Tepat di hari kepulangan mereka, rombongan KKN sibuk mengemas barang ke dalam bus. Mala yang pagi itu masih terlihat normal dan tenang di depan teman-temannya, ikut membereskan pakaian dan memasukkannya ke dalam tas.
“Mal, agak dipercepat ya beres-beresnya. Bis yang jemput kita udah datang tuh,” ujar Anita, teman KKN Mala yang lain, seraya memikul ransel besarnya.
Namun, bukannya mempercepat gerakannya, Mala mendadak mematung. Gerakan tangannya yang sedang memegang kancing tas mendadak terhenti. Bola matanya meredup, kehilangan binar kehidupan dalam hitungan detik.
Dengan tatapan kosong yang lurus menatap lantai rumah panggung, Mala berkata dengan suara datar tanpa emosi, “Kalian pulang duluan aja. Aku nggak ikut pulang bareng kalian.”
Heni yang berdiri di dekat pintu langsung merinding hebat. Firasat buruk yang dia rasakan selama tiga minggu terakhir mendadak makin menjadi-jadi. Tanpa membuang waktu, Heni buru-buru berlari ke luar dan memanggil Kevin serta Fino untuk menarik Mala agar cepat-cepat naik ke bis sebelum warga desa datang.
“Vin! Fino! Bantuin aku! Mala mendadak aneh lagi, dia nggak mau pulang!” panggil Heni panik.
Kevin dan Fino langsung berlari masuk ke dalam kamar tempat Mala berada. Mereka berniat memapah dan memaksa Mala berjalan menuju bis. Namun, begitu tangan Kevin menyentuh lengan Mala, secepat kilat Mala mendadak berteriak histeris.
“Lepasin! Jangan pegang-pegang aku! Aku mau di sini! Aku mau nikah sama Ridwan!” teriak Mala melengking tinggi, suara yang sama sekali tidak terdengar seperti suara aslinya.
Mala mengamuk hebat. Tenaganya mendadak menjadi sangat kuat melebihi kapasitas tubuh seorang gadis pada umumnya. Dia memberontak, mencakar lengan Fino hingga berdarah, lalu mendorong dada Kevin hingga terjatuh tersungkur dan menabrak lemari kayu.
Di luar rumah panggung, tampak beberapa warga desa termasuk Ridwan mulai berkumpul dan menatap anak-anak KKN itu dengan raut wajah dingin tanpa ekspresi. Situasi makin tidak terkendali dan terasa sangat mengancam.
“Nggak bisa, kita nggak bakal menang kalau dilawan sekarang!” bisik Heni dengan napas memburu dan tubuh gemetar. “Kayaknya kita mending balik duluan aja, terus minta bantuan dari kota.”
Sebenarnya, Desa Sindang jaraknya tidak begitu jauh dari kota mereka, hanya sekitar 250 kilometer. Kalau naik bus melewati jalan lintas, perjalanan hanya memakan waktu sekitar dua sampai tiga jam.
Pasrah dan ketakutan, rombongan KKN itu terpaksa meninggalkan Mala sendirian di desa tersebut.
Kembali ke ruang dekan Universitas Andratama.
Bu Lisa memijit pelipisnya, jelas tidak langsung percaya pada cerita tidak masuk akal yang baru saja diutarakan Heni. Lagi-lagi, di zaman modern seperti sekarang, mana ada hal-hal pelet atau sihir seperti itu?
“Heni, cerita kamu ini terlampau mengada-ada. Masa cuma gara-gara nggak mau pulang, kamu mengira Mala dikendalikan hal mistis?” tegur Bu Lisa dengan raut wajah skeptis.
Di dalam ruangan itu, Rendi dan Lina, orang tua Mala, juga hadir. Muka Lina sudah sembap karena tidak berhenti menangis sejak tadi pagi. Rendi yang sedari tadi mendengarkan penjelasan Heni justru memegang firasat yang jauh lebih kuat sebagai seorang ayah.
Rendi sadar, putrinya tidak pernah bertingkah seaneh ini sepanjang hidupnya. Tanpa membuang waktu untuk berdebat dengan Bu Lisa yang tidak percaya, Rendi langsung merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel.
Dengan tangan yang sedikit gemetar tapi penuh tekad, Rendi menekan satu nomor telepon di daftarnya. Dia memutuskan untuk langsung menelepon orang pintar kenalannya yang paham masalah spiritual di kampung halamannya.
“Halo, Mbah? Ini Rendi. Anak saya, Mala, sepertinya kena pengaruh jahat pas KKN di Desa Sindang. Benan kata Mbah, dia dikasih minuman teh sangit sama mereka!”
Rendi akhirnya sepenuhnya percaya ucapan orang pintar yang sempat dia tanyai tadi pagi.
Menerobos Kabut Ghaib
Menerobos Kabut Ghaib
Posted by , ? Views, Released on October 4, 2026
Malapetaka KKN
KKN yang seharusnya menjadi kenangan indah masa kuliah justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Mala saat dia dijebak oleh Ridwan, pria lokal Desa Sindang yang mengincarnya untuk dijadikan tumbal pengantin desa. Melalui seduhan teh sangit berpelet gaib, ingatan dan kesadaran Mala direnggut perlahan hingga dia lupa pada keluarganya dan tergila-gila pada Ridwan, meninggalkan teman-teman KKN-nya dalam ketakutan dan kebingungan. Berpacu dengan waktu sebelum jiwa Mala terkunci selamanya di malam ritual penutupan, Rendi dan Lina bersama rombongan kecilnya nekat menerobos kegelapan Desa Sindang demi menembus sihir kelam dan membawa pulang putri mereka dari cengkeraman malapetaka tersebut.