Begitu Johan menyadari keberadaan Raisa dari kejauhan, raut wajahnya langsung berubah tegang. Di saat yang bersamaan, tiga rekan kerja cewek dari kantor Johan yang kebetulan sedang berada di mall yang sama menangkap momen penuh drama itu. Tanpa buang waktu, mereka bertiga cepat-cepat menarik lengan Fanny, menjauhkannya dari Johan agar tidak memicu keributan terang-terangan.
Raisa mengabaikan tatapan sinis dari rombongan teman kantor Johan. Dia tetap mengulas senyum lembut nan polos, melangkah mendekati suaminya sambil membawa tas bekal di tangannya.
“Mas Johan!” sapa Raisa manis.
Johan mengusap tengkuknya, berusaha bersikap tenang meski nada suaranya terdengar agak ketus dan tidak sabaran. “Raisa? Kamu kok tiba-tiba ada di sini? Ngapain nyamperin aku sampai ke mall segala?”
“Aku tadi dari rumah sengaja mau anterin makan siang buat kamu, Mas,” ujar Raisa dengan raut wajah sangat bersalah dan suara pelan. “Ibu telepon, katanya kamu sering lupa makan kalau lagi ada meeting di luar. Kamu kan cuma ngopi doang biasanya …. Makanya aku masakin dan bawa ke sini.”
Johan menatap tas bekal itu, lalu mendesah pelan. Dia tidak berani membentak Raisa di tempat umum, tetapi tatapannya jelas menunjukkan ketidaknyamanan. “Ya udah, makasih ya. Tapi lain kali nggak usah nyusul begini, aku lagi sibuk. Mending kamu cepat-cepat pulang aja sekarang, nanti di rumah kita bahas lagi.”
“Iya, Mas. Maaf ya kalau aku ganggu kamu kerja,” bisik Raisa menunduk pasrah. “Aku pulang dulu ya, Mas. Jangan lupa dimakan bekalnya.”
Setelah Raisa berbalik dan berjalan menjauh dengan langkah lesu, tiga teman kantor Johan langsung mengerumuni Fanny. Mereka berbisik-bisik heboh sambil melirik sinis ke arah punggung Raisa.
“Gila ya, kasihan banget gue liat istrinya,” bisik salah satu teman ceweknya. “Penampilannya biasa banget, belinya juga cuma lipstik lokal.”
“Iya, beda banget sama lu, Fan!” sahut yang lain sambil memegang kantong belanjaan Fanny. “Dapetnya lipstik Dior dong! Jelas banget Johan lebih sayang dan royal sama lu ketimbang sama istri sahnya yang cuma dikasih sisaan.”
Fanny tersenyum bangga, membusungkan dada sambil mengusap kantong belanjaan mewahnya. Namun di dalam hati, rasa tidak puas mulai merayap naik.
Dalam perjalanan pulang menuju kantor, suasana di dalam mobil Johan terasa hening. Fanny yang duduk di samping kursi pengemudi akhirnya tidak tahan lagi untuk membuka suara. Dia menatap Johan dari samping dengan raut menuntut.
“Mas,” panggil Fanny dengan nada bermanja-manja tapi tersirat desakan. “Status kita ke depannya mau gimana, sih? Aku capek ya kalau harus sembunyi-sembunyi begini terus. Kapan kamu mau ceraiin istri kamu dan resmiin aku?”
Johan menepikan mobilnya sejenak di bahu jalan. Dia mengusap jemari Fanny dengan lembut, menatap perempuan itu dengan tatapan paling meyakinkan yang bisa dia tampilkan.
“Sayang, tenang dulu ya,” bisik Johan manis. “Aku pasti bakal selesaikan semuanya sama Raisa. Tapi kita butuh waktu buat makin mengenal satu sama lain secara mendalam dulu. Biar pas kita nikah nanti, chemistry kita udah menyatu banget.”
Fanny memanyunkan bibirnya. “Terus gimana caranya biar kita makin kenal?”
“Gimana kalau dalam waktu dekat kita traveling bareng?” Johan menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti. “Cuma kita berdua. Aku tahu tempat yang pas banget … ada pantai privat yang sepi dan eksotis di daerah pesisir, dekat lokasi proyek pabrik gula baru keluargaku. Di sana tenang banget, cocok buat kita menikmati waktu berdua.”
Mata Fanny langsung berbinar mendengarnya. Dia membayangkan liburan romantis di pantai tersembunyi bersama pria idaman yang sebentar lagi akan menjadi miliknya sepenuhnya.
“Beneran, Mas? Mau! Aku mau banget!” seru Fanny antusias, lalu memeluk lengan Johan erat-erat.
Johan mengelus kepala Fanny sambil tersenyum hangat, sementara tatapan matanya mengarah lurus ke depan, begitu dingin dan tak tersentuh.
Lipstik Dior VS Lipstik Lokal
Dia Pikir Dia Pemenangnya
Di balik citra istri sah teraniaya yang pasrah saat suaminya, Johan, terang-terangan berselingkuh dengan Fanny demi gaya hidup mewah, Raisa sebenarnya menggenggam kendali penuh atas sandiwara manipulatif yang mereka susun bersama. Fanny yang dibutakan oleh rasa menang dan tumpukan barang branded tak pernah menyadari bahwa setiap perhatian, liburan romantis di pantai privat, hingga konflik rumah tangga yang sengaja diumbar hanyalah jebakan manis yang dirancang khusus oleh pasangan suami istri tersebut untuk memuluskan niat terselubung mereka demi kejayaan bisnis pabrik gula yang baru.