Ngopi Bareng

Ngopi Bareng
0
(0)
Bantu klik salah satu iklan, atau langsung ke https://saweria.co/awnovel buat dukung author tetap berkarya!

Seminggu berlalu sejak insiden malam gila itu, kehidupan Tasya akhirnya perlahan kembali normal.
Ayah dan ibu sudah melonggarkan pengawasan, memperbolehkannya keluar rumah tetapi dengan batasan ketat, hanya sebatas kegiatan positif seperti nongkrong santai atau nge-gym, dan wajib sampai di rumah sebelum jam delapan malam.
Sore itu, Tasya baru saja menyelesaikan sesi workout-nya di tempat gym langganannya dan melangkah menuju area kafe di dalam area olahraga tersebut.
Saat sedang mengantre minuman, matanya mendadak tertegun menatap sosok cowok berkaus polos yang baru saja turun dari alat treadmill dengan handuk kecil mengalung di lehernya.
Tato singa di lengan kanan atas pria itu langsung mempertegas ingatan Tasya, itu Rico.
“Rico?” panggil Tasya ragu-ragu saat Rico berjalan mendekati konter.
Rico menoleh, lalu menyunggingkan senyum santainya yang khas begitu mengenali wajah Tasya, “Eh, cewek bathtub. Udah nggak pusing lagi kepala kamu?”
Wajah Tasya mendadak merona malu mendengar gurauan itu, tetapi dia berusaha tetap tenang, “Udah sehat banget, makasih ya. Sebagai gantinya, aku mau traktik kamu ngopi hari ini buat balas jasa kamu waktu itu.”
“Boleh banget, rezeki nggak boleh ditolak,” jawab Rico terkekeh pelan sambil memesan kuisin kopi kesukaannya.
Mereka berdua akhirnya duduk di salah satu meja sudut kafe, menikmati aroma kopi yang menguar di antara obrolan santai.
Di tengah percakapan mereka, Tasya mendadak teringat gosip hangat yang sempat ditiupkan Karina melalui telepon kemarin lusa.
Sehari setelah kejadian pencekokan itu, klub malam tempat mereka datang tiba-tiba saja digerebek dan disegel ketat oleh pihak kepolisian karena dugaan kasus peredaran zat ilegal.
Anehnya lagi, hanya dalam waktu tiga hari setelah penyegelan, beredar kabar bahwa manajemen klub tersebut sudah berganti kepemilikan total secara mendadak.
Tasya menatap Rico yang sedang menyeruput kopinya dengan santai, kaus oblong kusam dan celana training sederhana yang dikenakan pria itu membuat Tasya cepat-cepat menepis pikiran anehnya.
Tasya sempat curiga apakah pergerakan kilat penyegelan klub itu ada hubungannya dengan ancaman Rico malam itu, tetapi melihat penampilan Rico yang slengean, rasanya tidak mungkin pria di depannya ini sekaya dan seberpengaruh itu sampai bisa menggerakkan kepolisian dalam semalam.
Setelah kopi mereka habis dan jam tangan Tasya menunjukkan pukul tujuh malam, Rico menawarkan diri untuk mengantarkan Tasya pulang agar dia tidak terlambat sampai di rumah.
Perjalanan kali ini terasa jauh lebih cair, diisi obrolan ringan dan candaan acak dari Rico yang membuat Tasya tidak berhenti tersenyum sepanjang jalan.
Begitu mobil Rico berhenti di depan pagar rumah, Tasya melihat ayahnya sedang berdiri di halaman sambil menyiram tanaman dengan raut wajah kaku.
Tasya turun dari mobil disusul Rico yang ikut melangkah maju untuk menyapa, bermaksud menunjukkan iktikad baik walau penampilannya masih sama santainya seperti biasa.
“Selamat malam, Pak,” sapa Rico sopan sambil menganggukkan kepala dan tersenyum ramah.
Ayah Tasya langsung mematikan selang air, matanya menyipit tajam menatap Rico dari atas sampai bawah, siap memuntahkan omelan karena priabertato itu berani muncul lagi di rumahnya.
Namun, baru saja ayah Tasya membuka mulut untuk menegur, ketegangan di raut wajahnya mendadak tertahan dan berubah menjadi dahi yang berkerut dalam.
Ayah Tasya menatap wajah Rico lekat-lekat, merasa ada sesuatu yang sangat familier dari gestur, garis wajah, atau tatapan mata anak muda di depannya ini.
Dia merasa pernah melihat wajah ini di suatu tempat yang sangat kaku dan formal, entah di jurnal ilmiah, seminar akademik besar, atau forum diskusi dosen tinggi.
Ayah Tasya sama sekali tidak sadar bahwa Rico sebenarnya adalah calon doktor kandidat S3 Riset Kehutanan yang sebentar lagi menyelesaikan studinya dan sedang menggarap riset besar hingga berpeluang meraih gelar profesor di usia muda.
“Kamu … rasanya saya pernah lihat kamu di mana ya?” gumam ayah Tasya pelan, memegang dagunya sambil terus mengingat-ingat.
Rico hanya tersenyum tipis tanpa membocorkan identitas aslinya, “Mungkin mukanya pasaran, Pak, makanya keliatan kayak pernah ketemu.”
Karena memori itu masih sangat samar dan tertutup oleh penampilan luar Rico yang slengean, ayah Tasya akhirnya hanya menghembuskan napas panjang dan menepuk bahu Tasya untuk masuk ke dalam rumah.

Rate cerita ini yuk Kak!

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Pahlawanku Si Pria Bertato Singa

Pahlawanku Si Pria Bertato Singa

Status: Completed Author: Released: 2026

Ketika rasa frustrasi dan desakan ekspektasi orang tua membawa Tasya ke dalam bahaya di sebuah klub malam, kedatangan Rico, seorang pria misterius berkaus kusam dengan tato singa di lengannya, menjadi penyelamat tak terduga yang merenggutnya dari niat jahat orang asing. Pertemuan impulsif yang diawali tuduhan miring dari sang ayah itu perlahan berubah menjadi kekaguman mendalam saat Tasya menyadari bahwa di balik penampilannya yang slengean, Rico menyimpan latar belakang luar biasa yang sanggup melumpuhkan segala penilaian buruk dan mengubah masa depannya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plugin Kapsule Corp

You cannot copy content of this page.

Options

not work with dark mode
Reset
Part of PT. King Alin Jaya