Malam itu, setelah seluruh kepalsuan makan malam anniversary kami usai, Farhan berbaring di sampingku. Langkah kakinya terdengar gelisah sejak tadi, seolah ada beban berat yang menghimpit dada. Sebelum mematikan lampu kamar, dia menatapku dengan mata membendung kepanikan.
“Rita, Sayang …” bisik Farhan pelan, menyentuh jemariku yang terasa dingin. “Kamu … kamu nggak cerita masalah tadi pagi kea ayah sama ibu kamu, ‘kan?”
Aku menatap suamiku tanpa berkedip. Di balik tatapan itu, aku tahu persis apa yang paling dia takuti. Dia bukan takut kehilangan cintaku, tapi takut kalau orang tuaku ikut campur. Sebab, sekali saja ayahku bergerak, semua fasilitas mewah, jabatan direktur, dan kenyamanan hidupnya akan sirna dalam sekejap.
Aku menatapnya sambil membiarkan air mata menetes perlahan di pipi, memainkan peran istri penurut yang penuh pengorbanan.
“Nggak, Mas,” jawabku dengan suara bergetar dan tersenyum tipis. “Demi cinta dan keutuhan keluarga kita, aku nggak akan pernah cerita ke ayah sama ibu. Aku cuma mau kita perbaiki semuanya berdua.”
Farhan mendesah lega, mengelus rambutku penuh rasa bersalah, lalu memelukku erat seolah baru saja lolos dari eksekusi mati. Dia sama sekali tidak tahu, pesan singkat sudah kukirimkan ke ayah sejak kemarin.
Hari keempat sejak kejadian itu.
Di balik layar, ayah sudah mulai memainkan perannya. Sebagai pemilik saham mayoritas dan penyokong utama jaringan bisnis perusahaan yang dipimpin Farhan, tidak sulit bagi ayah untuk mengatur skenario. Dalam semalam, ayah membuat proyek utama perusahaan Farhan mengalami krisis keuangan hebat akibat temuan audit internal.
Pagi itu, Farhan pulang ke rumah dengan wajah pucat pasi. Dasinya sudah melorot, tangannya gemetaran saat memegang ponsel.
“Rita, perusahaan krisis hebat!” seru Farhan panik begitu melihatku di ruang tamu. “Ada kerugian proyek besar sampai miliaran rupiah! Parahnya lagi, posisi Rinka yang memegang keuangan proyek itu kena tuduh paling berat. Rinka harus ganti rugi atau dia bakal dilaporkan ke polisi dan masuk penjara!”
Aku pura-pura terkejut, menutup mulutku dengan tangan. “Astaga, Mas! Kok bisa sampai begitu?”
“Aku nggak tahu, Rita! Rinka nangis-nangis minta tolong ke aku. Gimanapun dia ‘kan staf di kantor ….” Farhan langsung merogoh dompet dan mencoba membuka aplikasi perbankan di ponselnya untuk menyalurkan dana bantuan demi menyelamatkan posisi perusahaan dan Rinka.
Namun, gerakan jarinya mendadak terhenti. Wajah Farhan berubah makin membiru.
“Lho? Kenapa transaksi gagal?” gumam Farhan histeris. Dia mencoba mentransfer dari rekening lain, tapi hasilnya tetap sama. “Rekening aku … rekening pribadi dan operasional kantor dibekukan semua? Kenapa bisa begini?”
Ponsel Farhan berdering nyaring. Nama Rinka tertera di layar. Farhan menggeser tombol hijau dengan gemetar dan mengaktifkan pengeras suara.
“Farhan! Kamu gimana sih?” jerit Rinka dari ujung telepon tanpa basa-basi, suaranya melengking penuh amarah. “Uang ganti rugi proyek itu harus dibayar hari ini! Kenapa uang transferan kamu belum masuk juga?!”
“Rinka, tenang dulu … rekeningku mendadak dibekukan bank, aku lagi urus ….”
“Tenang kamu bilang?” potong Rinka kasar, sama sekali tidak ada lagi nada mesra atau kemanjaan yang dulu sering dibanggakannya. “Kamu itu laki-laki nggak berguna ya! Percuma jadi direktur kalau rekening dibekukan aja nggak bisa ngapa-ngapain! Kalau tahu kamu nggak punya uang dan nggak bisa nyelamatin aku, buat apa aku melayani kamu selama ini? Malas aku sama kamu!”
Bip.
Sambungan telepon dimatikan sepihak oleh Rinka.
Farhan membeku di tempatnya berdiri. Ponsel di tangannya hampir terlepas. Topeng wanita manis yang selama ini dipujanya runtuh total, memperlihatkan sosok Rinka yang sebenarnya, wanita parasit yang cuma memanfaatkan hartanya. Saat Farhan jatuh dan tidak bernilai, Rinka tanpa ragu menginjak-injaknya.
Farhan terduduk lemas di sofa, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya berguncang hebat, menyadari betapa bodohnya dia selama ini demi wanita seperti Rinka.
Aku berjalan mendekat, duduk di sampingnya, lalu mengusap punggungnya dengan lembut.
“Mas … kamu nggak apa-apa?” tanyaku penuh kehangatan yang palsu. “Tenang ya, Mas. Apapun yang terjadi sama perusahaan dan uang kamu, aku bakal tetap ada di samping kamu. Cuma aku yang akan selalu peduli sama kamu, Mas.”
Farhan mengangkat kepalanya, menatapku dengan mata memerah dan penuh penyesalan yang mendalam. Dia merangkulku ke dalam pelukannya, menangis sejadi-jadinya di bahuku.
“Maafin aku, Rita … maafin aku ….” bisiknya serak. “Cuma kamu … cuma kamu satu-satunya wanita yang benar-benar tulus peduli sama aku ….”
Di dalam pelukannya, aku tersenyum dingin. Farhan benar-benar percaya bahwa Rinka hancur karena nasib sial dan dirinya selamat karena cintaku. Dia tidak sadar, ini baru hari keempat. Pintu neraka sesungguhnya baru saja dibukakan untuk mereka berdua.
Setiap dukungan dari kamu berharga banget buat kelangsungan webnovel ini. Yuk, bantu author tetap berkarya! https://saweria.co/awnovel