Bantu klik salah satu iklan, atau langsung ke https://saweria.co/awnovel buat dukung author tetap berkarya!
“Badan aku panas banget, please tolongin aku,” ujar Tasya sambil mencoba membuka pakaiannya.
Pria bertubuh kekar dengan tato singa di lengan kanan atasnya itu justru mondar-mandir di kamar hotel itu.
“Aduh, tolong gimana?” Rico mencoba kembali menutup pakaian Tasya, “Kamu mau aku ….”
Tasya mendorong Rico, tapi anehnya dia kembali menarik Rico.
Rico sempat tertegun lama saat jarak wajah mereka berdekatan, tatapan sayu Tasya dan hembusan napas hangatnya hampir saja memancing Rico buat lepas kendali meraup bibir wanita itu.
Namun, tepat sebelum bibirnya menyentuh bibir Tasya, kenyataan bahwa wanita di depannya ini sedang berada di bawah pengaruh obat langsung menyengat kesadarannya.
Saat itulah, Rico akhirnya membopong Tasya ke bathtub kamar hotel itu. Rico segera mengucurkan air dingin sampai air berhasil merendam tubuh Tasya.
Derasnya kucuran air dingin yang mengguyur tubuhnya membuat kesadaran Tasya perlahan merayap kembali, menghentikan erangan dan gejolak aneh yang sempat menguasai pikirannya beberapa menit lalu.
Pakaian Tasya basah kuyup melekat di kulitnya, sementara bulir-bulir air dingin mengalir turun dari helai rambutnya yang berantakan, membantunya menetralisasi efek obat liar yang sempat menggerogoti logika.
Kalau dilihat kembali ke belakang, kejadian gila malam ini sebenarnya berawal dari rasa frustrasi Tasya yang sudah mencapai titik puncak.
Sudah tiga minggu sejak sidang skripsinya dinyatakan lulus, tetapi jadwal wisuda dari pihak kampus tidak kunjung keluar, membuat harinya dipenuhi rasa jenuh dan tekanan pasif dari rumah.
Rumahnya terasa seperti penjara tidak berjeruji, tempat di mana standar akademis yang kaku selalu menuntutnya menjadi sosok sempurna tanpa celah.
“Sya, ayolah! Kamu mau bertapa di kamar terus sampai janggutan?” suara Karin melengking dari seberang telepon sore tadi, berusaha membujuknya untuk keluar malam ini.
“Lagi males banget, Rin. Lagian mama sama papa pasti nanya-nanya kalau aku keluar jam segini,” balas Tasya saat itu sambil menghempaskan tubuhnya ke kasur.
“Orang tua kamu ‘kan lagi ada seminar luar kota sampai lusa, Sya! Cuma malam ini kita bisa bebas tanpa diinterogasi. Sesekali lepas penat, biar otak kamu nggak beku.”
Hembusan napas berat sempat lolos dari bibir Tasya saat menatap langit-langit kamar, merasa bujukan Karin akhirnya meruntuhkan pertahanannya.
Rasa bosan yang menumpuk dan keinginan sesaat untuk kabur dari kenyataan akhirnya memenangi perdebatan di dalam benaknya.
“Ya udah, tapi aku nggak mau pulang kemalaman ya, Rin,” kata Tasya menyetujui ajakan itu, tanpa pernah menduga bahwa keputusan impulsif tersebut akan melemparkannya ke dalam kekacauan malam ini.
Dua jam setelah obrolan telepon itu, Tasya sudah terseret ke dalam hiruk-pikuk klub malam yang bising dengan dentuman musik bass yang menggetarkan dada.
Cahaya lampu neon warna-warni yang berkelebat cepat sempat membuat kepalanya pusing, tapi aura kebebasan di tempat itu sempat berhasil mengalihkan beban pikirannya.
“Minum dulu, Sya! Biar makin rileks,” ujar Karin sambil menyodorkan segelas minuman berwarna keemasan yang langsung diteguk Tasya tanpa rasa curiga sedikit pun.
Naas, baru dua tegukan masuk ke kerongkongannya, pandangan Tasya mendadak goyang dan persendian di seluruh tubuhnya mendadak terasa lemas luar biasa.
“Rin … kok kepala aku pusing banget ya?” gumam Tasya sambil memegang pelipisnya, tapi suara dentuman musik dengan cepat menelan rintihannya.
Karin yang sedang asyik berjoget di dekat panggung sama sekali tidak menyadari kondisi Tasya yang mulai kehilangan keseimbangan dan terpisah dari kerumunan.
Sebelum Tasya benar-benar ambruk ke lantai, seorang pria berwajah klimis tiba-tiba merangkul pinggangnya dan berusaha menyeretnya menuju pintu keluar belakang yang remang-remang.
Beruntung, Rico yang tidak sengaja melintas di lorong itu langsung melihat kejanggalan tersebut dan memasang badan untuk menyelamatkan Tasya.
Rico bahkan sempat berduel mulut dan mengancam memanggil pihak keamanan sebelum akhirnya pria mesum itu kabur melarikan diri ketakutan.
Setelah berhasil mengusir pria asing itu, Rico yang panik melihat kondisi Tasya yang makin tidak terkendali akibat efek obat pencekokan itu akhirnya memutuskan membawa Tasya ke hotel terdekat.
Kini, terduduk lemas di dalam bathtub yang meluap dengan air dingin, Tasya mendongak menatap Rico yang berdiri di sampingnya dengan napas terengah-engah dan kaus basah kuyup.
“Udah agak mendingan?” tanya Rico sambil menyisir rambutnya yang berantakan ke belakang, menatap Tasya dengan raut wajah campuran antara khawatir dan lega.
Tasya hanya bisa mengangguk pelan sambil menggigil, menatap cowok asing bertato singa di depannya itu dengan perasaan yang campur aduk dan kepala yang masih menyisa pening.