Bantu klik salah satu iklan, atau langsung ke https://saweria.co/awnovel buat dukung author tetap berkarya!
Pintu rumah tertutup dengan dentuman keras, meninggalkan suara gema yang makin memperjelas keheningan mencekam di dalam ruang tamu.
Ibu langsung menarik Tasya untuk duduk di sofa, sementara ayah berdiri di depannya dengan kedua tangan bersedekap dan napas yang memburu.
“Tasya! Mau jadi apa kamu keluyuran sampai subuh, pulang-pulang basah kuyup sama cowok berantakan kayak tadi?” semprot ayah dengan suara beratnya yang biasa menggema di ruang kuliah.
“Pa, dengarin penjelasan aku dulu. Rico itu bukan cowok nakal, dia justru yang udah tolongin aku!” bela Tasya dengan suara bergetar, berusaha menahan pusing yang masih tersisa di kepalanya.
“Tolongin apa? Kamu bau alkohol, Tasya! Pakaian kamu basah, rambut kamu acak-acakan. Kamu mikir nggak sih kalau tetangga ada yang lihat anak dosen dipulangin cowok bertato jam segini?” timpal ibu dengan nada kecewa yang menusuk.
“Aku dicekokin obat sama orang di klub, Ma! Kalau nggak ada Rico, aku nggak tahu nasib aku bakal gimana malam ini,” potong Tasya cepat, akhirnya menumpahkan kenyataan pahit yang membuatnya menggigil ketakutan.
Ayah dan ibu seketika bungkam, saling melempar pandang dengan raut wajah terkejut yang tidak bisa disembunyikan.
Amarah di mata ayah perlahan memudar, berganti dengan kekhawatiran yang coba ditahannya rapat-rapat.
Ayah hela napas panjang, lalu berjalan mendekati sofa dan duduk di samping ibu.
“Kamu itu sudah 21 tahun, Tasya. Kamu udah dewasa, udah lulus sarjana juga,” ujar ayah dengan nada yang jauh lebih tenang, meski masih tersirat ketegasan di dalamnya.
“Ayah sama ibu marah bukan cuma karena gengsi atau penampilan cowok itu, tapi karena khawatir. Kamu itu udah gede, harusnya bisa lebih hati-hati milih lingkungan dan teman,” lanjut ayah sambil menatap Tasya dalam-dalam.
Ibu mengusap bahu Tasya yang masih agak dingin, menyalurkan rasa lega sekaligus penyesalan karena sempat menuduh sembarangan.
“Lain kali kalau ada apa-apa, langsung kabarin ibu atau ayah. Jangan jalan sendiri dalam kondisi panik,” tambah ibu dengan raut wajah yang mereda.
“Iya, Ma, Pa … maafin Tasya,” bisik Tasya sambil menunduk, merasa bersalah sekaligus lega karena orang tuanya tidak lagi emosi.
Merekapun menyuruh Tasya masuk ke kamar untuk membersihkan diri dan beristirahat.
Saat merebahkan tubuhnya di kasur, bayangan sosok Rico yang tetap santai meski dituduh macam-macam oleh orang tuanya justru kembali berputar di kepala Tasya, membuat dadanya lagi-lagi berdesir aneh.
Sayang sekali, karena kejadian ini begitu cepat dan mengerikan, Tasya sampai lupa meminta nomor Rico.
Sementara itu di apartemen Rico, Rico baru mencoba memejamkan matanya, tapi entah kenapa bayangan Tasya juga muncul di benaknya.
Siapa wanita itu ya?
“Den, minta tolong cari tahu seseorang …,” ucap Rico melalui telepon kepada Deni, asistennya.
Tak butuh waktu lama, Rico mendapatkan informasi mengenai Tasya.
Sebuah dokumen digital terkirim ke ponsel Rico, menampilkan data pribadi Tasya lengkap dengan riwayat pendidikannya yang baru saja lulus dari kampus bergengsi.
Rico menyandarkan punggungnya di sofa sambil tertawa kecil, memandangi foto formal Tasya di layar ponsel yang terlihat sangat kontras dengan penampilannya yang kacau tadi malam.
“Natasya Putri … anak profesor, calon wisudawan, pantesan bapaknya galak banget,” gumam Rico sambil mematikan layar ponselnya.
Sebuah ukiran senyum tipis terbit di bibir Rico saat menyadari bahwa lingkaran dunia mereka sebenarnya tidak sejauh yang dia bayangkan.