Bab 1 Teh Pengikat

MKKN 1
5
(1)

Hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan setelah dua bulan terpisah, justru berubah menjadi mimpi buruk bagi keluarga Lina. Mala, anak perempuan mereka yang baru saja menyelesaikan KKN di Desa Sindang, dikabarkan hilang tanpa jejak.
“Bu, kalau malam ini sampai terlambat, Mala bakal lupa semuanya! Lupa keluarga, lupa siapa dirinya, semuanya!” Rendi, ayah Mala, menghampiri istrinya dengan napas terengah-engah dan wajah pucat pasi.
“Coba telepon sekali lagi, Bu! Siapa tahu HP-nya nyala!”
Tangan Lina gemetar hebat saat menekan ulang nomor putrinya. Telepon tersambung. Di dering ketiga, panggilan itu diangkat.
“Halo? Mala! Kamu di mana, Nak? Bukannya hari ini jadwalnya kamu pulang ke rumah?” suara Lina pecah oleh tangis.
Hening sejenak di ujung telepon. Hanya terdengar helaan napas pelan sebelum sebuah suara dingin membalas, “Ini siapa?”
“Mala, ini Ibu! Kamu … kamu nggak simpan nomor Ibu lagi?”
“Ibu siapa? Saya nggak punya Ibu, saya juga nggak punya keluarga di kota. Jangan telepon lagi.”
Bip. Sambungan diputus secara sepihak.
Sementara itu, di pelataran rumah panggung bergaya tradisional yang dikelilingi hutan jati, asap kopi menyerbak halus. Mala menaruh cangkir seng itu di meja kayu, lalu tersenyum manis pada Ridwan, pria lokal yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
“Telepon dari siapa, Sayang?” tanya Ridwan hangat sambil menerima kopi tersebut.
“Nggak tahu. Belakangan sering banget ada nomor kota yang telepon,” sahut Mala polos.
Ridwan tersenyum, lalu mengelus lembut kepala Mala. “Udah, abaikan aja. Orang kota itu pinter nipu, apalagi sama orang kampung kayak kita. Mereka cuma mau bikin kamu bingung.”
Mala mengangguk pelan, tapi hatinya merasa ada yang ganjil. Dia menatap kulit tangannya yang bersih, sama sekali tidak tampak seperti kulit warga desa yang terbiasa terbakar matahari.
“Ridwan … emang aku beneran lahir dan besar di sini ya?” tanya Mala ragu.
Gerakan tangan Ridwan yang hendak menyesap kopi mendadak terhenti. Sorot matanya membeku sepersekian detik, sebelum senyum manisnya kembali terkembang. Senyum yang entah kenapa membuat tengkuk Mala mendadak dingin.
“Tuh ‘kan, kebiasaan suka lupa,” bisik Ridwan sambil mengelus bahu Mala, merengkuhnya rapat. “Kamu ‘kan asli sini. Dari kecil kita udah dijodohkan sama Mbah. Masa lupa?”
Mala menunduk, menatap jari manis di tangan kirinya. Di sana ada bekas lingkaran pucat yang samar, seperti bekas cincin yang baru saja dilepas secara paksa. Padahal seingatnya, dia tidak pernah memakai perhiasan apa pun.
Lalu, kenapa setiap kali aku memejamkan mata, yang terasa di lidahku cuma rasa teh sangit yang pahit?
“Oiya,” suara Ridwan membuyarkan lamunannya. Pria itu menyodorkan secangkir teh keruh hangat yang asapnya masih mengepul. “Minum dulu teh herbalnya. Katanya tadi malam kepalamu pusing lagi, ‘kan?”
Aroma sangit menyengat yang sangat familier langsung merayapi hidung Mala. Bau teh yang sama dengan yang dia minum di malam pertama kedatangannya ke desa ini dua bulan lalu.
Tepat saat Mala hendak menerima cangkir itu, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang mengaku sebagai ibunya tadi:
[MALA, JANGAN MINUM TEH ITU! MEREKA KASIH TEH PENGIKAT SAJEN BIAR INGATANMU HILANG TOTAL! KAMU BUKAN ORANG SANA, KAMU MAU DIJADIKAN TUMBAL PENGANTIN DESA! LARI!]
Tangan Mala gemetar hebat. Dia mendongak perlahan, dan dari pantulan kaca jendela di depannya, dia melihat Ridwan tidak lagi tersenyum. Pria itu menatapnya dengan tatapan dingin, tajam, dan penuh ancaman.
“Kenapa nggak diminum, Mala?” bisik Ridwan tepat di samping telinganya.

Rate cerita ini yuk Kak!

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Malapetaka KKN

Malapetaka KKN

Status: Completed Author: Released: 2026

KKN yang seharusnya menjadi kenangan indah masa kuliah justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Mala saat dia dijebak oleh Ridwan, pria lokal Desa Sindang yang mengincarnya untuk dijadikan tumbal pengantin desa. Melalui seduhan teh sangit berpelet gaib, ingatan dan kesadaran Mala direnggut perlahan hingga dia lupa pada keluarganya dan tergila-gila pada Ridwan, meninggalkan teman-teman KKN-nya dalam ketakutan dan kebingungan. Berpacu dengan waktu sebelum jiwa Mala terkunci selamanya di malam ritual penutupan, Rendi dan Lina bersama rombongan kecilnya nekat menerobos kegelapan Desa Sindang demi menembus sihir kelam dan membawa pulang putri mereka dari cengkeraman malapetaka tersebut.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plugin Kapsule Corp

Options

not work with dark mode
Reset
Part of PT. King Alin Jaya