Siraman Teh di Lembang

Siraman Teh di Lembang
0
(0)

Demi mendampingi dan menjadi pengatur busana di acara pertunangan Laras, sahabat karibku sejak masa kuliah di Bandung, aku rela membatalkan agenda liburanku ke luar negeri yang sudah kupersiapkan sejak enam bulan lalu. Bagi seorang desainer interior dan konsultan busana independen sepertiku, jadwal kerja memang selalu padat, tapi kebahagiaan Laras adalah prioritas yang tidak bisa ditawar.
Begitu aku mendarat dan tiba di vila keluarga Laras yang megah di kawasan Lembang, dia menyambutku di depan pintu dengan pelukan yang sangat hangat. Dengan wajah berseri-seri, dia menarik tanganku masuk ke kamar utama dan menyerahkan sebuah kotak beludru hitam berisi jam tangan mewah edisi terbatas seharga 150 juta rupiah.
“Ini kado ucapan makasih dari aku, Maya. Kamu itu sahabat paling berharga di hidupku. Tanpa sentuhan dingin dan arahan gaya dari kamu, aku nggak bakal bisa tampil seanggun ini di depan keluarga calon suamiku nanti!”
Dada ini bergetar haru mendengar penuturan jujurnya. Rasanya semua kelelahan menembus kemacetan jalanan langsung menguap begitu saja.
Keesokan harinya, aku sudah terjaga sejak jam empat subuh. Udara dingin khas pegunungan Lembang menembus pori-pori, tapi aku tetap bersemangat merapikan gaun pertunangan khusus rancanganku dan memastikan setiap helai kain brokat serta payetnya terpasang sempurna. Saat matahari mulai terbit, aku melangkah menuju kamar rias dengan membawa kain penutup kepala tambahan yang baru selesai kurapikan.
Tawa renyah sempat terdengar dari dalam ruangan. Namun, begitu langkah kakiku mendekati meja rias dan mata kami berpapasan melalui cermin, raut wajah Laras mendadak berubah drastis. Senyum manisnya melenyap seketika, berganti menjadi tatapan dingin, penuh kebencian, dan terasa sangat asing.
Sebelum aku sempat menyapa, Laras meraih cangkir teh hangat di mejanya dan menyiramkan isinya tepat ke dadaku.
“Perempuan gatal! Keluar kamu dari rumah keluarga calon suamiku sekarang juga!”
Aku tersentak kaget, refleks melangkah mundur sambil menahan rasa panas yang meresap di balik bajuku. “Ras, kamu kenapa? Ini aku, Maya … Kamu lagi gugup gara-gara mau acara, ya? Jangan bercanda kayak gini, ah. Aku beneran kaget tahu.” Aku tertawa hambar, mencoba memecah ketegangan yang mendadak mencekam, berharap ini hanyalah lelucon konyol akibat stres menjelang acara.
Namun, Laras justru menepis kain penutup kepala yang kupegang hingga jatuh ke lantai kotor. “Siapa yang lagi bercanda sama kamu? Kamu pikir aku nggak tahu kelakuan kotor kamu di belakangku?! Pak Satpam, seret cewek nggak tahu diri ini keluar!”
Dua orang pengawal keluarga berbadan tegap langsung maju dan memegang kedua lenganku dengan kasar. Pikiranku mendadak kosong. Aku sibuk mengingat-ingat, kesalahan fatal apa yang tanpa sadar sudah kubuat sampai memancing amarahnya?
“Laras, salahku di mana? Tolong kasih tahu aku!” teriakku histeris saat tubuhku mulai diseret menjauh dari pintu. “Aku sudah bantu persiapin acara ini berbulan-bulan, kenapa kamu tega usir aku begini? Kalau ada tata krama keluarga calon suamimu yang nggak sengaja aku langgar, aku mau minta maaf secara langsung!”
Bukannya luluh, Laras justru mengambil gaun cadangan buatan pabrik yang tergeletak di atas kursi. “Baju rancangan kamu itu penuh najis! Aku sudi batalin acara daripada harus pakai baju bekas sentuhan cewek murahan kayak kamu!”
Dia kemudian merampas kado hiasan dinding buatan tanganku yang kukerjakan hingga begadang berturut-turut, lalu melemparkannya ke dalam perapian ruangan hingga kain dan ukirannya hangus terbakar menjadi abu di depan mataku.
Sambil menunjuk lurus ke arah gerbang luar, dia berucap dingin tanpa rasa bersalah, “Pergi, Maya! Aku nggak mau lihat muka kamu lagi selamanya!”

Rate cerita ini yuk Kak!

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Jejak Bangkai Si Iri Dengki

Jejak Bangkai Si Iri Dengki

Status: Completed Released: 2026

Demi menghadiri pertunangan sahabatnya, Maya tidak menyadari kalau asisten yang dibesarkannya sendiri sedang merancang kehancuran hidupnya. Menderita anosmia, Maya diam-diam dijebak dengan racun parfum beraroma terlarang hingga dituduh berselingkuh, diusir sahabatnya, dipecat dari proyek miliaran, dan dicampakkan sang kekasih dalam semalam. Namun, saat keajaiban di tengah guyuran hujan memulihkan indra penciumannya dan membongkar fitnah keji tersebut, Maya merancang pembalasan dendam yang elegan dengan menyuntikkan racun aroma bangkai permanen ke dalam darah sang pengkhianat.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plugin Kapsule Corp

You cannot copy content of this page.

Options

not work with dark mode
Reset
Part of PT. King Alin Jaya