Reuni Malapetaka

0
(0)
Sebelum baca, ayo like halaman facebook dan subscribe youtube kami agar tidak ketinggalan info update!!

Sejak memutuskan untuk menikah dengan Arya pada 5 tahun yang lalu, Tika lebih memilih untuk menjadi ibu rumah tangga yang seutuhnya. Bukan hanya keinginan dirinya, melainkan permintaa Arya sendiri.

“Kalau kamu gak keberatan, aku mau kamu fokus di rumah aja. Biar aku aja yang kerja, aku aja yang penuhi segala kebutuhan kamu dan anak-anak kita kelak. Aku gak mau kamu kecapean, jadi seorang ibu itu sudah berat. Aku gak mau nambah beban kamu dengan bekerja di luar.” ucap Arya pada 5 tahun yang lalu.

Lima tahun berlalu dengan cepat. Apa yang dikatakan Arya memang ada benarnya juga. Apalagi saat mereka melahirkan anak kembar yang menggemaskan sejak 4 tahun yang lalu. Waktu mereka benar-benar terkuras banyak untuk mengurus kedua anaknya. Selama 5 tahun ini juga, Tika merasa dirinya tak bisa begitu memerhatikan dirinya sendiri. Tika lupa bagaimana harus merawat tubuhnya. Keadaan tubuhnya saat ini bisa dibilang gendut, wajah tak terawat, dan kuper alias kurang pergaulan karena tak banyak beraktivitas di luar. Oleh karena itu, memanfaatkan situasi kedua anaknya yang sudah cukup besar, Tika sering mengisi waktunya untuk ikut sanggar senam zumba, tak lupa juga pergi perawatan wajahnya. Syukurnya, Arya tak pernah berubah. Ia selalu mendukung apapun yang ingin dilakukan oleh istrinya, selagi hal itu baik untuk dirinya.

Bak burung yang baru saja lepas dari sangkarnya, Tika merasakan sedikit kebebasan yang bisa membuat dirinya merasa relaks. Saat ini, Tika mulai bergaul dengan orang lain, termasuk salah satu teman SMA-nya, Dewi. Tika dan Dewi sering pergi ke sanggar senam dan perawatan bersama. Sampai suatu hari, saat sedang perawatan, Dewi berkata, “Eh, minggu depan kelas kita mau reuni. Kamu udah absen lama banget lho tiap reuni. Minggu depan ikut yuk?”

Tika terdiam sejenak, lalu berkata, “Aku izin mas Arya dulu ya.”

“Duh istri solehan banget sih hahaha.” canda Dewi.

Saat itu juga, Tika mengirimkan pesan kepada Arya, perihal izin ikut reuni itu. Benar saja, Arya mengizinkannya pergi.

***

Seminggu berlalu dengan cepat, waktu reuni teman-teman SMA pun tiba. Acara itu dilaksanakan di sebuah restoran yang berada di pusat kota. Sayang sekali Arya tidak bisa ikut karena harus lembur di kantor. Jadi, setelah menitipkan anak-anaknya dengan pengasuhnya, Tika berangkat sendiri dengan mengendarai mobilnya sendiri.

Sesaat setelah turun dari mobil, jantung Tika seketika berdetak dengan kencang.

“Arif?”

“Hai… Long time no see. Aku pikir, kamu gak akan datang lagi kali ini.”

“Aku kira kamu masih di Singapur dan gak hadir di reuni ini.”

Tika bertemu dengan mantan pacarnya semasa SMA dulu! Tika segera memulihkan pikirannya.

‘Oke oke, deg-degan cuma karena kaget aja Tik, selow selow.’ gumam Tika dalam hati.

***

Reuni berjalan dengan sangat, Canggung.

Tika tak mengikuti acara reuni ini sampai selesai. Bukan karena apa-apa, Arya sudah menunggunya di rumah, tak baik juga bagi seorang ibu untuk keluyuran malam-malam seperti ini.

Sebelum pergi, Arif menghampirinya dan berkata, “Save nomorku.”

Tika menoleh ke arahnya, “No. Aku udah nikah.”

Tika pun menutup pintu mobilnya, lalu pergi meninggalkan tempat itu, meninggalkan Arif sendirian.

Sebelum tidur, Arya memeluk Tika, “Makin cantik aja sih pacarku. Cerita dong ngapain aja tadi reuni.”

Deg! Detak jantung Tika seketika berdetak kencang. Tak mungkin sekali, dirinya menceritakan dirinya yang bertemu dengan mantan pacarnya. Tika pun akhirnya hanya menceritakan pertemuannya dengan sahabat-sahabatnya semasa SMA dulu.

Seminggu berlalu. Malam ini, dipelukan Arya, Tika malah bermimpi tentang Arif. Dalam mimpi itu, Arif berkata kepadanya, “Aku pulang. Kuliahku dan kerjaku di Singapur udah selesai. Aku pulang buat kamu.”

Anehnya, dalam mimpi itu, Tika malah memeluk balik Arif.

Keesokan paginya, untuk memulihkan pikirannya, Tika pun mengajak Dewi untuk perawatan. Saat sedang creambath, Tika dengan malu-malu bertanya pada Dewi, “Dew, mau tanya, tapi jangan bilang siapa-siapa.”

“Tanya apaan sih? Tanya aja, jadi penasaran.” jawab Dewi.

“Arif, dia udah nikah?”

“HAHAHA.” Dewi malah tertawa keras, “belumlah, mau nikah gimana, cintanya masih buat kamu.”

Tak lama kemudian, benar-benar tak diduga, Arif masuk ke dalam salon itu! Arif langsung pergi menghampiri Tika.

“Aku udah sering ngikutin kamu akhir-akhir ini. Aku tau kamu ada di sini, tolong jangan pergi, jangan menghindar, aku cuma mau ngobrol bentar.”

Tika tak bisa berkata-kata lagi mendengar ucapanya. Tika, langsung mengajak Arif dan Dewi ke sebuah cafe yang cukup sepi.

Di cafe itu, Arif langsung berterus terang, “Kita putus dulu karena aku masih terlalu bocah, padahal cinta mah udah ada. Aku bodoh banget waktu itu ….”

“To the point aja, aku ada suami!” potong Tika.

“I still love you, and I will always love you.” ucap Arif.

“Gila!” ucap Tika.

Arif segera meraih ponsel Tika, lalu memasukan kontaknya dengan nama ‘Dewi 2’.

“Aku gak lama-lama di sini, call me kalau kamu udah tau jawabannya.” ucap Arif sambil meninggalkan cafe itu.

Waktu pun berlalu dengan rasa yang lebih berat. Sejak pertemuannya dengan Arif di cafe itu, Tika tiada hentinya terus memikirkan mantan pacarnya itu. Bingung dan sedih, kenapa harus ada perasaan ini? Kenapa harus memimpikannya setiap malam? Tika jelas-jelas sudah memiliki suami yang sangat baik, tampan, bertanggung jawab, mapan.

Sampai suatu hari tiba, Tika sudah tak bisa lagi membendung perasaannya. Ia mengambil ponselnya, lalu mengirim pesan, “I always love you too…” ke konta dengan nama ‘Dewi 2’.

END

Terima kasih sudah membaca novel kami. Untuk menyemangati author agar terus update, jangan lupa share, komen dan klik salah satu iklan di web kami(Hehehe lumayan bisa beli cemilan untuk menemani author nulis XD)   

Rate cerita ini yuk Kak!

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *