Malam harinya, dengan sisa-sisa harapan yang masih tersisa, aku mengendarai mobil menuju kompleks apartemen Dion di kawasan Jakarta Barat. Aku sangat membutuhkan sandaran dan pelukan hangat dari pria yang berencana melamarku di akhir tahun ini.
Setibanya di depan pintu unit apartemennya, aku menekan bel beberapa kali. Begitu pintu terbuka dan sosok Dion muncul di hadapanku, rasa lega sempat terbit di dadaku.
“Mas Dion …,” bisikku lirih sambil mencoba melangkah mendekat untuk memeluknya.
Namun, reaksi Dion sungguh di luar dugaan. Dia langsung melangkah mundur beberapa meter, memalingkan wajahnya, dan menutup hidungnya dengan telapak tangan penuh rasa mual.
“Jangan mendekat, Maya! Buka pintunya lebar-lebar dan jangan berani-berani sentuh aku!” bentaknya dengan suara bariton yang bergetar menahan amarah.
Langkahku terhenti seketika. Air mataku menetes makin deras. “Mas … kamu kenapa? Kenapa kamu ikut-ikutan menjauh dan bentak aku kayak gini? Aku lagi kena musibah besar, Mas ….”
“Kamu masih berani nanya kenapa?” mata Dion berkilat penuh kekecewaan yang sangat mendalam. “Coba kamu cium badan kamu sendiri! Tubuh kamu itu bau keringat dan racikan bahan kimia sengat yang biasa dikeluarkan tubuh pria habis berhubungan badan! Kamu pikir aku nggak tahu aroma busuk apa yang menempel di baju dan kulit kamu?”
Aku terpaku di tempat seperti patung es. Bau? Bau apa maksudnya?
Sejak kecelakaan lalu lintas parah dua tahun lalu yang merusak jaringan saraf hidungku, aku mengidap penyakit anosmia total. Aku tidak bisa menghirup aroma apa pun di dunia ini, baik aroma wangi bunga maupun bau busuk sampah. Bagi otakku, dunia ini sepenuhnya hampa dari bau.
Dion merogoh saku celananya, lalu melemparkan buket bunga kering dan kotak berisi cincin tunangan kami ke lantai hingga terpelanting di dekat kakiku.
“Kamu selingkuh di belakangku, ‘kan?! Pantas aja Laras usir kamu dari villanya, pantas aja Bu Widya mutus kontrak bisnis kamu! Kamu ternyata cewek gatal yang nggak pernah puas sama satu pria!”
“Mas, demi Tuhan aku nggak pernah selingkuh!” jeritku histeris, berusaha membela diri.
“Cukup! Keluar dari apartemenku sekarang! Hubungan kita selesai!” Dion membanting pintu depan dengan sangat keras, meninggalkan aku sendirian di lorong yang dingin.
Dengan hati yang hancur luluh, aku berjalan tanpa arah hingga terduduk di atas trotoar jalanan Jakarta di tengah guyuran hujan deras malam itu. Petir menyambar bergantian di langit malam.
Tiba-tiba, sebuah kilatan petir menyambar tiang listrik yang jaraknya hanya beberapa meter dari tempatku berteduh. Suara dentuman dahsyat dan gelombang kejutnya membuat tubuhku terhempas ke belakang.
Efek kejut hebat dari rangsangan listrik dan ketakutan ekstrem itu secara tidak terduga memicu reaksi lonjakan impuls pada jaringan saraf olfaktori otakku yang sudah lama tertidur.
Saat aku membuka mata dan mencoba menarik napas dalam-dalam di tengah basahnya hujan… sebuah keajaiban yang mengerikan terjadi.
Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, indra penciumanku mendadak berfungsi kembali!
Aku menghirup udara malam yang dingin,seketika itu juga, sebuah aroma asing yang sangat menyengat, amis, dan berbau kebasahan menyeruak tajam dari baju dan kulit lenganku.
Itu bukan bau keringat manusia biasa. Itu adalah aroma dari racikan bahan kimia sintetis yang sengaja dirancang untuk menirukan hormon pria setelah aktivitas fisik berat! Dan seketika itu juga, ingatan otakku berputar balik pada minyak aromaterapi khusus yang selalu disemprotkan Gendis ke syal dan bajuku setiap kali aku mau bepergian!
Hujan dan Keajaiban
Hujan dan Keajaiban
Posted by , ? Views, Released on October 9, 2026
Jejak Bangkai Si Iri Dengki
Status: Completed Released: 2026
Demi menghadiri pertunangan sahabatnya, Maya tidak menyadari kalau asisten yang dibesarkannya sendiri sedang merancang kehancuran hidupnya. Menderita anosmia, Maya diam-diam dijebak dengan racun parfum beraroma terlarang hingga dituduh berselingkuh, diusir sahabatnya, dipecat dari proyek miliaran, dan dicampakkan sang kekasih dalam semalam. Namun, saat keajaiban di tengah guyuran hujan memulihkan indra penciumannya dan membongkar fitnah keji tersebut, Maya merancang pembalasan dendam yang elegan dengan menyuntikkan racun aroma bangkai permanen ke dalam darah sang pengkhianat.