Konflik Dalam Persahabatan

0
(0)

Suasana pagi yang indah terasa menyejukkan bagi diriku, sembari mengayuh sepedaku sedikit lebih kencang agar segera sampai di sekolah. Memang keadaan di sekolah saat aku tiba masih terbilang sepi cuma beberapa murid yang ada disana, rata-rata murid lainnya selalu berangkat atau tiba mendekati jam pelajaran dimulai. Aku lebih senang berangkat pagi daripada siang karena aku tidak suka diperhatikan apabila aku melewati musholla sekolah yang biasa digunakan sebagai tempat tongkrongan murid-murid. Oh ya, namaku Ratika. Aku itu orangnya sangat pemalu dan tidak mudah bersosialisasi hanya pada orang tertentu aku bisa berubah menjadi cerewet dan jahil itupun aku tunjukkan pada orang yang bisa bikin aku nyaman berada didekatnya.

Setelah aku selesai memarkirkan sepedaku, aku langsung pergi menuju kelas dimana sudah enam bulan lebih aku tempati, kelas yang akan menentukan apakah aku akan lulus atau tidak, ya aku sudah kelas sembilan yang sebentar lagi akan melaksanakan UN atau biasa disebut dengan Ujian Nasional. Aku sekolah di SMP Cendana, sekolah yang menjadi tempatku menimba ilmu. Setibanya didepan kelas aku dihadang oleh dua temanku, Yaya dan Anggi.

“Rat, pinjam buku matematika dong” ucap Yaya sambil menjulurkan tangan kanannya meminta bukuku.

“Gak mau” ucapku sambil mencengkram erat tasku yang ternyata mau diambil paksa oleh Anggi. Kebetulan disekitar kelasku sedang tidak ada murid sehingga mereka bebas melakukan ini padaku.

“Ish, pelit amat sih, sebentar doang kali, takut amat dicontekkin” kesal Anggi.

“Bukan gitu tapi kan aku udah ngerjainnya susah payah, eh kalian malah dengan seenaknya mau nyontek” jelasku kepada mereka. Namun emang pada dasarnya niat mereka mau nyontek punyaku jadi seberapa lamapun aku bicara mereka gak akan pernah mau dengar.

“Alah alasan kemarin-kemarin kita juga nyontek kamu kalau ada PR gak ada masalah tuh, masa sekarang malah gak boleh sih” ucap Yaya.

“Iya nih dasar pelit, nanti kuburannya sempit tau rasa kamu” ucap Anggi.

“Bukan maksudku untuk tidak memperbolehkan kedua temanku itu nyontek punyaku namun aku hanya ingin agar mereka bisa sekali-kali mengerjakan sendiri tugas yang terlah diberikan tidak terus-menerus menyontekku bahkan aku bersedia kalau mereka memintaku tuk mengajari mereka asalkan mereka punya niat untuk mengerjakan sendiri” ucapku didalam hati.

Dengan pasrah dan lelah aku pun mengambil buku matematikaku dan memberikannya kepada mereka.

“Nih bukunya” ucapku.

“Nah gitu dong” ucap Yaya sambil mengambil bukuku dan masuk kedalam kelas diikuti Anggi.

Walaupun sikap mereka selalu seperti itu padaku namun aku sudah terlanjur menyayangi mereka sebagai temanku hingga aku tak bisa untuk membenci mereka ataupun membalasnya. Aku pun langsung masuk kedalam kelas dan duduk dibangkuku.

Bel masuk pun berbunyi, menandakan bahwa kegiatan belajar mengajar akan dimulai. Guru yang mengajar matematika masuk kedalam kelasku. Semua murid yang ada dikelas itu segera memfokuskan pandangan mereka kepada guru yang mengajar, walaupun ada juga murid yang tidak memperhatikan malah sedang asik sendiri.

Saat aku sedang memperhatikan pelajaran aku merasa ada yang menggangguku dari belakang yang menjadi tempat duduk Yaya dan Vava. Aku tahu bahwa yang menggangguku itu adalah Yaya namun aku biarkan saja dan tak menanggapinya sampai dia berhenti mengganggu mungkin dia sekarang sedang kesal karena aku mengacuhkannya.

Bel istirahat berbunyi sebagian besar murid langsung keluar dari kelas setelah guru yang mengajar keluar. Sementara aku bersama teman sebangkuku pergi menuju kantin untuk membeli makanan ringan.

“Eh Rat kenapa sih si Yaya kok selalu gangguin kamu udah dua tahun lebih loh meskipun setelah itu kalian baikan lagi tapi tetap aja dia harusnya berhenti dong gangguin kamu”ucap Nana padaku. Emang aku pikir juga begitu tapi aku biarkan saja asal dia tidak bertingkah melewati batas aku tidak apa-apa selalu digangguin dia.

” udah Na, lagian dia juga gak nglakuin yang diluar batas jadi aku ya nggak apa-apa jadi bahan gangguan dia, asalkan dia senang aku juga senang Na”ucapku sambil tersenyum.

“Aduh Rat kamu itu kelewat polos atau emang kamu itu terlalu baik sih jadi gemes deh aku sama kamu” ucapnya sambil mencubit pipiku.

“Ish sakit na, emang kamu kira pipiku bakpau apa main asal cubit-cubit aja” ucapku sambil mengusap-usap pipiku yang habis dicubit Nana.

“Hahaha habisnya kamu ngegemesin sih” ucap Nana dengan diikuti tawanya yang terlihat puas sudah membuat pipiku merah akibat cubitannya

“Dasar kamu, emangsih aku itu orangnya imut, unyu-unyu manja makanya gak heran kalau kamu gemes sama aku hahaha” ucapku sambil mengedip-ngedipkan mataku menggoda Nana.

“Yeee malah nglunjak” ucap Nana namun langsung disertai tawa. Kitapun saling tertawa karena candaan yang kita buat disepanjang perjalanan kembali dari kantin.

Sekembalinya aku di kantin alangkah terkejutnya aku saat melihat bahwa tasku berada ditempat sampah, emosi yang selama ini aku pendam pun mulai meledak, aku sungguh tidak habis fikir apa sebenarnya yang diinginkan Yaya dariku, mengapa dia selalu bersikap seenaknya padaku. Aku pun langsung masuk kedalam kelas setelah mengambil tasku dari tempat sampah.

“BRAKK” suara yang timbul dari meja Yaya akibat gebrakanku, Yaya pun langsung menoleh padaku dan bertanya ada apa, emosiku langsung melesat setelah dia menanyakan itu tanpa rasa bersalah.

“Ya, aku selama ini sabar yah sama semua yang kamu lakuin ke aku, tapi sekarang nggak lagi” ucapku dengan emosi sambil mengepalkan kedua tanganku. Tanpa diduga justru Yaya malah menarik jilbab yang kupakai dan menarikku sampai depan kelas, aku pun berusaha untuk melepaskan cengkramannya dari jilbabku.

“Ish lepas ya, lepasin, uhuk uhuk” ucapku terbata-bata setengah tersengal karena jambakan Yaya yang membuatku sulit bernafas.

“Enggak” jawab Yaya.

Akhirnya aku dan dia pun terlibat tarik menarik jilbab namun karena tenaga dia yang kuat bros yang aku pakai untuk menjepit jilbabku pun lepas dan patah menjadi dua, setelah itu baru dia melepaskan tangannya dari jilbabku dan kembali masuk kedalam kelas. Ingin aku menangis setelah apa yang terjadi tadi namun aku harus menahannya. Untung teman sebangkuku, Nana meminjamkan jarum pentul padaku agar jilbabku tidak lepas.

Setelah kejadian itu semua berjalan sebagaimana mestinya, kami berlima selalu bersama meski belum ada kata maaf yang terlontar dari bibir Yaya namun aku tak terlalu mempermasalahkannya. Bagiku yang lalu biarlah berlalu yang terpenting adalah apa yang kita jalani sekarang.

Nama Author: Fatma Nur Fatimah

Akun instagram: fatmafatimah0602
Genre cerpen: Teenfiction

Rate cerita ini yuk Kak!

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

3 thoughts on “Konflik Dalam Persahabatan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *