“Mas … ini tempat apa?!” seru Fanny panik, suaranya gemetar hebat. “Kok tempatnya kayak tempat dukun gini, sih?”
Fanny memutar tubuhnya, berniat lari sekencang mungkin keluar dari ruangan berdarah dingin itu. Namun, sebelum kakinya sempat melangkah, sebuah kain basah beraroma menyengat mendadak membekap hidung dan mulutnya dari belakang.
Fanny meronta histeris, jemarinya mencengkeram lengan orang yang membekapnya. Namun pandangannya langsung kabur, badannya melemas seketika, dan semuanya berubah menjadi gelap gulita saat tubuhnya ambruk ke lantai.
Kesadaran Fanny kembali perlahan. Kepalanya terasa sangat berat dan berdenyut nyeri. Saat mencoba menggerakkan tangan dan kakinya, rasa dingin logam langsung menusuk kulitnya. Fanny tersentak kaget. Kedua tangan dan kakinya sudah terikat erat pada sebuah kursi kayu tebal di tengah ruangan beraroma bunga kemenyan itu.
“Mas … Mas Johan! Tolong!” jerit Fanny histeris, air matanya menetes deras membasahi pipi.
Suara langkah kaki bergaung pelan di atas lantai kayu. Sesosok perempuan melangkah keluar dari sudut ruangan yang gelap, mengenakan gaun hitam anggun dengan riasan wajah yang sangat tenang. Di sampingnya, Johan berjalan santai, menggenggam jemari perempuan itu dengan begitu erat dan penuh kasih sayang.
Fanny membelalakkan mata tidak percaya. “Raisa?! Mas … kenapa dia bisa ada di sini?! Tolongin aku, Mas!”
Raisa menghentikan langkahnya tepat di hadapan Fanny. Dia menyunggingkan senyum tipis yang begitu dingin, senyum yang sama sekali berbeda dari raut wajah istri lugu dan teraniaya yang selama ini dilihat Fanny di media sosial.
“Kasihan banget kamu, Fanny,” bisik Raisa lembut, lalu mengelus pipi Fanny yang basah oleh air mata. “Kamu beneran percaya kalau Johan cinta sama kamu?”
Fanny menatap Johan dengan tatapan memohon. “Mas … maksudnya apa ini? Kamu bilang mau nikahin aku ‘kan?! Kamu bilang mau ceraiin dia!”
Johan terkekeh pelan, nada suaranya berubah dingin dan menusuk. “Nikah sama kamu? Fanny, dari awal kamu itu cuma bidak. Pabrik gula baru kita butuh tumbal penarik rezeki tiap lima tahun sekali. Dan kriteria tumbalnya harus perempuan yang penuh rasa iri, serakah, dan merasa dirinya paling menang.”
“Nggak … nggak mungkin! Kamu bohong!” jerit Fanny histeris, tubuhnya meronta-ronta hebat sampai kursinya bergetar.
“Makasih ya udah rajin posting foto mesra sama Johan,” timpal Raisa sambil mengeluarkan ponsel dari tasnya, memamerkan folder foto dan status media sosial yang selama ini ditata rapi. “Postingan kamu dan status temen-temen kantor Johan bikin semua orang percaya kalau aku ini istri sah yang terdzalimi. Jadi pas kamu mendadak hilang tanpa jejak … orang-orang cuma bakal mikir kamu kabur karena malu atau merasa bersalah udah ngerusak rumah tangga orang.”
Fanny menggeleng-gelengkan kepalanya liar. “Kalian berdua iblis! Johan, aku cinta kamu, Mas!”
“Tapi kamu lebih mencintai harta dan gengsi, Fanny,” potong Johan dingin. Dia mengambil sebilah belati berukir kuno dari atas meja altar, lalu menyerahkannya ke tangan Raisa.
Raisa menerima belati itu dengan tenang. Dia menatap Fanny yang menangis sesenggukan meraungkan penyesalan.
“Semua lipstik Dior, pakaian mewah, dan janji manis yang Johan kasih … itu cuma harga mutlak buat nyawa kamu malam ini,” bisik Raisa tepat di telinga Fanny.
Cahaya lilin bergetar hebat saat angin laut bertiup kencang menerpa jendela kayu. Jeritan histeris Fanny bergema memenuhi ruangan remang itu, sebelum akhirnya tenggelam sepenuhnya di balik riak deburan ombak pantai selatan yang dingin.
Dua bulan kemudian, berita pembukaan pabrik gula baru milik keluarga Johan dan Raisa menjadi sorotan utama di berbagai media. Di hadapan kamera para wartawan, Raisa berdiri anggun di samping Johan, tersenyum manis sambil menggandeng mesra lengan suaminya, pemenang sejati yang tidak tersentuh di balik panggung sandiwara mereka.
Malam Eksekusi
Dia Pikir Dia Pemenangnya
Di balik citra istri sah teraniaya yang pasrah saat suaminya, Johan, terang-terangan berselingkuh dengan Fanny demi gaya hidup mewah, Raisa sebenarnya menggenggam kendali penuh atas sandiwara manipulatif yang mereka susun bersama. Fanny yang dibutakan oleh rasa menang dan tumpukan barang branded tak pernah menyadari bahwa setiap perhatian, liburan romantis di pantai privat, hingga konflik rumah tangga yang sengaja diumbar hanyalah jebakan manis yang dirancang khusus oleh pasangan suami istri tersebut untuk memuluskan niat terselubung mereka demi kejayaan bisnis pabrik gula yang baru.