[Sumpah, kasian banget liat istri temen kerja gue. Dia sering banget upload konten bucin sama suaminya, padahal kita di kantor tiap hari liat suaminya mesra-mesraan sama pacarnya, iya pacarnya.]
Mata Raisa tertahan di layar ponsel. Di balik cahaya temaram lampu tidur, wajahnya yang cantik jelita tidak menunjukkan emosi apa pun, tidak ada mata berkaca-kaca, apalagi gemetar panik. Dia cuma mengusap layar pelan, menyimpannya dalam tangkapan layar, lalu menyimpan foto itu ke dalam folder tersembunyi yang sudah berisi puluhan berkas serupa.
“Sayang, belum tidur?”
Suara lembut Johan terdengar bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka. Lelaki itu melangkah masuk, menyunggingkan senyum hangat yang selalu sukses membuat orang luar percaya bahwa dialah definisi suami idaman. Johan mendekat, mendaratkan kecupan manis di dahi Raisa, lalu mengelus rambut istrinya dengan penuh kasih sayang.
“Belum, Mas. Lagi nungguin kamu,” bisik Raisa, memasang raut wajah muram yang dipaksakan. Matanya sengaja dibuat sedikit sembap, seolah baru aja menahan tangis seharian.
“Kok cemberut gitu? Ada yang ganggu pikiran kamu?” Johan menangkup pipi Raisa, tatapannya begitu khawatir. Perhatian yang sangat sempurna, sampai siapa pun pasti tidak akan menyangka kalau beberapa jam lalu, jemari yang sama baru aja mengelus pinggang Fanny di ruang kerja kantornya.
Raisa menggeleng pelan, lalu menyandarkan kepalanya di dada Johan. “Nggak apa-apa, Mas. Cuma tiba-tiba ngerasa takut aja… takut kehilangan kamu.”
Johan terkekeh pelan, merengkuh tubuh Raisa makin erat sambil membelai punggungnya. “Ada-ada aja. Kamu ‘kan tahu, aku cuma milik kamu, Raisa. Nggak akan ada yang bisa ngerusak hubungan kita.”
Di balik pelukan hangat suaminya, wajah Raisa memantulkan bayangan pada cermin di sudut kamar. Tak ada lagi kesedihan di sana. Yang tersisa hanya senyum tipis yang dingin dan begitu tajam.
Sebab di balik status teman kantor Johan yang sibuk mengasihani dirinya, dan di balik rasa percaya diri Fanny yang merasa telah memenangkan hati Johan … semua bidak sedang berjalan persis di atas papan catur yang sudah mereka susun rapi.
Keesokan paginya, suasana meja makan terlihat begitu hangat. Raisa sibuk menyiapkan sarapan, merapikan dasi Johan, lalu mencium tangan suaminya sebelum lelaki itu berangkat kerja.
“Aku jalan dulu ya, Sayang,” pamit Johan manis, mengelus kepala Raisa sebentar.
“Hati-hati di jalan ya, Mas,” balas Raisa lembut.
Begitu pintu rumah tertutup dan mobil Johan bergerak menjauh, senyum manja di wajah Johan mendadak memudar. Dia merogoh saku jasnya, mengambil ponsel yang sejak tadi bergetar tanpa henti. Layarnya menampilkan nama kontak Fanny dengan belasan pesan masuk.
[Fanny]: “Kamu semalam tidur sama istri kamu kan? Nempel-nempel nggak?!”
[Fanny]: “Aku nggak suka ya kalo kamu masih melayani dia!”
[Fanny]: “Balas dong, Mas! Kamu sengaja ya hindari aku?!”
Johan menghela napas pendek sambil menyunggingkan senyum malas. Dengan santai, jemarinya menari di atas layar saat memanaskan mesin mobil.
[Johan]: “Nggaklah, Sayang. ‘Kan udah aku bilang, aku tidur di sofa. Mana mau aku nempel sama dia.”
[Johan]: “Jangan cemburu gitu dong, tambah cantik nanti.”
[Fanny]: “Beneran ya? Awas aja kalo bohong! Aku cemburu tahu nggak!”
[Johan]: “Beneran, Sayangku. Biar kamu nggak cemberut lagi, nanti pas makan siang kita ke mall ya? Aku beliin lipstik Dior yang kamu mau kemarin.”
[Fanny]: “Aaaaa beneran?! Makasih Mas Johan sayang! Muahhh, makin sayang deh!”
Johan terkekeh dingin usai membaca balasan itu. Dia meletakkan ponselnya di dasbor, lalu melajukan mobilnya membelah kemacetan pagi. Sementara itu di dalam rumah, Raisa berdiri di balik jendela lantai dua, menyesap kopinya sambil menatap mobil suaminya yang menghilang di belokan jalan.
Istri Sah Bodoh
Dia Pikir Dia Pemenangnya
Di balik citra istri sah teraniaya yang pasrah saat suaminya, Johan, terang-terangan berselingkuh dengan Fanny demi gaya hidup mewah, Raisa sebenarnya menggenggam kendali penuh atas sandiwara manipulatif yang mereka susun bersama. Fanny yang dibutakan oleh rasa menang dan tumpukan barang branded tak pernah menyadari bahwa setiap perhatian, liburan romantis di pantai privat, hingga konflik rumah tangga yang sengaja diumbar hanyalah jebakan manis yang dirancang khusus oleh pasangan suami istri tersebut untuk memuluskan niat terselubung mereka demi kejayaan bisnis pabrik gula yang baru.