Maki Penyelamat, Peluk Sang Pengkhianat

Maki Penyelamat, Peluk Sang Pengkhianat
0
(0)

Matahari baru saja terbit ketika ponselku bergetar hebat. Sebuah pesan singkat dari Kevin masuk, disusul panggilan telepon singkat dari ibunya Farhan. Kevin mengabarkan kalau dia sudah dijemput oleh mertuaku sejak pagi-pagi sekali dan langsung dibawa ke rumah neneknya di kawasan pemukiman padat.
Khawatir terjadi sesuatu pada Kevin, aku langsung memacu mobil menuju rumah mertuaku. Rumah sederhana berukuran kecil itu terletak di gang sempit, rumah yang dulu modal perbaikannya pun menggunakan uang tabungan pribadiku.
Langkahku terhenti tepat di samping jendela samping rumah yang terbuka sedikit. Suara dari dalam ruang tamu terdengar sangat jelas.
“Kevin nggak mau pulang ke rumah ibu lagi, Nek!” suara Kevin melengking garing. “Ibu itu membosankan! Cuma bisa masak sama nyuruh-nyuruh belajar terus. Kevin muak banget sama ibu! Kenapa sih ayah nggak cerai aja sama ibu dari dulu?”
Jantungku seperti disetrum ribuan volt. Kakiku mendadak lemas di atas tanah semen.
“Hush, Kevin jangan kencang-kencang ngomongnya,” goda suara ibu mertuaku, diiringi tawa renyah. “Sabar ya, Sayang. Nanti kalau ayah udah lepas dari ibu, Tante Rinka yang jadi ibu baru Kevin. Tante Rinka ‘kan kaya, sering beliin mainan mahal.”
“Iya! Kevin lebih pengen sama Tante Rinka! Tante Rinka lebih seru, nggak kayak Ibu yang cuma istri rumahan lambat!” sahut Kevin tanpa beban.
Darah di kepalaku serasa mendidih seketika. Anak kandungku sendiri, yang kusuapi setiap hari, yang kuberikan kasih sayang penuh tanpa cela, merindukan kehancuranku bersama wanita lain.
Tanpa mengetuk pintu, aku mendorong pintu kayu rumah itu hingga membentur dinding keras. Brak!
Suara pintu membuat suasana ruang tamu yang tadinya ramai seketika senyap. Ibu mertuaku tersedak air tehnya, sementara Kevin yang sedang memegang robot baru kaget setengah mati melihat keberadaanku di ambang pintu.
“I … Ibu?” gumam Kevin, wajahnya sempat pucat.
Namun, bukannya merasa bersalah atau ketakutan, raut wajah anak berusia lima tahun itu malah berubah penuh kebencian. Pengaruh doktrin mertuaku dan Rinka rupanya sudah merusak mentalnya begitu dalam. Kevin berdiri dan berdiri menantang di hadapanku.
“Ibu ngapain ke sini? Kevin emang benci sama Ibu! Ibu nggak usah pura-pura baik deh! Kevin tahu Ibu cuma bisa diam di rumah, nggak sekeren Tante Rinka! Kevin lebih suka Tante Rinka jadi Ibu Kevin daripada Ibu!” maki Kevin berturut-turut, tanpa ada rasa takut atau ditutup-tutupi lagi.
Mertuaku hanya diam, sama sekali tidak berniat menegur cucunya yang baru saja memaki ibu kandungnya sendiri dengan sangat lancang.
Aku menatap anakku dan mertuaku bergantian. Rasa sakit yang dalam ini sempat mengoyak dadaku, membuat air mata menetes hangat di pipi. Tapi itu cuma berlangsung beberapa detik. Di dalam hatiku, rasa sayang untuk anak yang sudah teracuni ini seketika mendingin.
Ibunya Farhan yang melihat keadaannya mulai lepas kendali dan takut masalah ini sampai ke mana-mana, langsung menelepon Farhan dengan tangan gemetaran. Dia panik karena takut aku akan mengamuk dan menarik semua dana bulanan.
Tidak sampai tiga puluh menit, Farhan datang dengan napas terengah-engah dan wajah sepucat kertas. Dia memandangku yang berdiri kaku di sudut ruangan dengan sisa air mata di pipi.
“Rita … Sayang, kamu … kamu dengar semuanya?” Farhan mendekat, tangannya gemetar hebat hendak menyentuh bahuku. Kepanikan murni memancar dari matanya. Dia tahu betul, kalau aku hancur dan pergi sekarang, seluruh hidup mewahnya akan runtuh seketika.
Aku menghapus air mata dengan ujung jari, menatap Farhan dengan tatapan paling lembut dan paling terluka yang bisa kubuat. Aku menggunakan seluruh kemampuan aktingku untuk memainkan peran istri yang patah hati tapi pasrah.
“Mas… kenapa Kevin bisa ngomong kayak gitu tentang Rinka?” tanyaku dengan suara serak menahan tangis. “Apa benar kamu ada wanita lain? Apa benar aku semembosankan itu buat kamu dan Kevin?”
“Nggak, Rita! Nggak, demi Tuhan nggak!” Farhan langsung berlutut di hadapanku, memegang kedua tanganku erat-erat. Ketakutan luar biasa nampak jelas di mukanya. “Itu cuma kesalahpahaman, Sayang! Rinka itu cuma teman kantor, nggak ada apa-apa! Kevin cuma terpengaruh omongan orang lain!”
Aku menatap matanya dalam-dalam, berpura-pura terenyuh oleh kepanikannya. “Mas, aku hancur banget dengar semuanya hari ini. Tapi … aku sayang sama keluarga kita. Aku mau maafin kamu, Mas. Asal kamu janji, jangan pernah ulangi lagi hubungan kamu sama Rinka. Janji sama aku?”
Farhan melotot seolah tidak percaya aku bisa semudah ini memberikan maaf. Rasa bersalah yang dalam menghantam dadanya bertubi-tubi.
“Janji, Rita! Aku janji! Aku bersumpah nggak akan pernah berhubungan sama Rinka lagi!” bisik Farhan dengan nada bergetar hebat.
Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Farhan mendadak sadar. Wanita di hadapannya ini adalah wanita mulia yang selalu memaafkan, wanita yang menaikkan derajatnya dari orang miskin menjadi pengusaha, wanita yang cinta tulus padanya. Selama ini, hubungannya dengan Rinka cuma nafsu dan kesenangan sesaat yang sangat dangkal. Farhan benar-benar merasa berdosa dan ingin bertaubat seutuhnya untuk Rita.
“Hari ini ‘kan perayaan anniversary kita yang kedelapan,” ucapku pelan sambil tersenyum tipis. “Nggak usah makan di luar ya, Mas. Kita pulang ke rumah aja, kita masak bareng di rumah. Nanti Kevin biarkan dulu di rumah Nenek.”
“Iya, Sayang. Kita pulang ke rumah. Kita masak bareng,” jawab Farhan cepat, matanya berkaca-kaca menatapku penuh penyesalan.
Di sepanjang perjalanan pulang dan saat kami memasak bersama di dapur rumah mewah kami, Farhan memperlakukanku bagai ratu. Dia terus merangkulku, meminta maaf, dan berjanji akan menjadi suami yang baik. Dia beneran merasa bahwa hari ini dia hampir kehilangan harta paling berharganya.
Farhan tidak tahu saja.
Saat aku tersenyum dan menerima suapan makanan darinya di meja makan, ponsel di dalam saku celanaku bergetar pelan. Sebuah pesan dari pengacara Pak Hendra masuk.
[Bu Rita, tim detektif sudah mengamankan rekaman percakapan Farhan dan Rinka tadi malam, serta bukti transaksi penggelapan uang perusahaan sebesar 1,2 miliar ke rekening pribadi Rinka. Semua bukti sudah lengkap dan terkunci aman.]
Aku mengunyah makananku dengan tenang, menatap Farhan yang tersenyum penuh rasa lega di hadapanku.
Nikmatilah rasa tobat dan kebahagiaan palsumu ini, Farhan. Karena makin tinggi kamu merasa diselamatkan, makin hancur jatuhnya kamu minggu depan.

 

Setiap dukungan dari kamu berharga banget buat kelangsungan webnovel ini. Yuk, bantu author tetap berkarya! https://saweria.co/awnovel

Rate cerita ini yuk Kak!

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Ketika Kepergianku Menyadarkannya

Ketika Kepergianku Menyadarkannya

Status: Completed Author: Released: 2026

Rita Sundari, seorang lulusan terbaik PTN ternama yang rela melepas kariernya sebagai peneliti demi menjadi ibu rumah tangga, harus menerima kenyataan pahit saat mendapati suaminya, Farhan, berselingkuh dengan Rinka dan menganggapnya wanita dungu, bahkan sampai menghasut anak kandung serta keluarga mertuanya untuk membencinya. Tanpa mengamuk, logika dingin sang peneliti dalam diri Rita pun bangkit untuk menyusun pembalasan dendam yang presisi bersama sang ayah dan pengacaranya, meruntuhkan seluruh fondasi ekonomi Farhan, menyita aset perusahaan, hingga membawa Farhan dan Rinka ke jeruji besi atas kasus penggelapan dana. Saat Farhan meratapi kehancuran dan kehilangannya di balik penjara, Rita melangkah mantap mengambil kembali hak asuh anak, harta, serta kehormatannya untuk kembali bersinar di dunia penelitian internasional.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plugin Kapsule Corp

Options

not work with dark mode
Reset
Part of PT. King Alin Jaya