Dua minggu berlalu cepat. Sesuai janjinya, Johan mengajak Fanny untuk liburan berdua ke kawasan pantai privat di pesisir selatan, tempat yang tak jauh dari lokasi bakal pabrik gula barunya. Fanny benar-benar berbunga-bunga sepanjang jalan, merasa usahanya mendesak Johan akhirnya membuahkan hasil manis.
Begitu mobil mereka berhenti di pelataran sebuah resort mewah bergaya klasik di tepi pantai, para staf hotel langsung berbaris ramah menyambut kedatangan mereka.
“Selamat datang kembali, Pak Johan,” sapa manajer hotel dengan nada sangat hormat.
Fanny yang berjalan menempel di samping Johan membelalakkan mata kagum. Begitu memasuki kamar suite mewah yang langsung menghadap ke laut lepas, kebanggaannya makin membuncah. Staf hotel yang begitu patuh membuat Fanny menyadari satu hal, resort megah ini ternyata milik keluarga Johan. Hati Fanny makin mantap untuk menyingkirkan Raisa secepatnya.
“Mas, ini bagus banget!” seru Fanny girang, langsung menghambur ke atas ranjang berukuran king size. “Kamu emang paling tahu cara manjain aku. Aku jadi makin nggak sabar buat lanjutin hubungan kita ke jenjang yang lebih serius.”
Johan cuma tersenyum tipis, meletakkan koper mereka di sudut ruangan. “Kamu suka, ‘kan? Di sini tenang, nggak akan ada yang ganggu kita.”
Malam harinya, suasana pantai berubah makin senyap. Suara deburan ombak di luar terdengar begitu keras dan konstan. Fanny yang sudah mengenakan gaun tidur tipis mendekati Johan yang sedang berdiri di dekat jendela kaca besar. Di dalam pikirannya, malam ini akan menjadi malam pertama mereka yang benar-benar intim.
Namun, ketika Fanny mencoba memeluk pinggang Johan dari belakang, lelaki itu perlahan melepaskan genggaman tangan Fanny. Johan berbalik, mengusap pipi Fanny lembut namun menahan jarak.
“Mas?” Fanny menatapnya bingung.
“Jangan sekarang ya, Sayang,” bisik Johan manis. “Aku mau suasana malam pertama kita nanti benar-benar spesial. Setelah aku resmi cerai dari Raisa dan kita nikah, baru kita lakukan semuanya tanpa beban.”
Fanny mendesah kecewa, tapi tutur kata Johan yang begitu menghargainya membuat rasa kecewa itu cepat menguap. “Ya udah deh … tapi janji ya, begitu urusan kamu beres, langsung nikahin aku.”
“Pasti,” jawab Johan mantap.
Johan kemudian pamit sebentar ke balkon untuk menerima telepon pekerjaan. Tinggal sendirian di dalam kamar luas itu, Fanny mendadak merasa bulu kuduknya berdiri. Hawa dingin yang aneh membelai tengkuknya, padahal AC kamar tidak tertuju langsung ke arahnya.
Fanny menoleh cepat ke sudut kamar yang remang. Entah kenapa, dia merasa ada sepasang mata yang sedang menatapnya tajam dari balik kegelapan. Perasaan tertekan dan tidak nyaman mendadak merayapi dadanya. Fanny mengerutkan dahi, meneliti tiap sudut ruangan dengan cermat. Tidak ada siapa-siapa di sana, hanya bayangan tirai yang bergoyang pelan tertiup angin laut.
Fanny menggelengkan kepala, mencoba mengusir rasa takut yang mendadak muncul. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu cuma halusinasinya saja akibat terlalu lelah berpergian jauh.
Malam makin larut sewaktu Johan kembali dari balkon. Dia mendekati Fanny yang masih tampak gelisah di tepi ranjang.
“Sayang, mumpung kita di sini, aku mau mengenalkan kamu ke suatu tempat,” bisik Johan dengan nada tenang. “Ada ruangan khusus keluarga di area belakang resort. Tempat biasa keluargaku mendoakan kelancaran bisnis.”
Fanny mengusap lengannya yang masih terasa dingin. “Aduh, Mas … aku udah capek banget, mau tidur aja. Nanti aja bisa nggak?”
“Cuma sebentar kok, Sayang,” bujuk Johan sambil mengusap kepala Fanny lembut. “Ini penting buat kelancaran hubungan kita juga. Kamu mau ‘kan bisnis pabrik gula kita sukses dan pernikahan kita dapat restu yang kuat?”
Mendengar kata pernikahan dan bisnis, Fanny akhirnya mengalah. Dia bangkit dari kasur, melangkah mengekor di belakang Johan menelusuri koridor panjang yang makin lama makin gelap dan sunyi. Suara deburan ombak di luar mendadak terdengar samar, berganti dengan aroma dupa yang menyengat hidung.
Johan berhenti di depan sebuah pintu kayu jati berukir kuno. Dia mendorong pintu itu perlahan hingga terbuka lebar.
Mata Fanny membelalak sempurna, napasnya tertahan di tenggorokan. Di dalam ruangan luas yang remang itu, tak ada perabotan mewah sama sekali. Sebaliknya, ruangan itu dipenuhi nampan-nampan berisi bunga tujuh rupa, kemenyan yang membumbung tipis, serta kain-kain hitam dan merah yang melapisi dinding. Di tengah ruangan, tampak sebuah tempat pemujaan yang memancarkan aura mencekam luar biasa.
Hotel Punya Johan
Dia Pikir Dia Pemenangnya
Di balik citra istri sah teraniaya yang pasrah saat suaminya, Johan, terang-terangan berselingkuh dengan Fanny demi gaya hidup mewah, Raisa sebenarnya menggenggam kendali penuh atas sandiwara manipulatif yang mereka susun bersama. Fanny yang dibutakan oleh rasa menang dan tumpukan barang branded tak pernah menyadari bahwa setiap perhatian, liburan romantis di pantai privat, hingga konflik rumah tangga yang sengaja diumbar hanyalah jebakan manis yang dirancang khusus oleh pasangan suami istri tersebut untuk memuluskan niat terselubung mereka demi kejayaan bisnis pabrik gula yang baru.