Mendengar gertakan Ridwan, Mbah Darmo langsung maju ke depan. Pria tua itu memutar tasbih kayu di tangan kirinya, lalu melempar genggaman garam krosok ke udara. Seketika, desisan nyaring bagai minyak panas menyambar bara api membumbung di udara malam. Belasan warga desa yang mengepung mendadak mengerang kesakitan, terhuyung mundur sambil mencengkeram wajah mereka yang terasa terbakar hawa panas.
“Kevin! Fino! Tahan warga yang di kiri! Rendi, bantu saya pegang Mala!” seru Mbah Darmo dengan intonasi memimpin.
Tanpa rasa takut sedikit pun, Kevin dan Fino merangsek maju. Menggunakan sisa garam di telapak tangan, mereka pasang badan menahan dua warga berbadan tegap yang berniat menyerang Lina. Fino bahkan sempat mendorong obor kayu hingga tumbang untuk menghalangi jalan warga.
Ridwan yang melihat ritual pengikat jiwanya diganggu langsung menggeram murka. Wajahnya yang semula tampan kini dipenuhi urat-urat hitam menonjol yang bergetar hebat. Pria itu menyeringai dingin, lalu mencengkeram rahang Mala secara paksa, berniat menumpahkan cairan teh sangit di cangkir seng itu langsung ke kerongkongan Mala.
Namun, Rendi bergerak lebih cepat bagai disengat listrik. Ayah Mala itu menerjang tubuh Ridwan hingga cangkir seng terlempar dan pecah menghantam tanah panggung. Cairan hitam pekat menyiram rumput, mendesis dan menimbulkan bau sangit membusuk yang sangat menyengat.
“Mbah, sekarang!” teriak Rendi seraya menahan kedua tangan Ridwan yang memukulnya secara beringas.
Mbah Darmo merogoh botol kecil berisi air doa dari balik jubahnya, lalu melangkah cepat menghampiri Mala yang masih berdiri mematung kaku. Lina memeluk tubuh putrinya dari belakang erat-erat, menangis histeris seraya memanggil nama anak gadisnya tanpa henti.
“Mala, ini Ibu, Nak! Sadar, Mala! Ayo pulang sama Ibu, jangan tinggal di tempat kelam ini!” jerit Lina dengan suara pecah.
Mbah Darmo mengusapkan air doa ke kening Mala, lalu memercikkan sisanya tepat ke bibir gadis itu. Pria tua itu lantas menepuk punggung atas Mala tiga kali dengan telapak tangannya sambil merapalkan bait-bait doa penangkal sihir tingkat tinggi.
Efeknya seketika. Tubuh Mala mendadak kejang hebat, dadanya naik turun dengan napas memburu. Bola matanya melotot lebar, lalu dia terbatuk-batuk parah hingga berlutut di tanah. Dari mulutnya, Mala memuntahkan lendir dan cairan hitam pekat berbau sangit yang sangat menyengat, cairan teh pelet yang selama dua bulan ini mengendap dan meracuni ingatannya.
Begitu cairan itu muntah sepenuhnya ke tanah, jeritan melengking bagai lolongan gaung terdengar memekakkan telinga dari tenggorokan Ridwan. Pria itu tersungkur, tubuhnya melemas seolah kekuatan gaib yang menopangnya mendadak dicabut paksa. Warga desa yang tadinya beringas pun roboh satu per satu seperti boneka kayu yang diputus talinya.
Di saat yang sama, binar kehidupan perlahan kembali ke iris mata Mala. Sorot matanya tidak lagi kosong atau dingin. Dia menatap sekelilingnya yang gelap dan penuh bau asap, lalu beralih menatap wajah Lina yang dipenuhi air mata.
“Ibu? Ayah?” bisik Mala dengan suara parau dan gemetar. “Aku … aku di mana? Kenapa aku pakai baju aneh ini? Kepala aku pusing banget ….”
“Mala! Anak Ibu!” Lina langsung memeluk Mala erat-erat, menumpahkan seluruh air mata kebahagiaannya di dada sang anak.
Tanpa membuang waktu sedikit pun karena khawatir pengaruh gaib desa itu kembali pulih, Rendi, Kevin, dan Fino langsung membopong Mala menuju mobil. Mereka tancap gas menembus kegelapan malam, meninggalkan Desa Sindang yang kembali senyap dan mati, meninggalkan seluruh mimpi buruk itu jauh di belakang.
Dua hari kemudian, di kamar rumahnya yang hangat di kota, Mala duduk di tepi tempat tidur. Di jari manis tangan kirinya, cincin perak pemberian ibunya sudah kembali melingkar manis setelah secara ajaib ditemukan oleh Fino di antara semak-semak dekat gapura desa malam itu.
Meski bayangan tentang Desa Sindang masih terasa seperti ingatan samar yang mengerikan, Mala tersenyum lega menatap bayangan dirinya di cermin. Dia tahu, keberanian teman-temannya serta ketulusan cinta keluarganyalah yang berhasil menyelamatkannya dari malapetaka tersebut.
Kembali pulang
Kembali Pulang
Posted by , ? Views, Released on October 4, 2026
Malapetaka KKN
KKN yang seharusnya menjadi kenangan indah masa kuliah justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Mala saat dia dijebak oleh Ridwan, pria lokal Desa Sindang yang mengincarnya untuk dijadikan tumbal pengantin desa. Melalui seduhan teh sangit berpelet gaib, ingatan dan kesadaran Mala direnggut perlahan hingga dia lupa pada keluarganya dan tergila-gila pada Ridwan, meninggalkan teman-teman KKN-nya dalam ketakutan dan kebingungan. Berpacu dengan waktu sebelum jiwa Mala terkunci selamanya di malam ritual penutupan, Rendi dan Lina bersama rombongan kecilnya nekat menerobos kegelapan Desa Sindang demi menembus sihir kelam dan membawa pulang putri mereka dari cengkeraman malapetaka tersebut.