Istri Pasif

Istri Pasif
0
(0)

Ponsel Raisa berdering nyaring di atas meja dapur sewaktu dia baru saja selesai mencuci cangkir kopinya. Layar mengedipkan nama Ibu Mertua. Sambil menyunggingkan senyum tipis, Raisa menggeser tombol hijau.
“Halo, Ibu,” sapa Raisa lembut.
“Raisa! Kamu itu gimana, sih?” Suara di seberang sana langsung memberondong tanpa basa-basi. “Ibu dapet cerita dari temen Ibu yang anaknya sekantor sama Johan. Katanya Johan makin terang-terangan sama si cewek sekretaris itu! Kamu jangan pasif banget dong jadi istri pas nyium aroma-aroma perselingkuhan begitu!”
Raisa menghela napas pelan, berpura-pura mengusap dadanya seolah terpukul. “Raisa tahu, Bu… Tapi Raisa harus gimana lagi?”
“Desak Johan buat cepet-cepet resign aja dari kantor itu! Percepat pembukaan pabrik gula yang mau kalian buka dua bulan lagi. Kalau dia udah lepas dari kantor itu dan fokus mengurus bisnis keluarga kita, cewek gatal itu juga bakal hilang sendiri!” cerca ibu mertuanya gemas.
“Aduh, Bu… Raisa nggak mau rencana bisnis kita jadi berantakan cuma gara-gara ini,” potong Raisa dengan nada ragu dan cemas yang dibuat-buat. “Kalau sekarang Raisa tambah-tambahin urusan perselingkuhan ini ke Johan, Raisa takut malah merusak mood Johan. Nanti dia malah makin malas mengurus berkas-berkas pabrik gula, terus proyek kita bisa gagal total.”
Ibu mertuanya mendengus kencang di telepon. “Ya terus kamu mau diam aja diselingkuhi? Kamu itu harus pinter-pinter ambil hatinya lagi! Kalau gitu, hari ini kamu buatkan makan siang yang paling dia suka. Jam makan siang ini, kamu antarkan langsung ke kantor Johan. Tunjukkan ke cewek itu dan semua orang di sana kalau kamu itu istri sah yang perhatian!”
“Anterin makan siang ke kantor, Bu?” Raisa mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja granit dapur.
“Iya! Biar si cewek itu tahu diri, dan Johan juga ingat rumah. Pokoknya kamu berangkat sebelum jam sembilan belas… eh, jam sebelas siang! Jangan membantah Ibu ya, Raisa!”
“Baik, Bu. Nanti Raisa masak terus anterin ke kantor Mas Johan,” ucap Raisa mengalah dengan nada pasrah.
Begitu panggilan terputus, wajah ragu Raisa hilang seketika. Dia menatap layar ponselnya yang kembali gelap.
Saat Raisa sedang memanaskan mobilnya di garasi, ponselnya kembali berdering. Kali ini nama Mas Johan yang tertera di layar.
“Halo, Mas?”
“Sayang, aku cuma mau ngabarin,” suara Johan terdengar santai dari seberang telepon. “Siang ini aku ada meeting di luar, di mall dekat kantor. Oh ya, sekalian mau ngomongin soal berkas legalitas pabrik gula kita. Notaris udah minta kejelasan kepemilikan aset utamanya.”
Raisa tersenyum tipis, matanya menatap tajam ke arah kaca spion. “Mas, kalau untuk kelengkapan dokumen dan aset pabriknya, boleh atas nama Raisa aja nggak? Biar urusan operasional dan manajemen harian nanti tetap kamu yang pegang penuh. Jadi pembagian tugas kita jelas.”
Di ujung telepon, Johan sempat hening sejenak sebelum terkekeh pelan. “Boleh banget, Sayang. Nggak masalah kok. Lagian ‘kan itu emang buat masa depan kita berdua juga.”
“Makasih ya, Mas. Sukses meeting-nya,” ucap Raisa lembut sebelum menutup telepon.
Raisa tahu persis meeting apa yang dimaksud suaminya. Johan paling hanya mengopi santai sambil memanjakan selingkuhannya di mall tersebut. Mengetahui hal itu, Raisa buru-buru menyiapkan bekal makan siang favorit Johan. Dia tahu betul kebiasaan suaminya yang sering lupa makan kalau sedang mengopi.
Sebelum menuju mall tempat Johan dan Fanny berada, Raisa menyempatkan melipir sebentar ke konter kosmetik untuk membeli sebuah lipstik dari merek lokal. Dia memoleskan warna lembut itu ke bibirnya, menampilkan citra istri sederhana dan hemat.
Langkah kaki Raisa membawanya menyusuri area lounge mall yang megah. Dari kejauhan, matanya yang tajam menangkap sosok Fanny yang sedang berjalan manja di samping Johan. Perempuan itu tersenyum lebar sambil mengayunkan piringan kantong belanjaan berwarna putih elegan dengan logo ikonik yang sangat mengenali mata Raisa, sebuah lipstik Dior baru yang baru saja dibelikan Johan.

Rate cerita ini yuk Kak!

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Dia Pikir Dia Pemenangnya

Dia Pikir Dia Pemenangnya

Status: Completed Released: 2026

Di balik citra istri sah teraniaya yang pasrah saat suaminya, Johan, terang-terangan berselingkuh dengan Fanny demi gaya hidup mewah, Raisa sebenarnya menggenggam kendali penuh atas sandiwara manipulatif yang mereka susun bersama. Fanny yang dibutakan oleh rasa menang dan tumpukan barang branded tak pernah menyadari bahwa setiap perhatian, liburan romantis di pantai privat, hingga konflik rumah tangga yang sengaja diumbar hanyalah jebakan manis yang dirancang khusus oleh pasangan suami istri tersebut untuk memuluskan niat terselubung mereka demi kejayaan bisnis pabrik gula yang baru.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plugin Kapsule Corp

You cannot copy content of this page.

Options

not work with dark mode
Reset
Part of PT. King Alin Jaya