Sebulan berlalu, hubungan Raisa dan Johan mulai terasa dingin dan merenggang. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, Raisa menunjukkan emosi yang meluap-luap. Suasana kamar mendadak panas sewaktu Johan melangkah masuk melintasi pintu rumah hampir tengah malam, untuk ketiga kalinya secara berturut-turut dalam minggu ini.
“Mas! Kamu baru pulang jam segini lagi?!” seru Raisa dengan mata memerah, menunjuk jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. “Alasan kamu rapat operasional terus! Kamu jujur sama aku, Mas … kamu sebenarnya udah beneran baper ‘kan sama Fanny?!”
Johan terkejut melihat meledaknya amarah istrinya yang biasanya tenang. Dia buru-buru mendekat, memeluk tubuh Raisa yang gemetar hebat akibat luapan emosi yang dibuat-buat itu.
“Sayang, tenang dulu, demi Tuhan nggak …,” bisik Johan penuh penyesalan, menangkup kedua pipi Raisa dan menatap matanya dalam-dalam. “Nggak akan ada yang bisa gantikan posisi kamu di hidup aku, Raisa. Cinta aku cuma buat kamu, selamanya cuma kamu. Aku sibuk di luar itu semua demi mempercepat urusan proyek pabrik kita.”
Raisa melepaskan diri dari pelukan suaminya, lalu memalingkan wajah sambil mengusap air mata di pipinya.
“Biar kamu percaya dan buat menebus kesibukan aku belakangan ini, akhir pekan ini kita liburan ke Singapura ya?” bujuk Johan lembut. “Cuma liburan singkat dua hari, khusus buat kita berdua.”
Raisa akhirnya mengangguk pasrah, berpura-pura luluh oleh sikap manis suaminya.
Hari Sabtu pagi, mereka sudah berada di bandara, siap menunggu penerbangan menuju Singapura. Saat Raisa sedang duduk manis menjaga tas di dekat area ruang tunggu, Johan pamit sebentar ke toilet.
Di dalam bilik toilet bandara, ponsel Johan bergetar hebat. Nama Fanny menyala di layar. Begitu tombol hijau digeser, suara teriakan Fanny langsung memekakkan telinga.
“Mas Johan! Kamu gila ya?!” jerit Fanny histeris di seberang telepon. “Kamu beneran mau pergi liburan sama istri kamu?! Aku tahu ya dari status teman kantor kamu kalau kalian mau ke Singapura!”
“Fanny, pelanin suara kamu,” bisik Johan ketus sambil melirik ke arah pintu bilik.
“Nggak mau! Kamu harus batalkan penerbangan itu sekarang juga! Kalau kamu tetap nekat berangkat sama perempuan itu, aku bakal lakuin sesuatu yang bikin kamu nyesel seumur hidup!” ancam Fanny penuh kemarahan.
Johan langsung mematikan panggilan tanpa membalas sepatah kata pun. Dia merapikan jasnya, memoles senyum manis di wajahnya, lalu kembali menghampiri Raisa seolah tidak terjadi apa-apa. Penerbangan mereka tetap berjalan sesuai rencana.
Setibanya mereka di kamar hotel mewah di Singapura, ponsel Johan yang tergeletak di atas meja bundar bergetar menandakan pesan masuk. Raisa yang berada lebih dekat dari meja melirik layar ponsel suaminya.
Sebuah foto terkirim dari nomor Fanny, foto Johan yang sedang tertidur lelap di atas paha Fanny di dalam ruang kerja kantor mereka.
Tidak lama setelah foto itu terkirim ke ponsel Johan, ponsel Raisa sendiri ikut bergetar di atas kasur. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk ke aplikasi percakapannya, menampilkan kalimat yang penuh nada provokasi.
[Nomor Tak Dikenal]: “Enjoy aja ya masa-masa terakhir kamu sama Johan di Singapura. Nanti pas balik ke Jakarta, Johan bakal jadi milik aku sepenuhnya.”
Raisa langsung memegang dadanya, matanya berkaca-kaca menahan tangis yang tampak begitu hancur. Dia menyerahkan ponselnya ke arah Johan dengan tangan gemetar.
“Mas … ini apa?” bisik Raisa lirih, air matanya mulai menetes deras. “Kenapa cewek itu bisa kirim foto begini? Kenapa dia bilang hal kayak gini ke aku?”
Johan merampas kedua ponsel itu, raut wajahnya mengeras menahan gusar pada tingkah nekat Fanny. Namun, dia buru-buru menarik Raisa ke dalam pelukannya, mendekap istrinya erat-erat sambil mengusap lembut punggung yang bergetar itu.
“Sayang, denga aku,” panggil Johan dengan suara selembut mungkin, menatap mata Raisa yang basah. “Foto itu diambil pas aku ketiduran di kantor karena capek banget, dia yang sengaja manfaatin kesempatan. Aku sumpah, Raisa, nggak ada apa-apa di antara kami.”
Raisa cuma terisak, menyembunyikan wajahnya di dada Johan.
“Bulan depan aku bakal resign dari kantor itu,” janji Johan tegas, membelai rambut Raisa. “Begitu dokumen pabrik gula kita selesai, aku lepas semua urusan di sana. Kita fokus urus bisnis kita berdua, dan aku nggak akan pernah ketemu sama Fanny lagi. Percaya sama aku ya, Sayang?”
Raisa mengangguk perlahan dalam dekapan Johan, mengusap air matanya. Di balik bahu suaminya, isakan sedih itu berangsur hilang, berganti dengan senyum dingin yang terukir sempurna di bibirnya. Bulan depan memang akan jadi hari terakhir Johan berhubungan dengan Fanny, persis seperti yang sudah mereka rencanakan.
Beneran Baper sama Fanny
Dia Pikir Dia Pemenangnya
Di balik citra istri sah teraniaya yang pasrah saat suaminya, Johan, terang-terangan berselingkuh dengan Fanny demi gaya hidup mewah, Raisa sebenarnya menggenggam kendali penuh atas sandiwara manipulatif yang mereka susun bersama. Fanny yang dibutakan oleh rasa menang dan tumpukan barang branded tak pernah menyadari bahwa setiap perhatian, liburan romantis di pantai privat, hingga konflik rumah tangga yang sengaja diumbar hanyalah jebakan manis yang dirancang khusus oleh pasangan suami istri tersebut untuk memuluskan niat terselubung mereka demi kejayaan bisnis pabrik gula yang baru.