Bantu klik salah satu iklan, atau langsung ke https://saweria.co/awnovel buat dukung author tetap berkarya!
Sehari sebelum hari kelulusan, Tasya nekat mengirimkan pesan singkat untuk mengundang Rico datang ke acara wisudanya.
Rico membalas pesan itu dengan penuh semangat dan berjanji akan hadir di momen spesial Tasya.
Keesokan harinya, suasana di depan gedung auditorium universitas terasa begitu riuh dan dipadati oleh para calon wisudawan beserta keluarga mereka.
Tasya terus melirik ponselnya dengan gelisah sewaktu berjalan masuk ke dalam gedung bersama ayah dan ibunya.
“Kamu nungguin siapa sih dari tadi bolak-balik lihat HP terus?” tanya ibu sambil merapikan selendang kebaya Tasya.
“Eh, nggak kok, Ma. Cuma liat jam aja,” dalih Tasya pelan, padahal di dalam hati kepalanya makin dipenuhi rasa cemas.
Tasya tahu betul setiap wisudawan hanya mendapatkan dua undangan resmi untuk orang tua yang duduk di dalam aula utama, jadi dia berasumsi Rico kemungkinan besar menunggunya di luar gedung.
Namun, beberapa pesan singkat yang dia kirimkan sejak pagi sama sekali tidak dibalas oleh Rico, membuat hatinya perlahan menciut.
Ketika seluruh wisudawan dan tamu undangan sudah menduduki kursi masing-masing, lampu hall meredup dan acara prapuncak wisuda pun dimulai.
Suara melengking pembawa acara menggema lewat pengeras suara, memecah keheningan di dalam ruangan besar itu.
“Selanjutnya, marilah kita dengarkan orasi ilmiah dan kata sambutan pembakar semangat dari calon doktor sekaligus profesor muda berprestasi di bidang teknologi lingkungan kehutanan kita!” seru MC dengan nada antusias.
Tasya dan kedua orang tuanya yang duduk di barisan depan fokus menatap ke arah panggung utama tanpa prasangka apa pun.
Sesosok pria bertubuh tegap melangkah naik ke atas panggung dengan setelan jas hitam elegan yang sangat rapi, rambutnya tersisir klimis, dan wibawanya memancar begitu kuat.
Tasya menahan napas seketika, matanya membelalak sempurna saat mengenali raut wajah pria yang berdiri di balik podium tersebut.
Di sebelahnya, ayah dan ibu Tasya ikut tersentak hebat, saling melempar pandang dengan mulut sedikit terbuka karena tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Pria yang berdiri anggun di atas panggung itu adalah Rico.
“Selamat pagi kepada yang terhormat Rektor, jajaran Guru Besar, serta seluruh wisudawan beserta keluarga yang berbahagia,” sapa Rico dengan suara berat yang mantap dan penuh karisma.
Rico tidak hanya dikenal sebagai calon doktor dan profesor muda berprestasi di laboratorium kehutanan, juga merupakan pendiri sekaligus pemilik utama dari sebuah perusahaan start-up pemanfaat AI di sektor konservasi kehutanan.
Perusahaan teknologi milik Rico mengembangkan sistem kecerdasan buatan untuk memetakan pembalakan liar serta memprediksi kebakaran hutan secara real-time, sebuah inovasi besar yang membuatnya disegani oleh para akademisi dan pimpinan industri.
Ayah Tasya tertegun di kursinya, seketika teringat alasan kenapa wajah Rico terasa sangat tidak asing saat pertama kali melihatnya.
Foto Rico rupanya pernah terpampang di sampul jurnal internasional bereputasi tinggi yang sering dibaca oleh ayahnya di kampus.
Di atas panggung, setelah menyampaikan orasi ilmiahnya yang memukau, Rico tersenyum hangat lalu menatap lurus ke arah barisan Tasya.
“Untuk seseorang yang hari ini resmi menyelesaikan studinya, terima kasih sudah menjadi inspirasi dan alasan bagi saya untuk terus berkarya. Selamat atas kelulusannya, Natasya,” pungkas Rico menutup sambutannya, disambut tepuk tangan riuh dari seluruh isi gedung.
Riuh tepuk tangan membahana di seluruh sudut aula, membuat dada Tasya berdesir hebat dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena bangga sekaligus terharu.
Ibu Tasya berulang kali mengelus lengan ayahnya, “Pa, itu ‘kan cowok yang waktu itu anterin Tasya pulang, ‘kan? Ya ampun, anak pintar banget ternyata!”
Ayah Tasya hanya bisa terdiam membisu, rasa malu dan penyesalan mendalam menyergap benaknya mengingat betapa sinisnya dia menilai Rico dari tatonya saja.
Usai prosesi wisuda selesai, Tasya langsung berlari keluar gedung dan mendapati Rico sudah menunggunya di dekat taman dengan seikat bunga lily putih di tangannya.
“Sengaja ya nggak balas chat aku dari pagi?” seru Tasya dengan mata berbinar-binar, berpura-pura kesal padahal senyum bahagia memancar jelas dari wajahnya.
Rico terkekeh pelan sambil menyerahkan buket bunga itu, “Sengaja dong, biar kejutan ini makin berasa dan kamu makin kangen.”
“Kamu itu benar-benar ya! Aku sama orang tuaku sampai jantungan tahu nggak pas lihat kamu naik ke panggung!” pekik Tasya sambil memukul pelan lengan Rico.
“Tapi kejutannya berhasil, ‘kan? Lagian aku nggak bohong waktu dibilang mau datang ke wisuda kamu,” balas Rico dengan senyum manisnya yang melelehkan hati.
Ayah dan ibu Tasya menyusul melangkah mendekati mereka, raut kaku yang dulu sempat bertengger di wajah sang ayah kini melunak sepenuhnya berganti rasa hormat dan penyesalan.
“Rico … ternyata kamu kandidat doktor yang waktu itu saya baca di jurnal riset kehutanan,” ujar ayah Tasya sambil mengulurkan tangannya dengan tulus. “Maafkan saya atas penilaian yang salah waktu itu, saya cuma terlalu khawatir sama Tasya.”
Rico menyambut uluran tangan ayah Tasya dengan sangat hangat dan sopan, “Nggak apa-apa, Pak. Saya paham banget, itu wujud kasih sayang seorang ayah buat anaknya. Justru saya yang minta maaf sempat bikin panik waktu itu.”
“Dan soal proyek AI konservasi itu, luar biasa sekali. Nanti kalau ada waktu, kamu harus datang ke rumah lagi ya, kita diskusi banyak soal riset itu,” tambah ayah Tasya dengan nada antusias.
“Siap, Pak! Dengan senang hati saya bakal sering-sering main ke rumah buat nemenin Pak Profesor sekaligus apel ke Tasya,” jawab Rico canda yang disambut tawa hangat dari ibu dan Tasya.
Karina yang baru saja menyusul langsung melotot heboh, “Anjirr Sya! Cowok yang kamu ceritain itu ternyata calon profesor muda? Kamu dapet berlian karatan begini dari mana!”
Tasya tertawa lepas mendengar celotehan Karina, menatap Rico yang kini tampak serasi berdiri bersanding di tengah keluarga dan sahabatnya.
Pilihan hatinya tidak salah, cerita mereka yang berawal dari kepanikan dan kebablasan main ke club malam itu akhirnya bermuara pada masa depan yang cerah dan penuh kebahagiaan.