Total program KKN itu berlangsung selama satu bulan penuh. Program kerja yang mereka lakukan adalah pembangunan perpustakaan desa dan edukasi tentang kebersihan.
Tiga minggu kemudian.
Kevin, anggota kelompok KKN yang berasal dari jurusan Teknik Sipil, mengambil banyak peran dalam pembangunan perpustakaan desa itu. Sebagai penanggung jawab teknis, dia harus terus berkoordinasi intensif dengan Mala yang memegang peran sebagai ketua tim KKN.
“Guys, perpustakaan udah mau selesai. Tinggal nunggu cat dari kota sampai aja, terus ngecat dan kita bisa cepat-cepat pulang,” ujar Kevin sambil menyeka keringat di dahinya.
“Bagus deh, Vin. Nanti biar aku yang catat sisa logistiknya sama orang balai desa,” sahut Mala seraya membolak-balik papan jalan berisi berkas laporan.
Kevin mendekat, menunduk sedikit untuk melihat lembaran catatan Mala. “Oiya, Mal, berkas serah terima bangunan besok harus disiapin dari sekarang ya. Biar pas cat dateng, kita tinggal fokus penutupan acara.”
Mala mengangguk pelan. “Sip, nanti malam aku kelarin sekalian.”
Kedekatan dan interaksi intensif antara Mala dan Kevin di pelataran perpustakaan desa itu ternyata tak lepas dari pengawasan seseorang. Di bawah rindangnya pohon beringin tua tak jauh dari sana, Ridwan berdiri mematung. Pria lokal itu menyilangkan tangan di dada, matanya menatap tajam ke arah Kevin dengan sorot cemburu yang teramat dingin.
Saat Mala mendongak dan melihat Ridwan di sana, tatapan matanya mendadak berubah kosong sejenak, sebelum akhirnya dipenuhi binar cinta yang teramat pekat. Efek pelet itu merenggut penuh kesadarannya.
Tanpa pamit pada Kevin, Mala langsung memutar langkah dan berjalan cepat menghampiri Ridwan.
“Ridwan!” panggil Mala dengan suara ceria yang penuh nada manja.
Mala melangkah mendekat, lalu tanpa ragu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ridwan. Dia menyandarkan kepalanya di dada pria itu dengan raut wajah penuh rasa nyaman.
“Kamu dari tadi di sini? Kok nggak samperin aku, sih?” bisik Mala dengan suara manja yang ceria.
Ridwan tersenyum tipis, mengelus lembut rambut Mala. “Aku cuma mau mastiin calon istriku nggak diganggu sama anak-anak kota itu.”
Mala tertawa kecil, makin merapatkan tubuhnya ke Ridwan.
“Ngapain sih cemburu sama Kevin? Nggak penting banget,” ujar Mala sambil menatap mata Ridwan penuh binar cinta. “Aku tuh cuma cinta sama kamu, Ridwan. Nggak sabar deh mau KKN ini cepat selesai.”
“Kenapa? Kamu udah mau pulang ke kota?” tanya Ridwan menguji.
Mala menggeleng cepat. “Bukan, biar mereka semua pada pulang, terus kita bisa langsung nikah. Aku mau tinggal di desa ini selamanya sama kamu.”
Kevin dan Heni yang melihat pemandangan itu dari kejauhan dibuat melongo heran. Sejak kapan Mala yang terkenal cuek dan rasional bisa mendadak bucin setengah mati pada pria lokal yang baru dikenal beberapa minggu?
Beberapa saat kemudian, setelah Ridwan pergi meninggalkan pelataran perpustakaan, Mala berjalan kembali ke arah teman-temannya sambil memegang keningnya yang mendadak terasa pening.
Heni yang sudah tidak tahan langsung menghampiri Mala dengan raut wajah penuh tanda tanya.
“Mal, kamu gila ya? Sejak kapan kamu kecintaan banget sama Si Ridwan itu?” tanya Heni heran. “Tadi kamu meluk-meluk dia, terus pake ngomong mau nikah dan tinggal di desa ini segala. Kamu sadar nggak sih?”
Mala menghentikan langkahnya. Keningnya berkerut dalam, menatap Heni dan Kevin dengan raut wajah bingung yang teramat polos.
“Hah? Ngomong apa sih, Hen?” tanya Mala heran. “Kapan aku meluk Ridwan? Aku dari tadi ‘kan cuma berdiri di sini sama Kevin ngebahas cat perpustakaan.”
Kevin ikut mengacak rambutnya frustrasi. “Mal, kamu beneran nggak ingat? Tadi kamu baru aja nyamperin Ridwan di bawah beringin! Kamu meluk dia mesra banget di depan kita semua!”
Mala tertawa kecil, menganggap ucapan teman-temannya cuma lelucon yang berlebihan.
“Aneh banget kalian. Aku kan cuma anggap Ridwan warga desa biasa yang bantuin KKN kita. Nggak ada apa-apa ya antara aku sama dia. Udah ah, mending kita lanjut bahas cat!” kata Mala santai seraya berlalu pergi.
Heni dan Kevin saling pandang dengan bulu kuduk yang mendadak berdiri. Mereka sadar, ada yang sangat tidak beres dengan ingatan dan pikiran Mala.
Tangisan yang Sunyi
Tangisan yang Sunyi
Posted by , ? Views, Released on October 4, 2026
Malapetaka KKN
KKN yang seharusnya menjadi kenangan indah masa kuliah justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Mala saat dia dijebak oleh Ridwan, pria lokal Desa Sindang yang mengincarnya untuk dijadikan tumbal pengantin desa. Melalui seduhan teh sangit berpelet gaib, ingatan dan kesadaran Mala direnggut perlahan hingga dia lupa pada keluarganya dan tergila-gila pada Ridwan, meninggalkan teman-teman KKN-nya dalam ketakutan dan kebingungan. Berpacu dengan waktu sebelum jiwa Mala terkunci selamanya di malam ritual penutupan, Rendi dan Lina bersama rombongan kecilnya nekat menerobos kegelapan Desa Sindang demi menembus sihir kelam dan membawa pulang putri mereka dari cengkeraman malapetaka tersebut.