Malam Peringatan dan Topeng yang Runtuh

Malam Peringatan dan Topeng yang Runtuh
5
(1)

“Siap, Sayang. Kamu buru-buru ya meeting-nya?” tanyaku lembut, menahan getaran di suara.
Farhan mengeringkan rambut dengan handuk tanpa menatap mataku. “Iya, bos mendadak minta laporan proyek terbaru. Kamu tahu ‘kan ini penting buat posisiku di kantor?”
Aku tersenyum tipis. Di layar ponselnya yang sempat menyala tadi, aku malah tidak sengaja melihat pesan mesra di Instagram dari Rinka, selingkuhannya.
[Ah, tinggal bilang aku ada kerjaan, dia mah istri rumahan pasti iya-iya aja, paham apa sih dia. Aku males jalan sama istri aku, nggak nyambung mau tukar pikiran juga, mending sama kamu, jam 8 aku jemput ya?]
Kata-kata itu terpatri tajam di otakku. Aku, Rita Sundari, lulusan terbaik program magister Kehutanan dari PTN top yang rela melepas karir demi mendampingi Farhan dari nol, kini cuma dianggap istri rumahan dungu. Padahal rumah mewah lima kamar ini, dua mobil di garasi, hingga perusahaan yang dia pimpin, murni berdiri di atas modal penuh dan koneksi keluarga kayaku. Dulu Farhan cuma lulusan SMA tanpa modal dan tanpa harta apa-apa.
“Ya udah, aku jalan dulu ya, Sayang,” pamitnya sambil mengecup keningku sekilas. Bau parfum mahal yang kupilihkan menyeruak hambar.
“Hati-hati di jalan, Mas,” balasku datar tanpa niat menahannya sama sekali. Biarkan dia melangkah keluar dengan perasaan menang malam ini.
Begitu mobil mewahnya menjauh dari pelataran rumah, ponsel di genggamanku bergetar. Sebuah pesan masuk dari ibu mertuaku.
[Rita, besok Kevin biar Ibu yang jaga ya. Kamu sama Farhan rayain anniversary kalian aja. Oiya, tadi Farhan nitip baju kerjanya di rumah Ibu, besok Ibu bawain sekalian.]
Dada terasa panas, tapi otakku bekerja sangat dingin. Seminggu lalu aku mendapati fakta yang jauh lebih mengerikan dibanding perselingkuhan itu sendiri. Ibu mertua, ayah mertua, bahkan adik kandung Farhan sudah lama tahu hubungan gelap Farhan dan Rinka.
Bahkan Kevin, anakku yang baru berusia lima tahun, pernah secara polos bercerita kalau Tante Rinka sering datang ke rumah nenek dan diajak makan bareng kakek dan nenek tanpa keberadaanku. Mereka semua bersekongkol memanfaatkanku. Mereka menikmati uang bulanan puluhan juta, fasilitas rumah, dan kemewahan yang kuberikan sambil tertawa di belakangku, menganggapku wanita bodoh yang mudah dinikmati hartanya.
Mereka benar-benar lupa siapa aku sebenarnya sebelum aku memilih menjadi sekadar ibu rumah tangga.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, aku melangkah cepat ke ruang kerja di sudut rumah. Aku memutar kombinasi kunci brankas besi rapi di bawah meja. Di dalamnya tersimpan seluruh dokumen krusial. Sertifikat tanah dan rumah atas nama Rita Sundari, BPKB seluruh kendaraan, hingga dokumen penyertaan saham 80 persen atas namaku di perusahaan tempat Farhan berkuasa. Farhan sejatinya cuma pengelola yang menumpang nama dan memakai fasilitas keluargaku.
Logika seorang peneliti yang bertahun-tahun terbiasa membedah data rumit kini mengambil alih penuh. Tidak ada tangisan berderai. Tidak ada drama melabrak atau mengamuk di depan rumah. Membalas pengkhianatan orang terdekat tidak butuh emosi meluap-luap, melainkan eksekusi yang cepat, presisi, dan mematikan. Balasan terbaik adalah mencabut seluruh fondasi ekonomi yang membuat Farhan dan keluarganya merasa berada di atas angin.
Aku menekan tombol panggilan ke nomor pengacara pribadi keluargaku.
“Selamat malam, Pak Hendra. Maaf mengganggu di akhir pekan,” ucapku tenang, tanpa nada ragu sedikit pun.
“Selamat malam, Bu Rita. Ada yang bisa saya bantu?” sahut suara di ujung telepon.
“Saya mau Bapak menyiapkan seluruh dokumen penarikan aset atas nama saya besok pagi. Surat pembekuan rekening operasional perusahaan, penarikan saham modal, gugatan pengosongan rumah, dan penarikan fasilitas kendaraan. Saya mau seluruh berkasnya siap dan diserahkan tepat besok malam saat acara perayaan anniversary kami.”
Ada jeda singkat sebelum Pak Hendra menjawab dengan nada profesional. “Baik, Bu Rita. Semua bukti kepemilikan dan sertifikat ada di tangan Ibu secara sah. Draf gugatan dan surat penarikan aset akan selesai besok pagi sebelum jam sembilan.”
“Bagus. Pastikan semuanya rapi tanpa ada celah hukum sedikit pun,” jawabku tegas sebelum mematikan sambungan.
Aku menatap pantulan diriku di kaca jendela. Malam peringatan anniversary kedelapan besok memang akan jadi momen yang sangat spesial. Ini bukan lagi perayaan pernikahan, melainkan hari di mana Farhan, Rinka, dan seluruh keluarga yang memanfaatkan kebaikanku akan sadar bahwa mereka sudah membangun mimpi di atas tanah milik orang lain. Dalam semalam, aku akan mengambil kembali seluruh harta, kehormatan, dan kehidupanku tanpa sisa.

 

Setiap dukungan dari kamu berharga banget buat kelangsungan webnovel ini. Yuk, bantu author tetap berkarya! https://saweria.co/awnovel

Rate cerita ini yuk Kak!

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Ketika Kepergianku Menyadarkannya

Ketika Kepergianku Menyadarkannya

Status: Completed Author: Released: 2026

Rita Sundari, seorang lulusan terbaik PTN ternama yang rela melepas kariernya sebagai peneliti demi menjadi ibu rumah tangga, harus menerima kenyataan pahit saat mendapati suaminya, Farhan, berselingkuh dengan Rinka dan menganggapnya wanita dungu, bahkan sampai menghasut anak kandung serta keluarga mertuanya untuk membencinya. Tanpa mengamuk, logika dingin sang peneliti dalam diri Rita pun bangkit untuk menyusun pembalasan dendam yang presisi bersama sang ayah dan pengacaranya, meruntuhkan seluruh fondasi ekonomi Farhan, menyita aset perusahaan, hingga membawa Farhan dan Rinka ke jeruji besi atas kasus penggelapan dana. Saat Farhan meratapi kehancuran dan kehilangannya di balik penjara, Rita melangkah mantap mengambil kembali hak asuh anak, harta, serta kehormatannya untuk kembali bersinar di dunia penelitian internasional.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plugin Kapsule Corp

Options

not work with dark mode
Reset
Part of PT. King Alin Jaya