Keputusan Rendi sudah bulat. Tanpa perlu menunggu respons lambat dari pihak kampus, dia melangkah keluar dari ruang dekan. Lina menyusul dengan mata sembap, diikuti Heni yang masih gemetar.
Di koridor kampus, Kevin dan Fino rupanya sudah menunggu. Lengan Fino masih dibalut perban putih akibat luka cakaran Mala tadi siang, sementara kening Kevin memar.
“Pak, kami ikut,” kata Kevin tegas tanpa ragu. “Mala itu ketua tim kami. Kami nggak bisa tenang kalau ninggalin dia sendirian di desa aneh itu.”
Fino mengangguk setuju. “Benar, Pak. Lagian kami yang tahu persis denah rumah panggung si Ridwan itu.”
Rendi menatap kedua pemuda di depannya dengan rasa haru. Tanpa membuang waktu, rombongan kecil itu, yaitu Rendi, Lina, Heni, Kevin, Fino, serta Mbah Darmo selaku guru spiritual kepercayaan Rendi, langsung meluncur menggunakan mobil minibus milik Rendi.
Jarak 250 kilometer itu terasa begitu panjang. Makin mendekati Desa Sindang, udara di dalam mobil terasa makin dingin dan berat. Jarum jam menunjukkan pukul delapan malam tepat saat minibus mereka berhenti di dekat gapura kayu batas desa.
Suasana Desa Sindang malam itu sangat berbeda dengan siang hari. Sepi menyengat. Tidak ada satu pun lampu penerangan jalan yang menyala, hanya nyala obor samar-samar dari kejauhan yang membubung ke langit malam.
Mbah Darmo yang duduk di kursi depan mendadak memegang dadanya seraya terbatuk pelan. Pria tua itu membuka kaca jendela sedikit, lalu mengendus udara malam yang pekat.
“Asap kemenyan dan teh sangitnya tajam sekali,” bisik Mbah Darmo dengan suara berat. “Ritual pengantin desanya sudah dimulai. Kalau lewat tengah malam ini Mala meminum cangkir terakhir, jiwanya bakal terkunci selamanya di sini.”
Mbah Darmo merogoh kantong bajunya, mengeluarkan beberapa butir garam krosok yang sudah didoakan, lalu membagikannya kepada Kevin dan Fino. “Garam ini buat memecah konsentrasi warga kalau mereka mulai mengepung kita. Pegang erat-erat.”
Lina langsung memegang lengan suaminya erat-erat, menahan tangis yang hendak pecah.
Dibimbing Kevin dan Heni, mereka melangkah mengendap-endap menembus kegelapan hutan jati menuju rumah panggung milik Ridwan. Langkah kaki mereka di atas dedaunan kering diusahakan seringan mungkin, tapi bau wewangian mistis menyerbak makin menyengat hidung, memicu rasa mual yang melilit.
Saat mereka sampai di balik semak-semak dekat pelataran rumah panggung, pemandangan di depan mata membuat darah mereka mendadak berdesir dingin.
Belasan warga desa berdiri melingkar dengan pakaian serba hitam, menundukkan kepala sambil bergumam dalam bahasa asing yang tidak dipahami. Tatapan mereka kosong, tapi aura di sekeliling mereka terasa mencekam seolah siap menerkam siapa saja yang mengganggu.
Di tengah-tengah mereka, Mala berdiri kaku dengan gaun pengantin tradisional berwarna merah tua. Wajahnya pucat pasi seperti mayat, dan matanya benar-benar kosong tanpa binar kehidupan.
Di hadapan Mala, Ridwan tersenyum puas sambil memegang secangkir cairan keruh hangat yang asapnya membumbung tinggi.
“Minum ini, Mala. Biar kamu lupa semua kehidupan kotamu dan sepenuhnya jadi milikku,” bisik Ridwan dengan suara bergaung yang aneh.
Mala mengangguk lambat, gerakannya kaku bak boneka kayu yang digerakkan benang tak kasat mata. Tangan kaku gadis itu mulai terangkat, hendak menerima cangkir seng dari tangan Ridwan.
“MALA! JANGAN!” jerit Lina tak tahan lagi, mendobrak semak-semak dan berlari ke pelataran.
Rendi, Kevin, Fino, dan Mbah Darmo langsung menyusul pasang badan di depan Lina.
Seluruh warga desa yang sedang berkerumun mendadak memutar kepala serentak. Bola mata mereka memutih di bawah remang cahaya obor, menatap tajam ke arah rombongan Rendi dengan deraman halus dari tenggorokan mereka.
Ridwan menoleh pelan, senyum ramahnya berganti menjadi seringai iblis yang sangat mengerikan. “Kalian terlambat, Orang Kota. Mala sudah memilih tempat ini sebagai rumahnya.”
Pertarungan di Atas Pelaminan Sajen
Pertarungan di Atas Pelaminan Sajen
Posted by , ? Views, Released on October 4, 2026
Malapetaka KKN
KKN yang seharusnya menjadi kenangan indah masa kuliah justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Mala saat dia dijebak oleh Ridwan, pria lokal Desa Sindang yang mengincarnya untuk dijadikan tumbal pengantin desa. Melalui seduhan teh sangit berpelet gaib, ingatan dan kesadaran Mala direnggut perlahan hingga dia lupa pada keluarganya dan tergila-gila pada Ridwan, meninggalkan teman-teman KKN-nya dalam ketakutan dan kebingungan. Berpacu dengan waktu sebelum jiwa Mala terkunci selamanya di malam ritual penutupan, Rendi dan Lina bersama rombongan kecilnya nekat menerobos kegelapan Desa Sindang demi menembus sihir kelam dan membawa pulang putri mereka dari cengkeraman malapetaka tersebut.