Satu bulan kemudian, studio desainku yang kini dikuasai Gendis menggelar pesta perayaan ulang tahun perusahaan sekaligus pengumuman resmi pengangkatan Gendis sebagai Direktur Utama yang baru. Pesta tersebut diadakan secara megah di ballroom sebuah hotel berbintang di kawasan Jakarta Selatan.
Aku hadir di pesta tersebut dengan mengenakan gaun malam berwarna hitam elegan. Gendis yang malam itu tampil menggunakan perhiasan mahal menyambut kedatanganku dengan senyuman kemenangan yang terpancar tajam di balik wajah pura-pura prihatinnya.
“Mbak Maya… akhirnya datang juga. Bagus deh kalau Mbak sudah bisa keluar rumah. Nggak apa-apa ya, Mbak, sekarang studio ini aku yang ambil alih demi menyelamatkan nama baik perusahaan. Mbak fokus saja pada pemulihan jiwa dan mental Mbak di rumah.”
Aku membalas senyumannya dengan sangat tenang. “Makasih banyak ya, Gendis. Kamu memang adik yang sangat perhatian.”
Sebelum acara puncaknya dimulai, aku secara khusus menyuruh salah seorang pelayan yang sudah kubayar untuk menyajikan cangkir minuman selamat datang berisi jus buah segar khusus kepada Gendis di balik panggung. Minuman tersebut sudah kutetesi dengan senyawa enzim pembalasan racikan ahli kimia itu dalam dosis maksimal.
Tanpa rasa curiga sedikit pun, Gendis meminum jus tersebut hingga habis tak tersisa.
Sepuluh menit kemudian, saat Gendis berdiri di atas panggung utama dan memegang mikrofon untuk memberikan pidato kehebatannya di hadapan ratusan tamu undangan, termasuk Laras, Bu Widya, Pak Gunawan, dan Dion yang juga diundangnya, aku melangkah menuju meja operator suara.
Aku mencabut kabel pemutar musik pesta, lalu menyambungkan flashdis pribadiku ke sistem tata suara gedung.
Detik berikutnya, rekaman percakapan rahasia antara Gendis dan rekannya yang berhasil diretas oleh tim spesialis IT independen bergema keras ke seluruh penjuru ruangan:
“Iri banget gue sama Maya! Dia cuma modal pinter gambar tapi punya segalanya, pacar kaya, klien pejabat, sama sahabat setia! Makanya gue racik aja parfum bau sperma itu ke bajunya tiap kali dia pergi. Terus gue kirim pesan fitnah ke Laras sama Bu Widya biar mereka mikir Maya itu cewek gatal! Sekarang studio mewahnya jatuh ke tangan gue tanpa perlu modal sepeser pun!”
Suara rekaman itu terdengar sangat jernih dan tegas. Seluruh isi ballroom seketika hening mencekam. Wajah Gendis yang tadinya penuh kesombongan mendadak pucat pasi seperti mayat. Laras, Bu Widya, dan Dion berdiri terpaku di tempat duduk mereka dengan mata membelalak tidak percaya.
Panggung Pembongkaran
Panggung Pembongkaran
Posted by , ? Views, Released on October 9, 2026
Jejak Bangkai Si Iri Dengki
Status: Completed Released: 2026
Demi menghadiri pertunangan sahabatnya, Maya tidak menyadari kalau asisten yang dibesarkannya sendiri sedang merancang kehancuran hidupnya. Menderita anosmia, Maya diam-diam dijebak dengan racun parfum beraroma terlarang hingga dituduh berselingkuh, diusir sahabatnya, dipecat dari proyek miliaran, dan dicampakkan sang kekasih dalam semalam. Namun, saat keajaiban di tengah guyuran hujan memulihkan indra penciumannya dan membongkar fitnah keji tersebut, Maya merancang pembalasan dendam yang elegan dengan menyuntikkan racun aroma bangkai permanen ke dalam darah sang pengkhianat.