Hari Senin yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Tepat seminggu setelah malam anniversary yang penuh kepalsuan itu.
Semalam, Farhan berlutut di hadapanku, menggenggam tanganku erat-erat sambil berpura-pura menangis. Dia membujukku agar mau meminta bantuan dana puluhan miliar kepada ayah demi “menyelamatkan perusahaan keluarga kami”. Aku tersenyum sangat manis, mengusap kepalanya, dan berjanji akan menyelesaikan semuanya hari ini di kantornya.
Pagi ini, Farhan berangkat ke kantor dengan senyum lebar, yakin bahwa masalahnya akan selesai. Dia tidak tahu, tim pengacara Pak Hendra, pihak kepolisian, serta ayah dan ibuku sudah siap bergerak.
Pukul sepuluh pagi, aku melangkah masuk ke gedung kantor Farhan. Aku tidak lagi mengenakan pakaian santai ibu rumah tangga, melainkan setelan blazer elegan milik Rita Sundari yang dulu, seorang peneliti tangguh, dingin, dan berwibawa.
Di ruang rapat utama, Farhan sudah menunggu bersama Rinka yang duduk gelisah. Begitu melihatku masuk membawa amplop cokelat tebal, mata Farhan berbinar lega.
“Rita! Kamu datang, Sayang!” Farhan berdiri hendak memelukku. “Mana dokumen persetujuan bantuan dana dari ayahmu?”
Aku melangkah mundur menghindari sentuhannya. Aku meletakkan amplop cokelat itu di atas meja rapat yang panjang.
“Buka aja sendiri, Mas,” ucapku tenang, tanpa nada emosi sedikit pun.
Farhan yang kebingungan langsung merobek amplop tersebut. Namun, bukannya surat perjanjian dana, lembaran yang keluar adalah berkas gugatan cerai, surat penarikan seluruh aset dan saham 80 persen perusahaan atas nama Rita Sundari, serta surat pengosongan rumah mewah kami dalam waktu 1×24 jam.
“Ri … Rita? Apa-apaan ini?!” Farhan menjerit panik, wajahnya seketika pucat pasi. “Kamu … kamu bilang mau bantu aku? Kamu bilang kamu maafin aku?”
“Aku maafin kamu buat kasih aku waktu mengumpulkan bukti, Farhan,” balasku dingin.
Brak!
Pintu ruang rapat terdorong keras. Pak Hendra masuk bersama empat orang anggota kepolisian berpakaian dinas dan dua staf auditor independen. Di belakang mereka, ayah berdiri dengan tatapan tajam membunuh.
“Saudari Rinka dan Saudara Farhan,” tegas salah satu petugas polisi. “Atas laporan dugaan penggelapan dana perusahaan sebesar 1,2 miliar rupiah dan manipulasi laporan keuangan, Anda berdua kami amankan untuk pemeriksaan.”
Rinka histeris, menjerit dan mencoba menyalahkan Farhan. “Bukan aku! Farhan yang nyuruh aku! Dia bilang mau nikahin aku kalau aku bantu sembunyiin uangnya!”
“Rinka, kamu jangan asal bicara!” bentak Farhan panik, lalu berlutut di depanku, menangis sesenggukan membenturkan kepalanya ke lantai. “Rita! Tolong aku, Rita! Aku khilaf! Cuma kamu yang aku cintai! Jangan hancurkan aku kayak gini!”
Aku menatapnya dari atas dengan tatapan hina. “Kamu yang menghancurkan dirimu sendiri, Farhan. Dulu kamu bukan siapa-siapa, dan mulai hari ini, kamu kembali jadi bukan siapa-siapa.”
Setiap dukungan dari kamu berharga banget buat kelangsungan webnovel ini. Yuk, bantu author tetap berkarya! https://saweria.co/awnovel