Bantu klik salah satu iklan, atau langsung ke https://saweria.co/awnovel buat dukung author tetap berkarya!
Suasana di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang terasa jauh lebih hangat, diisi sisa-sisa obrolan seru mereka tentang analisis lingkungan yang tadi sempat dibahas.
Ketika mobil Rico berhenti tepat di depan pagar rumah, ayah Tasya rupanya sudah menunggu di teras sambil membaca buku.
Tasya dan Rico turun bersamaan dari mobil, menyapa pria paruh baya yang kini melangkah mendekati mereka.
Berbeda dari pertemuan sebelumnya, wajah ayah Tasya kali ini tidak sejutek kemarin, walau aura tegasnya sebagai akademisi senior tetap terasa kuat.
“Malam, Pak,” sapa Rico sopan sambil menganggukkan kepala.
“Malam. Tasya, kamu masuk duluan ya, ganti baju. Ada yang mau Papa tanyakan sebentar sama teman kamu ini,” ujar ayah Tasya dengan nada tenang tapi tidak bisa dibantah.
Tasya sempat melempar kerlingan cemas pada Rico, tetapi Rico hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan, mengisyaratkan bahwa semuanya bakal baik-baik saja.
Setelah Tasya berjalan masuk ke dalam rumah, ayah Tasya melipat tangannya di dada dan menatap Rico lekat-lekat.
“Panggil kamu siapa tadi? Rico, ya?” tanya ayah Tasya membuka percakapan.
“Iya, Pak. Rico,” jawabnya ramah.
“Saya cuma mau bicara santai dari hati ke hati sebagai seorang ayah,” ucap ayah Tasya sambil menatap lurus mata Rico. “Tasya itu baru lulus sarjana, jalannya masih sangat panjang. Dia punya ambisi besar buat lanjut S2, kariernya masih panjang, dan fokus utamanya sekarang harus ke masa depannya.”
Ayah Tasya jeda sejenak, mengamati penampilan Rico yang santai. “Saya tidak tahu latar belakang kamu seperti apa, tapi kalau kamu cuma mau main-main atau bawa pengaruh tidak benar buat anak saya, lebih baik kamu berhenti dari sekarang.”
Rico mendengarkan setiap kalimat itu dengan sikap tubuh yang tenang dan tidak defensif sama sekali.
“Saya paham banget kekhawatiran Bapak,” balas Rico jujur dengan tatapan mata yang mantap. “Saya jujur sama Bapak, saya memang mau mengenal Tasya lebih dalam. Tapi saya sama sekali nggak ada maksud macam-macam atau berniat ganggu fokus hidupnya. Saya tahu Tasya anak yang pintar dan punya masa depan cerah, saya justru maudukung dia.”
Ayah Tasya diam sebentar, meneliti ketulusan di raut wajah Rico yang tampak begitu dewasa saat berbicara.
“Bagus kalau kamu paham,” respons ayah Tasya akhirnya sambil mengangguk pelan. “Hati-hati di jalan kalau pulang.”
Setelah mobil Rico menghilang di ujung jalan, ayah masuk ke dalam rumah dan mendapati Tasya sedang berdiri cemas di dekat meja makan.
“Tasya, duduk sebentar,” panggil ayah sambil menarik salah satu kursi kayu di ruang tamu.
Tasya berjalan pelan lalu duduk di hadapan ayahnya, “Ayah ngobrol apa aja sama Rico?”
Ayah menghela napas panjang, menatap anak perempuannya dengan raut wajah penuh pertimbangan.
“Saran ayah, mending kamu nggak usah terlalu dekat sama Rico. Dia keliatannya nggak bakal bisa dukung masa depan kamu yang masih panjang ini. Latar belakangnya nggak jelas, dari penampilannya aja keliatan begitu slengean,” tutur ayah dengan nada lembut tapi sarat penolakan.
“Tapi Rico nggak kayak gitu, Yah …,” bisik Tasya pelan, tidak berani membantah lebih jauh karena tidak mau memicu perdebatan malam-malam.
Begitu masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu, Tasya langsung meraih ponselnya lalu menelepon Karina untuk menumpahkan seluruh isi kepalanya.
“Aduh Sya, kamu jangan asal bikin closure sendiri dong!” seru Karina dari seberang telepon setelah mendengarkan cerita Tasya. “Cari tahu dulu soal Rico yang sebenarnya. Siapa tahu dia memang punya dunianya sendiri yang belum kamu ketahui. Sabar dulu, jangan langsung ngehindar.”
“Tapi ayah aku kaku banget, Rin. Beda dikit dari standar akademis langsung dicap nggak benar,” desah Tasya sambil memeluk bantal.
“Udah, jalanin dulu aja pelan-pelan. Ngomong-ngomong, kamu udah cek grup angkatan belum? Jadwal wisuda kita akhirnya keluar!” potong Karina dengan nada antusias, mencoba mengalihkan suasana.
Mata Tasya membelalak, rasa gundahnya seketika terdistraksi, “Seriusan, Rin? Kapan?”
“Dua minggu lagi! Siap-siap dandan yang cantik, akhirnya masa penantian berdarah-darah kita selesai juga!” seru Karina kegirangan.