya Bos, kami pergi dulu, dah dah.” Yang lainnya tiba-tiba bergegas ke kasir dan membayar semua tagihannya.

Andre tak banyak berbicara, ia mengangguk dan membiarkan mereka berdua pergi. Andre langsung membantu wanita itu keluar dari klub ini.

“Saya bukan orang jahat Mbak, daripada digangguin di sini, lebih baik saya antar pulang ya.” Bisik Andre pada Wanita itu.

Semuanya diluar dugaan. Andre mengira, wanita ini akan menolaknya mentah-mentah, tak disangka, wanita ini malah mengangguk padanya.

Andre membantu wanita ini duduk di mobilnya, lalu menutup pintu mobil. Andre hanya minum sedikit bir, oleh karena itu kesadarannya masih terbilang penuh.

“Maaf Mbak, rumahnya di mana? Saya antar sekarang juga.” Tanya Andre.

“Apartemen X di daerah B. Gedung Biru, lantai 10, nomor 1021. Panggil saya Reni.” Ucap pelan wanita itu.

Andre terkejut, wanita ini sampai menyebutkan nomor unit apartemennya. Baru saja bertemu, apa sudah sepercaya itu?

“Baik Mbak Reni. Kebetulan sekali Apartemen saya juga di situ, saya tinggal di gedung Biru, lantai 11 no 1121. Tepat di atas unit Mbak.” Ucap Andre.

“Panggil Reni saja, emangnya gue mbak lo.” 

Andre tahu wanita ini sedang mabuk, jadi ia tak begitu menanggapinya.

Sepanjang jalan pulang, Andre memutar lagu-lagu ber-beat cepat agar dirinya tetap segar dan tak mengantuk.

Sesampainya di parkiran apartemen, Andre membuka pintu mobil sebelahnya, lalu bertanya dengan sopan pada Reni, “Ren, mau turun sendiri atau saya bantu?”

“Bantu aja, gue pusing banget ya Tuhan.” Pinta Reni.

***

Seminggu berlalu, Reni dan Andre mulai sering saling menyapa saat setiap kali berpapasan di apartemen itu. Reni yang baru saja patah hati ditinggal oleh pacar yang sudah menjalin hubungan dengannya selama 5 tahun, mulai merasa lebih baik, ia tak sehancur saat ia mabuk-mabukan sendirian pada saat itu.

Mungkin karena pengaruh dari Andre juga. Sejak pagi itu, entah sihir apa yang terpancarkan dari sosok Andre, namun Reni yang awalnya sangat sedih dan hancur, bisa merasa tiba-tiba terobati seperti ini. Mereka sering bertemu di waktu malam, di kafetaria apartemen. Setiap kali bertemu, mereka selalu menceritakan kisahnya masing-masing.

Reni merasa Andre sangat berbeda dari kebanyakan pria di luar sana. Hal yang paling membuat Reni tersentuh adalah, saat dirinya sedang mabuk, jangankan macam-macam, Andre malah meminta izin dulu untuk membantu dirinya masuk ke unit apartemennya! 

Lima bulan berlalu, hubungan antara Reni dan Andre pun semakin dekat. Mereka lebih sering lagi menghabiskan waktu bersama, seperti makan, jalan-jalan, pergi ke bioskop, dll.

Suatu hari, selepas pulang bekerja, Andre menelepon Reni, “Reni, orang tuaku datang dari Kota Z, dadakan sekali memang. Apa kamu bersedia ikut denganku untuk bertemu dengan mereka?”

Reni tertegun, ia merasa semua ini terlalu cepat, ia pun menjawab, “Ta.. Tapi…”

Reni belum selesai berbicara, Andre langsung memotong pembicaraannya, “Sudahlah, aku tak bermaksud kemana-mana, hanya ingin mengenalkanmu saja. Tidak lebih. Kamu sudah pulang kan? Aku tunggu di lobby ya. Lima menit lagi aku sampai.”

Reni tak bisa berbuat apa-apa. Walaupun ia mengakui kalau dirinya sudah mulai menyukai Andre, tapi ia masih tak bisa lepas dari trauma ditinggalkan menikah oleh mantan pacarnya pada 5 bulan yang lalu. Ia pun menjawab, “Baiklah, aku siap-siap dulu ya.” 

Mobil Andre sudah sampai di Lobby, Reni yang sudah menunggunya di lobby langsung masuk ke dalam mobil Andre.

“Kamu cantik sekali, Reni.” Puji Andre.

“Bisa aja kamu hahaha.” Jawab Reni.

“Reni…” 

Reni terkejut saat mendengar Andre memanggilnya seperti ini. Ia merasakan firasat yang aneh kalau Andre sudah berbicara dengan nada bicara seperti ini. Reni menatap ke arahnya, sembari menjawab ya.

“Reni, aku bukan laki-laki yang pandai berbicara. Aku tak pandai merangkai kata-kata romantis juga. Aku tahu, kamu pasti masih bingung, kamu pasti bingung menilaiku, sebenarnya apa tujuan kita sering menghabiskan waktu bersama. Bukan karena aku ingin mempermainkanmu, tidak. Aku hanya ingin mencari waktu yang pas untuk mengutarakan cintaku, langsung ke jenjang yang serius.”

“Maksudmu apa Ndre?” Tanya Reni.

“Aku mau serius sama kamu. Tolong pertimbangkan hal ini ya. Omong-omong, kita sudah sampai. Ibu dan Ayahku menunggu di dalam. Kita bahas ini lagi nanti ya. Aku harap, kamu tidak merasa berat untuk menolakku setelah bertemu dengan orang tuaku. Menikah adalah proses mempersatukan dua keluarga, oleh karena itu, kenalan saja dulu.”

Reni yang masih tak percaya akan apa yang diucapkan olehnya, merasakan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, ia merasa sangat bingung, panik, takut hubungannya kali ini akan sama dengan hubungannya yang sebelumnya. Dan di sisi lain ia merasa sangat bahagia, Andre tak sama dengan mantan pacarnya, Iqbal yang tiba-tiba meninggalkan dirinya untuk menikah dengan orang lain. Di mata Reni, Andre adalah sosok laki-laki yang sangat bertanggung jawab, penuh perhatian, dan yang paling penting tulus menyayangi dan melindunginya.

Makan malam ini berlalu dengan penuh suka cita. Reni bisa langsung akrab dengan orang tua Andre yang juga sangat ramah. Namun, suka cita itu tak bertahan lama. Setelah mengantarkan kedua orang tuanya kembali ke hotel, Andre mengantarkan Reni pulang. Hal yang sangat tak terduga pun terjadi.

Sesampainya di apartemen Reni, Reni langsung mencium bibir Andre. Ini adalah ciuman pertama mereka, sejak mereka berkenalan. Pipi Andre langsung memerah, entah apa yang merasuki Reni, tiba-tiba berinisiatif untuk mencium dirinya. 

Reni tiba-tiba berkata, “Andre, aku mau kamu bahagia.”

“Aku juga Ren, aku mau kamu bahagia. Dan kalau Tuhan mengizinkan, aku ingin menjadi salah satu yang bisa membuatmu bahagia.” Ucap Andre.

Reni menundukkan kepalanya, lalu berkata, “Kamu bisa membahagiakanku… Dengan cara… Lupakan aku…”

“Apa maksudmu Ren? Kamu mau pergi gitu aja? Setelah kasih harapan, kamu mau pergi gitu aja?” Tanya Andre.

“Cukup Andre. Aku lelah dengan drama percintaan seperti ini. Walaupun ibadah kita masih jauh dari kata sempurna, tapi kita gak bisa sakitin hati keluarga hanya demi keegoisan diri!” Bentak Reni sambil menitikan air mata.

“Apa maksudmu?” Andre sangat bingung, tak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Reni.

“Aku pikir kita seiman Ndre. Sudah, aku gak mau bersikeras lagi. Kamu gak denger cerita Ibu kamu gimana perjuangannya buat bahagiain kamu? Sekolahin kamu? Apa kamu gak liat kedua orang tua kamu sangat agamais? Apa kamu tega kalau nantinya kita bersama, pilih salah satu, orang tuaku atau orang tuamu pasti akan terluka karena kebersamaan kita!” Tangis Reni semakin keras.

Andre tak kuasa menahan tangis. Ia selalu mengira Reni seiman dengan dirinya. Andre sering sekali melihat foto nenek Reni yang mengenakan kerudung di ruang tamu apartemen Reni.

Ternyata selama ini, nenek Reni meninggal dunia setelah ibunya memutuskan untuk pindah agama mengikuti agama ayahnya. Karena terpukul berat, ibunya pun meninggal dunia juga setelah melahirkan Reni. Reni dibesarkan oleh ayahnya sendirian, ia tidak ingin melukai satu-satunya anggota keluarganya. Karena hal ini juga, Reni lebih rela ditinggal menikah oleh Iqbal daripada harus pindah agama dan menyakiti hati ayahnya..

Seiring berjalannya waktu, hubungan Reni dan Andre pun semakin berjarak. Namun satu hal yang pasti, selalu ada ruang untuk cinta mereka di hati mereka masing-masing.

Terima kasih sudah membaca novel kami. Untuk menyemangati author agar terus update, jangan lupa share, komen dan klik salah satu iklan di web kami(Hehehe lumayan bisa beli cemilan untuk menemani author nulis XD)

Rate cerita ini yuk Kak!

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *