Bantu klik salah satu iklan, atau langsung ke https://saweria.co/awnovel buat dukung author tetap berkarya!
Saat Tasya mulai kembali sadar, dia melihat ponselnya sudah banyak panggilan telepon tidak terangkat dari Karina.
“Halo Rin, aduh kamu tadi ke mana sih?” tanya Tasya dengan kesal.
Tidak disangka, Karina justru marah balik, “Kamu yang ke mana? Aku cari-cari nggak ada. Aku panik banget, hampir lapor polisi, sialan tadi minuman dari baristanya dicampur obat sama om-om yang tertarik sama kamu.”
Tasya mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
“Tadi aku panik banget, jadi buru-buru pulang, sekarang aku ….” Tasya hendak menceritakan pertemuannya dengan Rico, “Aman, kamu nanti langsung pulang aja ya.”
“Yakin aman? Aku jemput aja deh, kamu di mana sekarang?”
“Nggak usah, nggak apa-apa, aku pusing banget, aku tidur dulu ya,” jawab Tasya lalu menutup teleponnya.
Saat mau mengeringkan rambut, Tasya baru sadar, Rico sedari tadi sudah pergi ke balkon untuk menelepon seseorang sambil merokok.
Entah kenapa, jantung Tasya berdegup kencang melihat Rico yang terlihat begitu tenang itu.
Selang beberapa saat, Rico mematikan rokoknya dan kembali masuk ke dalam kamar, lalu menatap Tasya yang masih menggigil.
“Udah agak mendingan? Baju kamu basah kuyup gitu, mending aku anterin kamu pulang sekarang sebelum kamu masuk angin,” kata Rico santai sambil mengambil kunci mobilnya dari atas meja.
Tasya sempat ragu, tapi sadar kalau dia tidak punya pilihan lain dalam kondisi lemas begini.
Sepanjang perjalanan di dalam mobil, suasana terasa hening, hanya terdengar suara musik radio berputar pelan sementara Rico fokus menyetir dengan satu tangan.
Ketika mobil Rico akhirnya berhenti di depan pagar rumah Tasya, lampu teras rumah yang menyala terang langsung membuat perut Tasya melilit ketakutan.
Mobil orang tuanya yang seharusnya baru besok tiba dari luar kota, ternyata sudah terparkir rapi di garasi.
“Kenapa? Kok muka kamu makin pucat?” tanya Rico sambil menatap Tasya heran.
Belum sempat Tasya menjawab, pintu utama rumah terbuka lebar dan dua sosok paruh baya berpenampilan kaku berjalan cepat menghampiri mobil.
Tasya dan Rico bergegas turun dari mobil, tetapi langkah mereka langsung terhenti oleh tatapan tajam dan dingin dari ayah Tasya.
“Tasya! Dari mana aja kamu jam segini baru pulang, hah? Bau apa ini?” bentak ayahnya saat mengendus aroma samar alkohol dan mendapati penampilan Tasya yang lumayan berantakan.
“Pa, aku … aku bisa jelasin ….”
“Dan kamu siapa?” potong ayahnya dengan nada menekan, mengalihkan pandangannya tajam ke arah Rico.
Tatapan ayah dan ibu Tasya menyapu penampilan Rico dari ujung kepala sampai ujung kaki, kaus oblong hitam, rambut berantakan, serta tato singa di lengan kanannya yang terpampang jelas.
“Saya cuma anterin anak Bapak pulang,” jawab Rico tetap tenang, meskipun nada bicaranya terkesan terlalu santai di mata orang tua Tasya.
“Gaya kamu kayak preman jalanan begini! Kamu yang ceckoki anak saya sampai mabuk begini, ‘kan?” tuduh ayahnya penuh prasangka tanpa mau mendengar dulu.
“Masuk rumah sekarang, Tasya! Dan kamu, jangan pernah coba-coba dekati anak saya lagi!” tegur ibunya menambahkan dengan raut wajah jijik.
Tasya ditarik masuk secara paksa ke dalam rumah oleh ibunya, meninggalkan Rico yang hanya terkekeh pelan dan mengelus tengkuknya sambil menatap pintu rumah yang didobrak tutup dengan keras.